Laporkan Masalah

Telaah kritis filsafat ilmu atas paradigma interkoneksitas keilmuan

ANAS, Muhammad, Dr. M. Mukhtasar Syamsuddin

2009 | Tesis | S2 Ilmu Filsafat

Problem dikotomi keilmuan dan paradigma single entity, terisolir antar rumpun keilmuan, khususnya ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu modern sangat menghantui peradaban kini. Oleh karena itu diperlukan pendekatan interkoneksitas, sensitivitas, dialog antar keilmuan. Era sekarang bukanlah era ideologis, disiplin ilmu agama (Islam) misalnya menyendiri dan steril dari kontak dan intervensi ilmu-ilmu sosial, humaniora dan ilmu-ilmu kealaman. Begitu pula bukanya era di mana disiplin ilmu sosial dan humaniora juga menyendiri dan terlepas dari kontak keilmuan agama, dan begitu seterusnya. Problem inilah yang mengharuskan penulis untuk melacak sistem pengetahuan yang menjadi rujukan otoritatif keilmuan, baik dalam tradisi keilmuan di dunia Islam maupun Barat. Penulis juga berusaha menelusuri model interkoneksitas keilmuan, baik dalam ilmu-ilmu agama maupun dalam ilmu-ilmu modern. Dengan menggunakan pendekatan epistemologi postkolonial, sebuah pendekatan yang mencoba menjembatani ruang dikotomik nalar dan berbagai ketegangan dengan dimunculkannya suatu ruang tengah. Ruang tengah ini harus terus berjalan, sebab jika ruang ini berhenti maka interpretasi akan bersifat tunggal. Dalam ruang ini, penulis mengandaikan untuk bisa berinterkoneksitas. Penulis mencoba menelaah gagasan interkoneksitas keilmuan yang digagas oleh Amin Abdulah dan melakukan kritik epistemologis atas penadasaran filosofisnya serta pola interkoneksitas ketiga hadarah, yakni hadarah an-nas, hadarah al-ilm, dan hadarah al-falsafah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dilihat dari perspektif filsafat ilmu, gagasan interkoneksitas keilmuan pada level ontologis adalah interkoneksitas itu sendiri, yakni asumsi-asumsi dasar dalam setiap rumpun keilmuan sangat mungkin untuk dinterkoneksikan, didiskursuskan dan didialogkan. Seperti obyek kajian ilmu-ilmu sosial yang mencakup relasi antar human sangat mungkin terkait dengan obyek kajian ilmu-ilmu agama yang berbicara mengenai pergaulan antar manusia. Sementara pada ranah epistemologis gagasan interkoneksitas keilmuan terjadi ketika antar disiplin menggunakan kerangka metodologi dari rumpun keilmuan lain. Pada level aksiologis, gagasan interkoneksitas keilmuan mengarahkan pada nalar sensitif, awareness, dan tindakan emansipatoris. Menurut penulis, diperlukan arah pengembangan paradigma interrelasi-kritis sebagaimana penulis tawarkan dengan meminjam gagasan Ignas Kleden yang dimodifikasi: Hadarah an-nas mencegah hadarah al-ilm dari bahaya naturalistik; dan juga mencegah hadarah falsafah dari rasionalisme kritis yang tanpa arah. Sementara hadarah al-ilm mencegah hadarah nas dari bahaya subyektivisme yang timbul karena interpretasi yang terlalu dogmatis; dan juga mencegah hadarah falsafah dari bahaya sosio analisis yang terlalu ideologis. Sedangkan hadarah falsafah mencegah hadarah nas dari bahaya kebutaan persepsi bahwa ada perbedaan antara dunia obyektif dan kesadaran subyektif dalam menafsirkan teks-teks keagamaan; dan juga mencegah hadarah al-ilm dari mitos-mitos ilmiah.

An issue of scientific dichotomy and single identity paradigm, isolated inter-scientific group, particularly religious sciences and modern sciences really appears in today’s civilization. Hence, it is necessary to built interconnection and sensitivity approach, and inter-science dialogue. It is not ideological era in which religious sciences (e.g. Islam) are purely separated from social, humanistic and natural sciences and vice versa. It is the issue that forces the author to research system of knowledge as reference of science within scientific tradition either in Islamic or Western civilization. Otherwise, the author also researches model of scientific interconnection either in religious sciences or modern sciences. For this research, the author uses postcolonial epistemology approach, an approach to overcome dichotomist reason and several contradictions because of existence of a middle place. The middle place must go on, because if it gives up, an interpretation will be monolithic. The author assumes that interconnection can occur in this place, which core of the interconnection is actually existence of dialogue. The author attempts to observe an idea of scientific interconnection formulated by Amin Abdullah. The author also tries to criticize epistemology of the Amin’s idea concerning philosophical basis, and interconnection pattern of his three hadarahs: hadarah an-nas, hadarah al-ilm and hadarah al-falsafah. A result of the research shows that in perspective of philosophy of science, the idea of scientific interconnection on ontological level is the interconnection itself. It means that basic assumptions within each scientific group are very possibly connected, and discoursed and discussed. For instance, an object of the study of social sciences including relation among humankinds is very possibly dialed with an object of the study of religious sciences as concerns relation among humankinds. Meanwhile, on the level of epistemology, the scientific interconnection occurs when every scientific discipline uses methodological frame from other scientific groups. Finally, on the level of axiology, the scientific interconnection leads to sensitive reason, awareness and emancipation behavior. According to the author, it is necessary to determine purpose of development of critical-interrelation paradigm as the author offers in line with Ignas Kleden’s idea: first, hadarah an-nas prevents hadarah al-ilm from danger of naturalism; and hadarah an-nas also prevents hadarah al-falsafah from no purposely critical rationalism. Second, hadarah al-ilm prevents hadarah an-nas from danger of subjectivism which appears because of too dogmatic interpretation; and hadarah al-ilm also prevents hadarah al-falsafah from danger of too ideologically social analysis. Third, hadarah al-falsafah prevents hadarah an-nas from blind perception that there are differences between objective matter and subjective awareness within interpreting religious texts; and hadarah al-falsafah prevents hadarah al-ilm from scientific myths.

Kata Kunci : dikotomi; interkoneksitas; dialog; ruang tengah; interrelasi-kritis, dichotomy; interconnection; dialogue; middle place; critical-interrelation


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.