Laporkan Masalah

Pariwisata dalam tinjauan kritis filsafat ilmu

SARBINI, Prof. Dr. Koento Wibisono

2009 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Sebagai negara yang kaya akan potensi wisata, baik berupa kekayaan alam, budaya, kesenian tradisional, dan nilai-nilai budaya, kekayaan wisata Indonesia belum dikelola secara serius oleh pemerintah maupun komunitas yang berkecimpung di bidang wisata. Keterpurukan akibat krisis yang melanda bangsa Indonesia hingga kini belum bisa bangkit dan terkesan kurang kreatif untuk segera melepaskan diri dari keterpurukan yang berkepanjangan ini. Bangsa ini selalu sibuk berfikir kekayaan sumber alam; langkah yang ditempuh dengan pendekatan mikro atau makro dan sebagainya, sementara pariwisata yang jelas-jelas menghasilkan devisa secara langsung tidak mendapat perhatian serius. Belum lagi problem pariwisata yang menyangkut ranah teknis telah selesai, pariwisata telah dihadapkan pada problem keilmuan yang belum mapan. Hingga kini pariwisata dipandang sebagian kalangan akademisi sebagai disiplin multidisipliner. Implikasi dari paradigma multidisiplin dalam pariwisata yang dicangkokan begitu saja pada keilmuan lain atau paling ekstrim melebur pariwisata dengan keilmuan lain. Akibatnya, pariwisata kehilangan akar dan filosofisnya atau basis keilmuan dan karakteristiknya. Oleh karana itu diperlukan penataan ulang atau rekonstruksi dengan pendekatan filsafat ilmu. Di samping itu, penulis menggunakan pendekatan paradigma post-positivistik. Paradigma keilmuan Thomas Kuhn dan Imre Lakatos dengan Program Risetnya, untuk bisa menemukan realitas atau hard core keilmuan pariwisata. Hasil penelitian tesis ini menunjukkan bahwa hakikat pariwisata berupa bangunan realitas yang dinamis. Basis ontologis ini terbangun karena karekteristik perjalanan yang berbeda dan beragam. Keunikan dalam komponen-komponen dasar pariwisata di atas jelas menggambarkan bahwa ilmu pariwisata mempunyai basis ontologi yang bersifat dinamis. Karena itu dalam dinamika yang paling esensi adalah keamanan, keselamatan dan kenyamanan. Model epistemologi ilmu pariwisata yang dikategorikan sebagai ilmu-ilmu sosial-humaniora, metode yang tepat keilmuannya adalah hermeneutika. Dalam perjalanan terbentuk relasi intersubyektivitas juga terdapat sign berupa kata-kata, isyarat, fakta, peristiwa, dan mind-affected structure. Melalui semua sign itulah humaniora dapat menangkap dunia dalamnya, begitu pula, hanya sign-lah yang membuat Humaniora berharga untuk disebut ilmu. Epistemologi dalam ilmu pariwisata terdapat pada model intersubyektivitas antara wisatawan dengan wisatawan lainnya melalui sikap ekspresif dunia batin (lebenswelt), wisatawan dengan alam melalui sikap ekspresif dunia obyektif, wisatawan dengan benda-benda budaya dengan sikap praktis-estetis. Dimensi etis tidak bisa dipisahkan darinya. Pergumulan wisatawan dan interaksinya dengan lingkungan alam dan budaya syarat dengan nilai-nilai etis. Dimensi filosofis pariwisata memberi wawasan akan eksistensi pariwisata itu sendiri. Khususnya pariwisata dalam konteks Indonesia yang sama sekali terkait dengan nilai-nilai luhur sesuai dengan budaya lokal.

As a country which is rich in tourism potential, such as natural resources, cultures, traditional arts, and cultural values, Indonesia is not managed yet seriously by both the government and the community involved in tourism. The crises happened several years ago lead in less creativity among Indonesian. People in Indonesia are busy thinking about how to exploit natural resources; either using micro or macro approach, while tourism sectors which really offers direct income doesn’t get a serious attention. Moreover, while the tourism problems related to technical things are not solved yet, it also has to face problems related to tourism knowledge. So far, tourism is regarded as a multidisciplinary science by academicians. The implication of this paradigm makes this discipline is usually combined with others sciences. Consequently, the tourism lacks of its roots and philosophy or its scientific basis and characteristics. Therefore, rearrangement or reconstruction using psychological science is needed. Besides, the writer uses post-positivistic paradigm approach; scientific paradigm of Thomas Kuhn and Imre Lakatos with their Research Program in order to find the reality or the hard core of tourism science. The finding shows that tourism is a realistic and dynamic building. This ontology base is established because of different and various trip characteristics. The unique basic components mentioned previously clearly explain that tourism science has ontology basis which is dynamic. Thus, security, safety, and comfort become the most essential dynamics. The epistemology model of tourism science which is categorized as social humanism sciences is hermeneutics. In having the tour, inter subjectivity relations including signs such as utterances, signals, facts, events, and mind-affected structure happen. Through all those signs, humanism catches the world inside, and thus the signs make humanism is eligible to be regarded as a science. Epistemology in tourism science can be found in inter subjectivity model among one tourist into other tourists through lebenswelt expressive attitude, and among the tourists and nature through objective expressive attitude, and among the tourists and cultural things through practical-esthetical attitude. The ethical dimension cannot be separated from it. The interaction between tourists and the nature as well as the culture is full of esthetical values. The philosophical dimension of tourism gives an understanding of the tourism existence itself, especially tourism in Indonesian which is not related at all to cultural values based on indigenous local.

Kata Kunci : Ilmu pariwisata,Dinamis,Filsafat pariwisata, Tourism science, Dynamic, Tourism philosophy


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.