Laporkan Masalah

Studi reaktivitas protein antigen helicobacter pylori bentuk spiral, kokoid dan campuran spiral-kokoid terhadap antisera helicobacter pylori akibat stressor amoksisilin :: Eksperimen di laboratorium

PAUZI, Iswari, Prof. Dr. dr. Sri Rahajoe Asjari

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kedokteran Dasar dan Biomedis

Latar Belakang : Helicobacter pylori (H. pylori) merupakan bakteri penyebab ulkus peptikum, ulkus duodenum dan kanker lambung. Diagnosis laboratorium terhadap H.pylori menggunakan metode serologi sering memberikan hasil yang negatif palsu. Hal ini disebabkan oleh terjadinya perubahan bentuk spiral H. pylori menjadi bentuk kokoid, setelah pemberian terapi amoksisilin. Bentuk kokoid merupakan manifestasi dari sel untuk mempertahankan diri atau sel yang akan mengalami kematian. Pada bentuk ini tidak ada protein yang spesifik atau protein baru sehingga jumlah protein akan berkurang. Tujuan Penelitian: untuk mempelajari reaktivitas protein antigen H. pylori bentuk spiral, campuran spiral - kokoid dan kokoid dengan stressor amoksisilin terhadap antisera H. pylori. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan eksperimental laboratoris dengan rancangan Post Test Only Control Design menggunakan variabel stressor antibiotik amoksisilin dalam suasana mikroaerofilik. Digunakan sebanyak 30 sampel yang dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan, yaitu 10 sampel bentuk spiral (tanpa stressor amoksisilin), 10 sampel untuk campuran spiral-kokoid (stressor 50 ug/ ml) dan sisanya 10 sampel untuk bentuk kokoid (stressor amoksisilin 100 ug/ml). Sampel diinkubasi pada inkubator mikroareofilik, kemudian pola protein dilihat pada hari ke-3 dan hari ke-9 dengan metode elektroforesis dan immunoblotting . Hasil Penelitian : Hasil elektroforesis dan immunoblotting memperlihatkan pola protein pada hari ke 3 adalah protein dengan BM, 29, 35, 38, 41, 48, 55, 60, 72, 78, 85, 94, 98, 110, dan 120 kDa. Pada hari ke 9 pola protein berubah, jumlah protein berkurang yaitu : 55, 60, 72, 85, 98 dan 120 kDa. Beberapa pita protein utama tetap ada, baik pada bentuk kokoid hari ke-3 maupun kokoid hari ke-9 yaitu protein dengan BM sekitar 110, 72, 60 dan 55 kDa. Tidak ada perbedaan pola protein dari bentuk spiral, campuran spiral-kokoid dan kokoid setelah diinkubasi selama 3 hari (ρ > 0.05). Terdapat perbedaan yang signifikan antara spiral dengan kokoid, campuran dengan kokoid (ρ < 0.05), tetapi pola protein spiral dan campuran tidak ada perbedaan (ρ > 0.05). Kesimpulan : Terdapat perbedaan pola protein dari H. pylori bentuk spiral, kokoid dan campuran spiral - kokoid pada hari ke-9. Terdapat perbedaan reaktivitas protein H. pylori bentuk spiral, campuran dan kokoid terhadap antisera penderita infeksi H. pylori setelah inkubasi hari ke-9. Terdapat 3 pita protein yang menunjukkan reaktivitas terhadap protein antisera positif H. pylori, baik bentuk spiral maupun kokoid hari ke-3 yaitu 98, 60 dan 35 kDa dan satu pita protein kokoid hari ke-9 yang menunjukkan reaktivitas yaitu 120 kDa.

Background : Helicobacter pylori (H. pylori) is responsible for the development of ulcus pepticum, ulcus duodenum, and gastric carcinoma. The results of laboratory diagnosis for H. pylori infection by serologic method (imunochromatographic test and ELISA) often gave even gift false negative result. It may be caused by transition from spiral to coccoid form which is self defence manisfestation or senescene processes. In this process, neither specific nor new protein were produced. Purpose : To study H. pylori protein antigen reactivity among spiral, coccoid and mix spiral-coccoid form to H. pylori antisera under amoxycillin stressor. Method : This study was laboratoric experimental post test only design using amoxycillin stressor in microaerofilic condition.Thirty sample were divided into 3 groups, spiral(without amoxycillin stressor), mix (stressor 50μg/ml amoxycillin), and coccoid (stressor 100 μg/ml). Samples were incubated in microaerophylic incubator for 3 days, and were followed up until 9 days. Electrophoresis and imunoblotting with antisera of H. pylori was performed to visualize the reactivity among protein patterns. Result : Electrophoresis and imunoblotting at day 3rd showed protein pattern with MW of 29, 35, 38, 41, 48, 55, 60, 72, 78, 85, 94, 98, 110, and 120 kDa. At day 9th , the number protein pattern decreased toproteinwith MW of 60, 72, 85, 98, and 120 kDa. Several main protein bands still exist in coccoid form at day 3rd and 9th, i.e. protein with MW of, 110, 72, 60, and 55 kDa. There was no difference protein pattern at day 3rd incubation among spiral, coccoid, and mix form (ρ > 0,05). There was difference protein pattern at day 9th incubation between coccoid and spiral (ρ < 0,05) and between coccoid and mix form (ρ < 0,05), but there was no difference between spiral and mix (ρ > 0,05). Conclusion : There was difference protein pattern among spiral, coccoid, and mix form at day 9th. There was difference reactivity of H. pylori protein among spiral, coccoid and mix to patient’s antisera H.pylori infection after day 9th incubation. Protein with MW of 98, 60, 35 kDa have reactivity at day 3rd and that of 120 kDa have reactivity at day 9th.

Kata Kunci : Reaktivitas,Protein antigen,Helicobacter pylori,Bentuk spiral,Bentuk kokoid, coccoid form, Helicobacter pylori, protein antigen, reactivity, spiral form


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.