Persepsi ulama dalam pemilihan pertolongan persalinan bagi ibu hamil di Kecamatan Binuang Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan
HERMANSYAH, Prof. dr. M. Hakimi, SpOG(K), Ph.D
2009 | Tesis | S2 Magister Perilaku Promosi KesehatanLatar belakang: Wanita meninggal akibat persalinan di dunia sebanyak 585.000 orang setiap tahun. Kematian ibu sangat memprihatinkan, karena setiap menit terdapat seorang ibu meninggal. Di Indonesia, angka kematian ibu yang cukup tinggi yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup. Di Kabupaten Tapin tahun 2007 terdapat 6 orang ibu meninggal akibat persalinan, 2 di antaranya terjadi di Kecamatan Binuang. Bidan kampung masih banyak melakukan pertolongan persalinan. Ulama selaku tokoh masyarakat sering dimintai doa dan pendapatnya agar persalinan berjalan dengan lancar. Ulama diharapkan mampu bertindak sebagai channel yang tepat agar pertolongan persalinan dilakukan oleh bidan atau tenaga kesehatan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi ulama pada pemilihan pertolongan persalinan ibu hamil di Kecamatan Binuang Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Metode: Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam terhadap 5 orang ulama, 2 bidan, 2 dukun kampung, 2 orang ibu yang melahirkan dengan dukun kampung. Analisis data dengan cara: reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil: Informan mempunyai persepsi bahwa persalinan adalah sangat berisiko, harus mempertaruhkan nyawa atau bisa terjadi kematian. Sadar akan risiko ini ulama berupaya membantu dengan doa agar persalinan berjalan lancar. Ulama bersifat netral dalam menentukan tempat persalinan dan menyerahkan kepada ibu atau keluarga untuk memilih bidan atau bidan kampung. Hubungan ulama dengan bidan kurang akrab dan perlu diperbaiki. Berbeda dengan bidan kampung yang sangat dekat dengan ulama dan masyarakat, sehingga ibu hamil banyak yang memilih bidan kampung sebagai tempat persalinan. Upaya pendekatan bidan kepada ulama dan masyarakat perlu ditingkatkan agar secara perlahanlahan masyarakat mengerti bahwa penolong yang tepat adalah bidan. Kesimpulan: Persepsi ulama yang positif terhadap persalinan dan membantu dengan pemberian doa pelancar persalinan dapat dijadikan modal untuk dapat bekerjasama dengan bidan. Dibutuhkan kedekatan bidan dengan ulama yang lebih baik lagi untuk bekerjasama menjelaskan kepada masyarakat bahwa tempat pertolongan terbaik adalah bidan.
Background: Globally, women die during delivery as much as 585,000 women each year. Maternal mortality is very apprehensive, one mother dies every minute. Indonesia maternal death rate is quite high, namely 307 per 100,000 live birth. In 2007 Tapin District there are 6 mothers died during delivery, 2 of which occurred in Binuang Subdistrict. Village midwives are doing lots of help childbirth. Prayers of religions leader are often required order to the delivery went well. Religions leader are expected to act as the appropriate channel so the delivery is helped by midwive or health worker. Objective: This study aims to know the perception of religions leader in advicing mother to seek help for the labor in Binuang Subdistrict, Tapin District, South Kalimantan Province. Method:This study was conducted by qualitative method and explorative approach. The data was collected by in-depth interview for 5 religions leaders, 2 midwives, 2 traditional birth attendants, 2 mothers who her labor is helped by the traditional birth attendant. Data analysis was done with data reduction, data presentation, and drawing a conclusion as well as verification. Result: Informan’s perception about delivery are very risky, life threatening or can cause death. Because of this risks, the religions leaders help them by prayer so the delivery went well. The religion leaders are netral in advicing place of delivery and entrust the mother and her family to choose between midwive or traditional birth attendant. The relationship between religion leaders and midwives is not familiar enough so it must be corrected. In contrast, traditional birth attendant have a familiar relationship to the religion leaders and the community, so the pregnant women tend to choose the traditional birth attendant to help her delivery. Midwife’s approximation to the religion leaders and the community must be increased, so the community can understand that the appropriate person for delivery is midwife. Conclusions: The positive perceptions and the prayers of the religion leaders about delivery can become cooperation modalities between midwives and religion leaders. The midwives need to approach the religion leaders so the midwives can explain the community that the best person for delivery is midwives
Kata Kunci : persepsi ulama,ibu hamil,penolong persalinan,perception of religion leaders,pregnant women,birth attendant