Penguatan ketahanan pangan daerah :: Studi tentang revitalisasi kelembagaan ketahanan pangan masyarakat Gampong di Kabupaten Aceh Besar
SAFRIZAL, Dr. Erwan Agus Purwanto
2009 | Tesis | S2 Magister Administrasi PublikPenelitian ini dilakukan untuk mengetahui kinerja sistem ketahanan pangan masyarakat Gampong. Seiring terjadinya perubahan dalam pengelolaan pangan masyarakat kearah lebih ekonomis dan pragmatis sehingga fungsi kelembagaan sebagai instrumen penguatan ketahanan pangan masyarakat menjadi terpinggirkan. Oleh karena itu perlu revitalisasi kelembagaan untuk mengembalikan ketahanan pangan pada kondisi sebenarnya yaitu ketahanan pangan berkelanjutan dan berbasis rumah tangga. Revitalisasi kelembagaan tidak hanya mencakup nilai dan norma tetapi juga struktur kelembagaan. Rumusan masalah meliputi : (1) Mengapa terjadi kemunduran ketahanan pangan dalam masyarakat Gampong di Kabupaten Aceh Besar; (2) Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kemunduran ketahanan pangan masyarakat Gampong di Kabupaten Aceh Besar dan (3) Bagaimana bentuk kelembagaan yang ditawarkan untuk mengantisipasi kemunduran ketahanan pangan masyarakat Gampong di Kabupaten Aceh Besar ?. Adapun kerangka konseptual yang dibangun meliputi : Konsep Ketahanan Pangan (sistem ketahanan pangan), Konsep Kelembagaan, Revitalisasi kelembagaan Ketahanan Pangan Masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik penentuan sumber data secara purposive, difokuskan pada informan kunci yaitu aktor-aktor pelaksana perubahan (agent of change), kebutuhan informan selanjutnya dilakukan dengan tehnik “snow ball†dengan komposisi dan ketegori telah ditentukan sebelumnya. Perolehan data merupakan data primer dan sekunder berdasarkan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam (in-depth interview) dengan menggunakan pedoman wawancara tidak terstruktur. Data yang diperoleh diverifikasi dan dianalisa melalui interpretasi data baik secara teoritis dan empiris serta dikaitkan dengan hasil pengamatan di lapangan, dimaksudkan untuk lebih mengetahui kecenderungan fenomena yang muncul. Penelitian ini menemukan berberapa hal: Kinerja sistem ketahanan pangan rumah tangga mengalami kemunduran, dimana cadangan pangan belum menjadi prioritas rumah tangga sehingga ketersediaannya tidak terjaga secara kontinue,pola konsumsi masyarakat masih terfokus pada beras, belum mencerminkan diversifikasi pangan dan menyebabkan ketergantungan kepada beras sangat tinggi. Distribusi pangan antar rumah tangga berbentuk pinjaman beras terkendala distrust, pengembalian seringkali tidak memenuhi kualitas dan kuantitas dari pangan yang dipinjam. Potensi zakat berjalan dengan baik namun belum dikelola secara terpusat. Kemunduran ketahanan pangan di Gampong Ateuk Cut disebabkan perubahan perilaku konsumtif petani dalam mengelola produksi, persepsi menjadikan beras sebagai makanan utama, rendahnya motivasi bertani terutama kaum muda, juga pengaruh tengkulak dalam sistem usahatani. Optimalisasi peran masing-masing aktor perubahan dapat dilakukan melalui interaksi sosial yang lebih intensif, legitimasi aturan tidak tertulis yang masih relevan menjadi Qanun Gampong mendesak dilakukan agar penetapan sanksi sosial dapat ditegakkan, potensi sosial yang dimiliki seperti sifat gotong royong, kepedulian sosial yang tinggi merupakan modal memperkuat solidaritas organis. Akhirnya penelitian ini menawarkan sebuah model kelembagaan sebagai instrumen penguatan kembali ketahanan pangan masyarakat Gampong yaitu Lumbung Meunasah. Untuk menjalankan model ini tidak semata-mata merupakan tugas petani sebagai fokus perubahan, tetapi keterlibatan seluruh elemen masyarakat Gampong. Kita semua mempunyai kewajiban moral untuk mewujudkannya, karena sesungguhnya revitalisasi kelembagaan ketahanan pangan pada hakikatnya adalah sebuah revitalisasi kemanusiaan, karena persoalan pangan merupakan persoalan hak azasi manusia.
This study is done to know about food security system performance of society Gampong. Along the management changing on public food toward more pragmatic and economic so that the institutional function as an instrument of public food security reinforcement becomes pulled over. Therefore it needs an institutional revitalization to return food security at actual condition, which is having continuation and based on household. The institutional revitalization not only involves values and norms but also institutional structure. The problem formulas here cover : (1) why is there retrogression of food security in society Gampong in Kabupaten of Aceh Besar; (2) any kind factors that causing food security retrogression of society Gampong in the Kabupaten of Aceh Besar and (3) how the institutional formation proposed to anticipate food security retrogression of society Gampong in Kabupaten of Aceh Besar ?. The conceptual frameworks cover : food security concept (food security system), the institutional concept, and the institutional revitalization of public food security. This study applies descriptive method with qualitative approach. Determination technique of data source is done purposively, focused at key informer as an agent of change. The more informer hereinafter is done technically "snow ball" with the composition and category has been determined before. Data acquisition is primary and secondary data based on observation, documentation and in-depth interview by using guidance of unstructured interview. Data obtained are verified and analyzed by interpretation of both data theoretically and empirically, and is related to the result of observation to know more tendencies of emerging phenomenon. This study finds some facts : food security system performance of household is retrogressive; food reservation has not become household priority so that the availability of it doesn't awake in continuation, the public consumption pattern still be focused at rice, and has not been expressing the food diversification. It causes high dependency at rice. The food distribution among households on rice loan is burdened by distrust, because the return from food borrower often doesn't fulfill on quality and quantity. Zakat potency runs well, but has not been managed centrally. The retrogression of food security in Gampong Ateuk Cut is caused by changing in consumptive behavior of farmer in managing production, the perception of rice as a main food, the low of farming motivation especially on young men, also wholesaler influence in farming system. The role optimization of each agent of change can be done through social interaction more intensively. The legitimization of unwritten order which still be relevant become Qanun Gampong is urgent to be done, so that the social sanction can be upheld. Social potencies such as mutual assistance characters, or high social caring is a source to strengthen organic solidarity. Finally this study offers an institutional model as an instrument of reinforcement food security on society Gampong to obtain food, that is Lumbung Meunasah. The implementation of this model is not solely a farmer duty as a focus of change, but it involves all element of society Gampong. We all have moral obligation to realize it, because in fact the institutional revitalization of food security intrinsically is a revitalization of humanity, because the matter of food is the matter of human right.
Kata Kunci : Revitalisasi kelembagaan, Pelaksana perubahan, Ketahanan pangan daerah, Institutional revitalization, agent of change, local food security.