Keragaman genetik cendana (Santalum album Linn) dari kepulauan Nusa Tenggara Timur di Kebun Konservasi Ex Situ Watusipat, Gunungkidul dan dari ras lahan Wanagama
HARYJANTO, Liliek, Prof. Dr. H. Moh. Naiem, M.Agr
2009 | Tesis | S2 Ilmu KehutananCendana (Santalum album Linn) merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Eksploitasi yang dilakukan tanpa diikuti upaya rehabilitasi yang seimbang telah menjadikan cendana dalam status menuju kepunahan. Upaya konservasi secara ex situ telah dilakukan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada dengan menanam cendana di Hutan Pendidikan Wanagama pada tahun 1968. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan juga menanam cendana di Hutan Penelitian Watusipat sejak tahun 2000. Pengetahuan keragaman genetik diperlukan untuk mendukung program konservasi sumberdaya genetik dan pemuliaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1). mengetahui besarnya keragaman genetik populasi cendana di kebun konservasi ex situ Watusipat dan ras lahan Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta; dan 2). mengetahui potensi kebun konservasi ex situ cendana di Watusipat dan Wanagama, Gunungkidul, Yogyakarta dalam upaya melestarikan sumberdaya genetik cendana. Keragaman genetik ketujuh populasi dideteksi dengan penanda genetik isozim dengan 3 sistem enzim yaitu Shikimate dehydrogenase (SHD), Esterase (EST), dan Diaphorase (DIA). Jumlah alel yang teridentifikasi sebanyak 13 alel yang tersebar pada lima lokus polimorfik. Rata-rata alel per lokus sebesar 2,1714. Rata-rata alel efektif per lokus sebesar 1,6433. Rata-rata persentase lokus polimorfik sebesar 85,71%. Rata-rata keragaman genetik dalam populasi sebesar 0,3234 dan antar populasi sebesar 0,0316. Analisis klaster UPGMA berdasarkan jarak genetik standar Nei dapat membagi menjadi 3 klaster yaitu klaster pertama meliputi populasi Palakahembi, Belu, Soebela; klaster kedua meliputi populasi Bama, Balela, Helangdohi dan klaster ketiga ras lahan Wanagama. Populasi-populasi cendana di kebun konservasi ex situ Watusipat dan Wanagama dapat saling melengkapi sebagai upaya pelestarian sumberdaya genetik cendana
Sandalwood (Santalum album Linn) is one high economic value of forest comodities. However, over exploitations but lack of rehabilitation have caused this population becoming endangered status. Faculty of Forestry Gadjah Mada University had established sandalwood ex situ conservation in 1968 at Wanagama Forest Education. Forest Research Biotechnology and Tree Improvement Yogyakarta had established sandalwood ex situ conservation at Watusipat since 2000. Knowledge of genetic diversity is needed for encourage conservation and breeding program. The objectives of this study were to: 1). describe the level of genetic diversity of sandalwood populations at Watusipat and Wanagama land race ex situ conservation, 2). investigate the potential of Watusipat and Wanagama ex situ conservation in order to maintain sandalwood genetic resources. Genetic diversity from seven populations were investigated by isozyme genetic marker, viz. Shikimate dehydrogenase (SHD), Esterase (EST), and Diaphorase (DIA). Thirteen identified alleles distributed on five polymorphic loci. The mean number of alleles per polymorphic locus was 2.1714. The mean effective number of alleles per polymorphic locus was 1.6433. The mean percentage of polymorphic loci was 85.71%. The mean genetic diversity within population was 0.3234 and the proportion of genetic variation among populations was 0.0316. The UPGMA cluster analysis based on Nei’s standard genetic distance reflected that three main clusters with Palakahembi, Belu and Soebela forming first cluster; Bama, Balela and Helangdohi forming second cluster and Wanagama land race forming third cluster. Sandalwood at Watusipat and Wanagama ex situ conservation can be complementary in order to maintain sandalwood genetic resources.
Kata Kunci : Santalum album Linn,Isozim,Keragaman genetik,Konservasi sumberdaya genetik,Santalum album Linn,isozyme,genetic diversity,genetic resources conservation