Laporkan Masalah

Perlawanan nan tak kunjung padam :: Studi tentang dinamika aksi kolektif suku Jawa dan suku Gayo terhadap GAM di Tanoh Gayo 1999-2008

ZULFAUZI, Wawan Masudi, MPA

2009 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Tuntutan Aceh pisah dari NKRI (merdeka) tidak dinafikan muncul pro kontra dan berdampak terjadinya berbagai tindak kekerasan. Penelitian ini memotret dinamika aksi kolektif perlawanan Suku Jawa dan Suku Gayo (gerakan sosial) terhadap GAM di Tanoh Gayo sejak 1999-2008. Fenomena aksi kolektif perlawanan mendeskripsikan sesuatu yang selama ini tidak dipotret, tetapi itu terjadi dalam periodesasi dan momentum politik. Metode/jenis penelitian kualitatif, data yang digunakan primer dan sekunder, diperoleh melalui teknik wawancara, studi dokumentasi dan telaah kepustakaan, dengan analisa deskriptif kualitatif dilakukan secara simultan. Temuan penelitian aksi kolektif perlawanan hadir dan menguat periodesasi (1999-2003) karena pertama, kondusifitas struktural, kesejarahan, struktur demografis, geografis, kekuasaan dan ekonomi; kedua, absennya pemerintah dalam pelayanan keamanan berdampak terjadinya kekerasan; ketiga gagalnya berbagai kebijakan politis, upaya damai/dialog, dan operasi terpadu; keempat mendapat dukungan dan sikap empatik/simpati pemimpin lokal, eksekutif, legislatif, muspida, dan berbagai pihak, kelima interaksi dengan berbagai kekuatan kekuasaan (aparat keamanan). Aksi kolektif hadir dan menguat semata-mata mengatasi permasalahan dan mengisi kevakuman aparatus keamanan. Periodesasi Darurat (2003-2005) aksi kolektif dikooptasi oleh pemerintah (penguasa darurat) karena negara dalam keadaan kuat. Masuknya berbagai kepentingan secara simultan dan beberapa agenda nasional dan lokal (pemilu 2004, pilkada, darurat itu sendiri) menjadikannya sebagai alat untuk mensukseskan agenda tersebut. Aksi kolektif mengalami krisis, tidak bermakna, mal fungsi ketika negara dominan, kuat, dan otoriter. Periodasasi pasca Darurat/MoU (2005-2008) aksi kolektif perlawanan secara fisik vakum dan waspada (situas kondusif) tetapi secara substansi sebagai gerakan sosial menguat dan solid, meski terjadi deklinasi yang memunculkan kekecewaan. Kesadaran identitas kolektif hadir kembali bahkan menyebabkan konflik internal. Aksi kolektif perlawanan akan memberikan respon jika mantan GAM berulah dan sampai kini eksis (survive) terlebih menjelang pemilu 2009. Ketika pemerintah keluar dari ranah gerakan sosial, kemandirian, independensi, sukarela, ekspresi, dan kreasi justru mewarnai keseharian aksi kolektif perlawanan di Tanoh Gayo. Aksi kolektif suku Jawa dan Suku Gayo sebagai gerakan sosial adalah fenomena serba hadir dalam konteks negara Indonesia pada umumnya dan Aceh (Tanoh Gayo) pada khususnya. Campur tangan, masuknya berbagai kepentingan, dan interaksi dengan berbagai kekuatan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakan. Namun bila berlebihan, absolut, dan otoriter justru akan merusak, mematisurikan dan memunculkan pelabelan negatif terhadap sebuah aksi kolektif. Kajian selanjutnya adalah seberapa kadar (toleransi) campur tangan negara yang dibolehkan dalam sebuah gerakan sosial. Sebab gerakan sosial adalah sebuah organisme yang lahir suci (tabularasa). Hitam atau putih, bersih atau kotor sangat ditentukan lingkungan internal dan eksternalnya.

Aceh arraingment to divorce from NKRI (freedom) was not appear aggreedisagree and impact to hardeness. This research snapped of collective action dynamics Java ethnic and Gayo ethnic (social movement) to GAM in Tanoh Gayo since 1999-2008. Collective action resistance phenomenon describe about something which this decade unsnapped, but that was happen in political periodic and moment. Methode/kind of research qualitative, data which is used primer and sekunder, found by interview technique, documentation study and study library with description-qualitative analysis has done by simultanously. Finding of rasistance’s Collective action research was present and strongly in periodic (2002-2003) because first, structure condusivity,historical, demography structure, geography, power and econimic: second, goverment uncoming in safety services impact to the march of violence; third failure of political policy, effort of peacefull dialogue and operation unified; forth,gain a support and symphatetic of local goverment, executive, legislative, muspida and others, fifth interaction with a variety of strongly power (security aparatus). Action collectivity present and strong only for bridged of problem and filled out vacum of security aparatus. Emergency periodic (2003-2005) Action collectivity was cooptationed by goverment (emergency arbiter) because of state on emergency. Entery of many interest simultanly and several of national and local agenda (general elected 2004, pilkada, the emergency its self) conclude as instrument for agenda succesion. Action collectivity falling up crisis, unmeaning, mal-function when the state dominated, strong, and authoritative. After emergency/MoU periodic (2005-2008) Action collectivity resistance fisically vacum and wary (condusive situation) but substanly as social movement was solid and strong, although declinitation happen that appear disappointed. Identity collectivity awarness represent to bring intern conflict. Action of resistance collectivity will give respon if ex-GAM do mistakes and survive till now, especially toward elected 2009.When goverment out of social movement, independenty, volunteer, expressiveness and creative precisely influence of daily action collectivity resistance in Tanoh Gayo. Action collectivity of Java and Gayo ethnic as social movement are phenomenon that always present in contecs state of Indonesia generally and especially in Aceh (Tanoh Gayo). Interere, entry many interest and interaction with others are requirement that is not to avoid. But if remain, absolute and authoritative will be worse precisely, apparent deadth and appear negative labeling toward an action collectivity. The next study is a few of how tolerance that was permitted of state hands off in a social movements. Because action collectivity is an organism where pure birth (tabularasa). White or black, clean or dirty indeed of intern and extern its environment.

Kata Kunci : Dinamika,Aksi kolektif perlawanan,Gerakan sosial, Dynamics, Social Movement, Action of Resintance Collectivity


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.