Analisis kualitas dan efisiensi pewarnaan tekstil kerajinan dan batik dengan penggunaan zat warna indigofera
INDRIASTUTI, Surti, Prof. Dr. Ir. Masyhuri
2009 | Tesis | S2 Magister Manajemen AgribisnisProses pewarnaan dilakukan dengan cara pencelupan Tekstil Kerajinan dan Batik kedalam larutan zat warna alam (ZWA) Indigofera jenis arrecta dan tinctoria yang menghasilkan warna biru. Tekstil Kerajinan dalam penelitian ini adalah kain jumputan/sasirangan yaitu kain yang dijumput/dijahit/didelujur sesuai motif, kemudian benang ditarik atau jumputan diikat, fungsinya sebagai perintang warna saat proses pencelupan. Sedangkan Batik yang dimaksud adalah Batik cap yaitu kain tekstil hasil pewarnaan, dengan menggunakan lilin batik sebagai perintang warna. Dua perintang warna yang berbeda akan terjadi perbedaan perlakuan pada akhir proses pewarnaan. Pada produk Batik mengalami suhu panas saat penghilangan lilin sebagai perintang warna, sedangkan pada produk Tekstil Kerajinan, pada akhir proses pewarnaan hanya membuka ikatan tali/jahitan sebagai perintang warna tanpa mengalami suhu panas, Tujuan penelitian untuk mengethui pengaruh Suhu dan Jenis ZWA Indigofera terhadap hasil pewarnaan, sehingga diperoleh efektitas dan efisiensi pewarnaan pada produk Tekstil Kerajinan dan Batik, serta untuk mengetahui keunggulan ZWA Indigofera sebagai substitusi zat warna sintetik warna biru Tahapan proses penelitian : pengujian kain sebelum pewarnaan, pembuatan Tekstil Kerajinan (pengikatan) dan Batik (pelekatan lilin dengan sistem cap), pencelupan (3 kail ulangan), pengujian. Parameter yang diteliti dan diuji: ketuaan warna kain, katahanan luntur warna dan kekuatan tarik. Uji ketuaan warna dilakukan secara visual dengan metode rangking yaitu dengan membandingkan warna kain dengan indikator warna biru yang terdiri dari 8 grade (grade 1 warna paling muda dan grade 8 warna paling tua) , uji ketahanan luntur warna dan kekuatan tarik dengan metode uji sesuai Standar Nasional Indonesia. Hasil uji coba menunjukkan bahwa Suhu dan Jenis ZWA Indigofera berpengaruh terhadap warna kain yang dihasilkan. Jenis Indigofera arrecta lebih effektif dan effisien dibanding ZWA Indigofera tinctoria dan lebih unggul dibandung dengan zat warna sintetik warna biru. Warna kain yang dihasilkan dengan menggunakan Indigofera Arrecta rata- rata mempunyai nilai lebih tinggi 1,25 grade dibanding dengan Indigofera Tinctoria. Untuk mencapai warna yang sama seperti ZWA Indigofera Arrecta , bisa dilakukan dengan pengulangan pencelupan yang memberi dampak penambahan biaya produksi Rp 4.000 hingga Rp 7.000//2 meter kain dan penambahan waktu yang diperlukan 40 menit hingga 70 menit. Suhu berpengaruh terhadap hasil pewarnaan, warna kain yang dihasilkan untuk produk Teksti Kerajinan (suhu dingin) rata- rata mempunyai nilai lebih tinggi 2,25 grade dibanding dengan produk batik (suhu panas). Ketahanan luntur warna kain dan kekutan tarik kain telah memenuhi Standar Nasional Indonesia.
The coloring process is doing by immersing handicraft textile and batik in to the natural dye solution of Indigoferra tinctoria and Indigofera arrecta, which result blue color. Handicraft textile in this research called jumputan or sasirangan fabrics is a fabric which is pinched, sewed or tied appropriately to the pattern wanted. While Batik is use batik stamp, is fabric as a result of coloring, using batik wax as color interference. Two different kind of color interference will result different treatment in the end of coloring process. In Batik product use high temperature to remove the color interference, while in handicraft textile, in the end of the coloring process, only open the sewing or rope as color interference without high temperature. The aim of this research are to know the effect of temperature and natural dye Indigoferra to the result of coloring, so it will results affectivity and efficiency of coloring in products of handicraft textile and batiks, and to know the quality of natural dyes Indigofera as a substitute of synthetic blue dyes. The stage of coloring process: analyses of fabric before coloring, making of handicraft textile (pinched or tied or sewed) and batik (waxing using stamp), immersing (3 times), and analyzing. Parameters that examined and tested are: fabric color, endurance of color and pulling strength. Color analyses are done visually with rank method, it is to compare colors using color indicator which consist of 8 grade ( grade 1 is the brightest, grade 8 is the darkest), endurance of color and pulling strength using method appropriate to Standar Nasional Indonesia. Test result shows that all kind of temperature and natural dye Indigofera influences fabric colors result. Natural dye of Indigofera arrecta are more effective an efficient in compare to Indigofera tinctoria and has better quality compare to synthetic blue dyes. Colors resulted by natural dye Indigoferra arrecta has higher average color point 1,25 grade compare to Indigofera tinctoria. To achieve same grade of color, we can repeat the immersing process, which give effect the additional of average products cost 4000 to 7.000 rupiahs every 2 meters and 40 to 70 minutes additional time. Temperature has effect on color results, handicraft textile product (cold temperature) has higher average of point color 2,25 grade compare to batik (high temperature). Endurance of colors and pulling strength has fulfilled Standar National Indonesia.
Kata Kunci : ZWA indigofera arrecta,Indogofera tinctoria,Tekstil kerajianan dan batik,Pencelupan, Natural dyes, Indigofera arrecta, Indigofera tinctoria, Handicraft Textile and Batik, immersing