Laporkan Masalah

Analisa pengaruh penerbitan obligasi subordinasi terahdap struktur modal PT Bank DKI dan terhadap biaya dana

SUPRIYONO, Bambang, Ainun Naim, Prof. Dr. MBA

2009 | Tesis | S2 Magister Manajemen

Salah satu tugas penting dalam pengelolaan modal bank adalah menjamin ketersediaan modal yang sesuai dengan tingkat aktivitas bank dan tingkat kecukupan modal yang diinginkan. Meskipun demikian upaya untuk mendapatkan tambahan modal harus memperhatikan ketentuan permodalan yang berlaku, agar sumber-sumber modal itu dapat diakui sebagai modal yang memenuhi syarat (eligible capital), salah satu cara yang bisa digunakan oleh suatu bank dalam menambah modalnya adalah dengan menerbitkan obligasi subordinasi. Ada beberapa alasan yang menyebabkan PT. Bank DKI menerbitkan obligasi subordinasi pada tahun 2008 yaitu : pertama, untuk mengurangi mismatch antara sumber pendanaan jangka panjang dengan penggunaan dana jangka panjang, dimana pada saat ini masih cukup besar porsi pendanaan yang berjangka pendek (seperti deposito), namun ditempatkan pada investasi jangka panjang sehingga hal ini sangat berisiko bagi PT. Bank DKI, kedua , untuk mengurangi tingkat ketergantungan sumber dana pada Pemprov DKI Jakarta, maka diperlukan pendanaan eksternal diluar dana yang dari Pemprov DKI Jakarta selaku pemilik PT. Bank DKI, ketiga, sesuai rencana bisnis PT. Bank DKI diperlukan pendanaan guna mencapai target ekspansi kredit sebesar Rp.2,4 triliun pada tahun 2008, keempat , meningkatkan permodalan sehingga CAR PT. Bank DKI tetap diatas ketentuan minimal yang ditetapkan Bank Indonesia, kelima , Obligasi Subordinasi merupakan instrumen hutang, maka tidak akan mengurangi proporsi kepemilikan dari pemegang saham. Dampak dari penerbitan obligasi adalah bersifat positif dan negatif. Positif : pertama, peningkatan jumlah modal PT. Bank DKI yaitu bahwa modal PT. Bank DKI per 31 Desember 2007 (sebelum penerbitan obligasi subordinasi) sebesar Rp. 767.980 juta dan per 30 Juni 2008 (setelah penerbitan obligasi subordinasi) meningkat menjadi Rp. 1.175.597 juta (meningkat sebesar Rp. 325 milyar) atau meningkat sebesar 53 %. kedua, peningkatan Capital Adequacy Ratio (CAR) yaitu nilai CAR PT. Bank DKI pada akhir tahun 2007 dengan menghitung risiko kredit sebesar 15,09 % dan jika menghitung risiko kredit dan risiko pasar sebesar 12,87 %, sedangkan CAR per 30 Juni 2008 dengan menghitung risiko kredit sebesar 20,40 % dan jika menghitung risiko kredit dan risiko pasar sebesar 15,61 %. Negatif : peningkatan atas biaya dana yang dihimpun oleh PT. Bank DKI karena bunga yang diberikan atas obligasi subordinasi termasuk relatif mahal. Data menunjukkan bahwa biaya dana per 31 Desember 2007 (sebelum penerbitan obligasi subordinasi) sebesar 5,37 % dan biaya dana per 30 Juni 2008 (setelah penerbitan obligasi) sebesar 7,31 %, namun peningkatan tersebut bukan hanya disebabkan oleh penerbitan obligasi subordinasi tetapi juga karena adanya perubahan komposisi dana lainnya.

One of important duty in bank capital maintenance is to guarantee capital sufficiency which equal to bank activity level and capital sufficiency level that needed. Although the effort to get additional capital must have to attend current capital rules, so those capital sources can be accepted as capital that fulfill the purpose (eligible capital). One way can be used by the Bank to gain it’s capital is to issuer subordinated obligation. There are several reasons that caused PT. Bank DKI issuing subordinated obligation in year 2008: first, to reduce mismatch between long term funding resources with long term funding utility. Which is this time, there are still big enough funding in short term unding (such as Deposit account), but replaced in long term investment, so it’s really risky for PT. Bank DKI. Second, to reduce funding level dependency sources to Pemda DKI Jakarta, so external funding outside Pemda DKI Jakarta’s fund as the owner of PT. Bank DKI required. Third, according to business plan of PT. Bank DKI, there are more funding requirement to achieving credit expand which are Rp.214 trillion in year 2008. Fourth, to raise capital, so PT Bank DKI’s CAR still above BI minimum rules. Fifth, subordinated obligation is liability instrument, that will not reducing the stake holder proportion. The Impact of Obligation issuer can be positive and negative. The Positive impact : First, the increasing of Bank DKI’s capital which are Rp767.980 for Dec 31st 2007(before Subordinated obligation published)become Rp.1.175.597 for June 30th 2008(after Subordinated obligation published) it’s about Rp.325 bilion increased, or about 53%. Second, CAR (Capital Adequacy Ratio) value improvement of PT. Bank DKI in the end of year 2007 with counting credit risk was about 15.09% and if counting credit risk and market risk was about 12.87%, meanwhile CAR for June 30th 2008 with counting credit risk was about 20.40% and if counting credit risk and market risk was about 15.61%. The Negative impact : The improvement of funding cost which is collected by PT. Bank DKI because the interest from subordinated obligation that given is quite expensive. Data showing that funding cost per Dec 31st 2007 (before subordinated obligation published) was about 5.37% and funding cost for June 30th 2008(after subordinated obligation published) was about 7.31%. However,that improvement was not just because of subordinated obligation issuer, but also because of other funding composition change improvement.

Kata Kunci : Modal,Obligasi subordinasi,Capital adequacy ratio,Biaya dana, Capital, Subordinated Obligation, Capital Adequacy Ratio, Cost of Fund.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.