Laporkan Masalah

Pemanfaatan GPS (Global Positioning System) untuk penegasan batas daerah dan implikasinya terhadap ketahanan wilayah :: Studi peran topografi kodam IV-Diponegoro dalam penegasan batas daerah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo

SUMANTO, Edy, Dr. H.A. Sudibyakto, M.S

2009 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : 1) pelaksanaan penegasan batas daerah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo, 2) pemanfaatan GPS (Global Positioning System) untuk penegasan batas daerah, 3) peran Topdam IV/Diponegoro dalam penegasan batas daerah, dan 4) implikasi penegasan batas daerah terhadap ketahanan wilayah. Penelitian ini merupakan penelitian terapan (applied research), yaitu dimaksudkan untuk mencari cara-cara penyelesaian masalah kehidupan secara praktis. Penegasan batas daerah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo dilakukan oleh Tim Penegas Batas Daerah bekerjasama dengan Topdam IV/Diponegoro. Kegiatan ini dibagi dalam 5 tahap kegiatan, yaitu : penelitian dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar batas, penentuan posisi pilar batas, dan pembuatan peta batas. Batas daerah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo sepanjang ± 32,5 km dipasang 19 pilar yang terdiri dari : 8 buah Pilar Batas Utama (PBU), 2 buah Pilar Acuan Batas Utama (PABU), 3 buah Pilar Batas Antara (PBA) dan 6 buah Pilar Acuan Batas Antara (PABA). Penentuan posisi pilar digunakan GPS Geodetik Trimble 5700 dengan metode statik differensial. Dari hasil pengolahan data pengukuran GPS, koordinat 19 pilar batas daerah antara Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Wonosobo mempunyai ketelitian yang tinggi, yaitu ΔE = 0,004 – 0,141m, ΔN = 0,002 – 0,073m, ΔH = 0,007 – 0,168m. Peran Topdam IV/Diponegoro sebagai pengemban fungsi teknik di bidang survei dan pemetaan di lingkungan TNI AD, dalam penegasan batas daerah antara Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Wonosobo terlibat dalam 5 kegiatan yaitu : penelitian dokumen, pelacakan batas, pemasangan pilar, penentuan posisi pilar dan pembuatan peta batas. Implikasi penegasan batas daerah terhadap ketahanan wilayah di wilayah Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Wonosobo adalah : 1) Ketahanan Politik, yaitu adanya kepastian hukum batas wilayah, sehingga diketahui : cakupan wilayah administrasi pemerintahan; cakupan penyelenggaraan kewenangan pemerintahan daerah; cakupan wilayah pelayanan kepada masyarakat, luas wilayah; pemberian pelayanan administrasi kependudukan, pertanahan, perijinan pengelolaan SDA, dan pendaftaran pemilih pemilu, pilpres, dan pilkada; meningkatkan tertib administarasi pelayanan pemerintahan, 2) Ketahanan Sosial Budaya, yaitu meningkatnya kerjasama antar pemerintah daerah, dan 3) Ketahanan Pertahanan dan Keamanan, yaitu berkurangnya potensi konflik yang berkaitan dengan perebutan pengelolaan sumber daya alam di wilayah perbatasan.

This research had aims to know : 1) the execution of area boundary demarcation between Kebumen Regency with Wonosobo Regency, 2) application GPS (Global Positioning System) to demarcate area boundary, 3) the role of Topdam IV/Diponegoro in area boundary demarcation, and 4) implication of area boundary demarcation to the regional resilience. This research is represent the applied research, that is intended to look for the way of problem solving practically. Area boundary demarcation between Kebumen Regency with Wonosobo Regency was conducted by Teams worked together with Topdam IV/Diponegoro. Area boundary demarcation was divided by 5 stages, that were : document research, boundary detection, installation boundary’s benchmark, determinate position of boundary’s benchmark, and making boundary map. Area boundary between Kebumen Regency with Wonosobo Regency are about 32,5 kilometres, was installed 19 benchmarks that consisted of : 8 Main of Boundary’s Benchmarks, 2 Main of Boundary’s Reference Benchmarks, 3 Among of Boundary’s Benchmarks, and 6 Among of Boundary’s Reference Benchmarks. The coordinate of boundary’s benchmark was measured by GPS Geodetic Trimble 5700, to get the coordinate with the high correctness. The measurement of position was conducted with static differensial method, where one of receiver GPS was placed on the benchmark who is known its coordinate. From the processing of GPS Geodetic measurement data, coordinate of 19 area boundary’s benchmarks have high correctness, that are ΔE = 0,004 - 0,141m, ΔN = 0,002 - 0,073m, ΔH = 0,007 - 0,168m. The role of Topdam IV/Diponegoro as executor of technique function survey and mapping in Amy, in demarcation area boundary between Kebumen Regency with Wonosobo Regency, have participated on 5 stage activities of area boundary demarcation, that were in : document research, boundary detection, installating boundary’s benchmark, determinated position of boundary’s benchmark and making boundary map. The implication of demarcation area boundary to the regional resilience in Kebumen Regency and Wonosobo Regency are : 1) Political Resilience, that is the rule of law area boundary, so from this rule of law can be known the : coverage of public administration; coverage of authority management of governance; coverage of service to the society, wide of region; service of residents administrative, land, licensing of natural resources management, and registration of general election, president election, and regional leader election; improving the order of service administration, 2) Social and Cultural Resilience, that is the increasing of cooperation inter governmental, and 3) Defend and Security Resilience, that is decrease of conflict potency on struggling the natural resource management in frontier area.

Kata Kunci : GPS,Penegasan batas daerah,Ketahanan wilayah, GPS, Demarcation Area Boundary, Regional Resilience


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.