La Galigo episode Cinta Terlarang Sawerigading kepada We Tenriabeng suntingan teks dan terjemahan :: Tinjauan kritik sastra feminis
BASIAH, Dr. Kun Zachrun Istanti, SU
2009 | Tesis | S2 Ilmu SastraTesis ini berjudul “Citra Perempuan Bugis dalam La Galigo episode Cinta Terlarang SawÄ“rigading kepada WÄ“ TenriabÄ“ng (CTSWT), Suntingan Teks dan Terjemahanâ€. Kajian ilmiah yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan menyajikan suntingan teks CTSWT, terjemahan serta mengemukakan aspekaspek feminisnya. Untuk mencapai tujuan itu digunakan tiga teori yaitu filologi, teori terjemahan, dan teori kritis sastra feminis. Teori filologi yang digunakan adalah teori filologi yang mengarah kepada filologi modern yang menganggap tiap-tiap teks sebagai sebuah kreativitas dari penyalin. Teks CTSWT dalam kajian ini merupakan hasil kreativitas (kreasi) dari seorang penyalin. Metode pemilihan naskah dasar yang digunakan adalah metode landasan (legger). Dalam penelitian ini ditemukan tiga buah naskah La Galigo episode CTSWT yakni naskah NBG188 jilid VII dan VIII (koleksi perpustakaan Leiden), naskah Rol 14 no.2 koleksi Arsip Nasional dan Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan (YKSS), dan naskah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jarahnitra) Sulawesi Selatan. Naskah yang dipilih sebagai dasar kajian adalah naskah koleksi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (Jarahnitra). Penetapan naskah ini sebagai dasar kajian, selain naskahnya terjangkau juga karena kondisi fisik naskah dan materi teksnya dalam keadaan baik. Dengan demikian, naskah ini dianggap unggul kualitasnya (mengandung bacaan yang paling baik dan materi teksnya sesuai dengan masalah penelitian). Sementara itu, keberadaan naskah lain tetap dipakai dan digunakan secara bersama-sama sebagai pembanding dari naskah acuan. Kajian filologi yang telah dilakukan terhadap teks La Galigo episode CTSWT ini menghasilkan suntingan teks dan terjemahan. Selanjutnya, hasil suntingan teks tersebut digunakan sebagai dasar pijakan analisis tentang fungsinya, kedudukannya, dan aspek feminis dari karya ini. Suntingan teks yang tersaji pada Bab III merupakan hasil suntingan teks edisi kritis yang direkonstruksi. Selanjutnya penerjemahan, penerjemahan di sini dipahami sebagai penerjemahan semantik yakni penerjemahan berdasarkan makna (makna konteks), bukan makna kata demi kata. Hasil terjemahan sebagaimana tersaji dalam Bab III merupakan pengalihan ide atau amanat dari bahasa Bugis ke bahasa Indonesia. Dengan demikian, suntingan teks dan terjemahan CTSWT telah tersaji secara ilmiah dan terbuka bagi penelitian sastra. Kajian sastra terhadap teks CTSWT menggunakan perspektif feminis bertujuan untuk mengungkapkan aspek-aspek feminis yang terkandung di dalam karya ini, yakni “citra perempuan†dalam kaitannya dengan nilai-nilai Budaya masyarakat Bugis yang disebut pangngadereng. Fokus perhatian dalam kajian ini adalah peran dan potensi perempuan dan isu-isu gender seperti, subordinasi, dan stereotip terhadap perempuan.
This thesis is entitled “La Galigo episode Cinta Terlarang SawÄ“rigading to WÄ“ TenriabÄ“ng (CTSWT), A Text Editing and Translation: A Review of Feminist Literature Critiqueâ€. This scientific study undergone in this research aims to deliver an editing and translation of CTSWT text, and to reveal its feminist aspects. To reach that goal, it is used three theories, such as theory of philology, translation, and feminist literary criticism. The philology theory used in this study led to a modern philology, which considered each text as a part of the writer creativity, so that CTSWT text in this study was the result of the writer creativity. The method of selecting base manuscript used in this study is the method of landasan (legger) and method edisi kritis dengan penyesuaian EYD . In this research, it is founds three La Galigo manuscripts of CTSWT episode. They are NBG188 manuscript volume VII and VIII (The library of Leiden collection), Rol 14 no. 2 manuscript, a collection of National Archive and the Foundation of Culture South Sulawesi (YKSS), and manuscript collection of the Center of History and Traditional Values Study (Jarahnitra) South Sulawesi. The manuscript selected as a based study is manuscript collection the Center of History and Traditional Values Study (Jarahnitra) South Sulawesi. Determining this manuscript as a base study is not only it is reachable, but the physical condition of manuscript and text material is also in a good condition. This manuscript thus is assumption as a high-quality manuscript (it means this the manuscript contains the best reading material and appropriated text material towards the research problems). Besides, the existence of the other manuscripts is still the used concurrently as a comparison from referred manuscript. The study of philology has undergone to La Galigo text of CTSWT episode results text editing and translation. The result of text editing then is use as a base step towards a work analysis of its function, position, and feminist aspect. Text editing delivered in chapter III constitutes a result of text editing of a reconstructed critical edition. Next, the translation here is perceived as a semantic translation, which translates the text based on signification (contextual signification), not word-by-word significance. The result of translation as delivered in chapter III as a change of idea and message from Bugis language to Indonesian language. The editing and translation of the CTSWT text have delivered proven scientifically and opened for literally research. A literary study towards CTSWT text uses feminist perspective in order to reveal feminist aspects contained in this work. The Bugis Women and image of woman in relation to values of Bugis culture milieu named pangngadereng. The focus in this study is a role and potency, position of Bugis woman such as subordination and stereotypes.
Kata Kunci : Bugis,Perempuan,Nilai,nilai budaya,Pangngadereng,women, cultural values