Optimasi usahatani lidah buaya (Aloe vera) di Kota Pontianak
HIDAYAT, Rakhmad, Dr. Ir. Slamet Hartono, M.Sc
2009 | Tesis | S2 Ekonomi PertanianPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui : (1) tingkat pendapatan usahatani lidah buaya di Kota Pontianak, (2) alokasi sumberdaya optimal usahatani lidah buaya di Kota Pontianak, (3) pola tanam yang paling optimal pada usahatani lidah buaya di Kota Pontianak (4) perubahan harga input dan harga output terhadap alokasi sumberdaya optimal, dan (5) faktor – faktor yang mempengaruhi produksi dan risiko usahatani lidah buaya di Kota Pontianak. Daerah penelitian ditentukan secara purposive di Kota Pontianak dengan pertimbangan bahwa Kota Pontianak merupakan pusat pengembangan komoditas lidah buaya secara lokal dan nasional dan telah menjadi kebijakan komoditas unggulan daerah Kalimantan Barat. Populasi penelitian terdiri dari seluruh petani lidah buaya pola multikultur dan pola monokultur yang berjumlah 58 petani yang dikelompokkan menjadi 4 pola tanam. Untuk pola tanam multikultur terdiri atas 3 pola tanam berdasarkan perbandingan luas lahan yang diusahakan, yaitu pola A (lidah buaya > pepaya), pola B (lidah buaya = pepaya) dan pola C (lidah buaya < pepaya). Sedangkan untuk pola monokultur dikelompokkan sebagai pola D. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan, analisis Quadratic Risk Programming (QRP), dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan petani lidah buaya pola monokultur lebih kecil dibandingkan usahatani lidah buaya pola multikultur. Berdasarkan hasil uji optimasi dengan menggunakan QRP diketahui bahwa dari rata-rata luas lahan total sebesar 1,04 ha, aktivitas yang muncul pada pola tanam optimal yakni usahatani lidah buaya multikultur pola A seluas 0,04 ha, pola tanam B seluas 0,90 ha, pola tanam C seluas 0,02 ha dan pola tanam monokultur D seluas 0,03 ha. Pola usahatani optimal yang dipilih adalah pola tanam optimal tertinggi, yaitu pola tanam B seluas 0,90 ha. Hasil analisis optimasi memberikan informasi bahwa sumberdaya lahan dan tenaga kerja merupakan sumberdaya yang masih berlimpah atau berlebihan, sedangkan sumberdaya modal merupakan sumberdaya yang terbatas. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa terjadinya perubahan harga input dan harga output tidak merubah alokasi sumberdaya dan pola usahatani optimal. Analisis regresi linier berganda memperlihatkan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh meningkatkan produksi usahatani lidah buaya adalah luas lahan, tenaga kerja, pola tanam A, pola tanam B dan pola tanam D, sedangkan faktor-faktor yang berpengaruh menurunkan risiko usahatani lidah buaya adalah pupuk, pola tanam A dan pola tanam D.
Research was conducted to determine: (1) income level of aloe vera farming system in Pontianak, (2) optimal allocation resources of aloe vera farming system in Pontianak, (3) the best optimal farming system of aloe vera farming system in Pontianak (4) changing in input prices and output prices on the allocation of resources and optimal farming system pattern and (5) factors affected production and the risk of aloe vera farming system in Pontianak. Research area was determined purposively in Pontianak with the consideration that Pontianak is the central development of aloe vera commodities locally and nationally and has become a commodity winning policy area of West Kalimantan. Research population consisted of all aloe vera farmers with multiculture pattern and monoculture pattern that consist of 58 farmers and grouped into 4 patterns. For multiculture pattern consists of 3 patterns based on a comparison of area, the pattern A (aloe vera > papaya), pattern B (aloe vera = papaya) and pattern C (aloe vera < papaya). While for the monoculture patterns are grouped as a pattern D. Analysis used in this research is the analysis of income, quadratic risk programming (QRP) analysis, and multiple linear regression analysis. Results of research show that farmers' income of aloe vera farming system with monoculture pattern smaller than aloe vera farming system with multiculture pattern. Based on the optimation tests result that use QRP, known that from the average total area of 1.04 ha, activity which appear on the optimal planting pattern is aloe vera farming system with multiculture pattern A area of 0.04 ha, the planting pattern B area of 0.90 ha, planting pattern C area of 0.02 ha and the planting pattern of monoculture D area of 0.03 ha. Optimal farming system pattern that selected is the highest optimal planting pattern, the pattern of plant B with area 0.90 ha. The result of optimation analysis provides information that the land resources and labor resources are still abundant or excessive, and capital resources are limited resources. Sensitivity analysis results show that the occurrence of changes in input prices and output price does not change the allocation of resources and optimal farming system patterns. Multiple linear regression analysis showed that the factors that affect increase production of aloe vera farming system is area, labor, planting patterns A, B, and D, while the factors that affect reduce risk in aloe vera farming system is fertilizer , planting pattern A and D.
Kata Kunci : Optimal,Risiko,Produksi,Sumberdaya,Pola usahatani,Lidah buaya,optimal, risk, production, resources, farming system patterns, aloe vera