Nilai budaya dalam Petatah-petitih Adat Minangkabau :: Analisis sosiologi sastra
AFRITA, Eni, Dr. Fadlil Munawwar Manshur, MS
2009 | Tesis | S2 Ilmu SastraObjek formal penelitian ini adalah nilai budaya dalam teks naskah Petatah-petitih Adat Minangkabau (PAM), yaitu salah satu bentuk sastra klasik Minangkabau. PAM sebagai sastra klasik Minangkabau banyak mengandung nilai humanis dan historis yang sudah mulai tersingkirkan oleh modernisasi. Apabila hal ini dibiarkan maka nilai-nilai yang terkandung dalam teks PAM hanya akan tinggal kenangan. Padahal, nilai-nilai tersebut merupakan kato-kato (kata-kata) nenek moyang orang Minangkabau yang harus tetap dilestarikan karena isinya dapat menuntun masyarakatnya dalam bertingkah laku dan masih relevan dengan kehidupan saat ini. Secara praktis, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam teks PAM dengan menggunakan teori sosiologi sastra. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedudukan dan fungsi teks PAM dalam masyarakat Minangkabau. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan menjadi akumulasi ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sastra. Setidaknya, ikut serta memberikan sumbangan berupa penggalian warisan budaya masa lampau melalui teks sastra klasik, yaitu PAM. Teori sosiologi sastra yang dipilih untuk dijadikan pisau analisis dalam penelitian ini adalah teori sosiologi sastra yang dikemukakan oleh Ian Watt. Teori ini menjadi tumpuan utama dalam mengkaji permasalahan yang telah dirumuskan. Dari tiga perspektif yang ditawarkan oleh Ian Watt, hanya pada bagian ketiga yang dijadikan dasar mengkaji teks naskah PAM. Perspektif yang dimaksud adalah fungsi sosial sastra. Adapun, pembahasan terhadap kebudayaan Minangkabau mengacu kepada unsur-unsur kebudayaan universal yang dikemukakan Koentjaraningrat. Teknik yang digunakan untuk memperoleh data yang dijadikan bahan kajian dalam penelitian ini adalah teknik studi kepustakaan atau dokumentasi dengan mengumpulkan dan mempelajari data serta informasi sebanyak mungkin. Semua sumber bacaan yang di dalamnya terdapat masalah yang diteliti, dibaca dan dicatat. Berdasarkan teori tersebut di atas, diperoleh hasil penelitian bahwa Pertama, Kebudayaan Minangkabau meliputi tujuh unsur kebudayaan. Kedua, dalam teks PAM, ditemui lima masalah dasar yang menentukan orientasi nilai budaya masyarakat Minangkabau. Ketiga, PAM bagi masyarakat Minangkabau memiliki beberapa fungsi sosial. 1) PAM mempunyai kedudukan sebagai karya sastra, kata-kata adat Minangkabau, dan sebagai hukum serta undang-undang. 2) PAM berfungsi sebagai pedoman dalam bertingkah laku, kata-kata nasihat atau petuah, kata-kata arif dan sindiran, sebagai bahasa diplomasi, dan sebagai kontrol sosial bagi masyarakat Minangkabau. 3)PAM sebagai kata-kata adat, mengajarkan sesuatu dengan jalan menghibur. Artinya, PAM bagi masyarakat Minangkabau merupakan kata-kata adat yang harus dipatuhi selama tidak bertentangan dengan agama Islam yang mereka anut.
Formal object of this research was cultural value in the manuscript text of Petatah-petitih Adat Minangkabau (PAM), a form of humanic and historic classic literature that has begun to be set aside by modernization. If it is ignored, values contained in PAM text will be just a memory. In fact, such values are kato-kato (words) of Minangkabau ancestors that must be preserved because its content may guide people in behaving and still be relevant to recent life. Theoretically, the aimed of this research was to reveal cultural values that were contained in PAM text using theory of literature sociology. Another aimed was to know position and function of PAM text in Minangkabau society. Practically, this research is expected to be accumulation of sciences, especially literature science. At least, it contributes to unearthing past cultural inheritance through classic literature text. One of cultural inheritance meant is Minangkabau’s classic literature, PAM. Theory of literature sociology were chosen to be main method in this research was theory of literature sociology that was suggested by Ian Watt. This theory was being main focus in review the formulated problem. From three perspectives proposed by Ian Watt, the third part only was being basis of reviewing PAM manuscript text. The meant perspective was social function literature. As for, discussion of Minangkabau culture elements suggested by Koentjaraningrat. The method used to obtain data as review material of this research was literature or documentation study by collecting and learning data and information as many as possible. All literature sources from which the research matter originated were read and recorded. The result of this research was obtained that is First, Culture of Minangkabau cover seven culture elements. Second, in text of PAM, met five. problems of base determining cultural value orientation society of Minangkabau.. Third, PAM to society of Minangkabau have some social functions: 1) PAM have positions as literature work, Minangkabau’s custom words and as law as well as act. 2) PAM is functioned as behavioral guidance, admonition or advice, wise and allusionic words, as diplomation language, and as social control over Minangkau people. 3) PAM as custom words taught something in cheer up way. It means, that for Minangkabau people, PAM is custom words that must be followed as long as it is not contradictory with Islamic religion that they adhere to.
Kata Kunci : PAM, nilai budaya, Analisis Sosiologi Sastra, cultural value, Literature Sociology Analysis