Hegemony and silent resistence in Hawthornes The Scarlet Letter, Toharis Bekisar Merah, and Belantik
PRAMONO, R. Bambang Edi, Prof. Dr. C. Soebakdi Soemanto, S.U
2009 | Tesis | S2 Pengkajian AmerikaSastra bersifat lokal dan universal. Dikatakan lokal atau kedaerahan karena karya sastra menggunakan latar yang menggambarkan ataupun mewakili peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam masyarakat, sebagaimana disebutkan bahwa karya sastra adalah produk suatu masyarakat. Sastra dikatakan bersifat universal karena memuat nilai-nilai kesemestaan. Nilai-nilai kesemestaan ini disebut juga sebagai nilai supranationality. Ketiga novel: The Scarlet Letter, Bekisar Merah, dan Belantik menghadirkan kedua macam nilai tersebut. Hegemony merupakan salah satu nilai kesemestaan yang melingkupi hidup manusia. Hegemony muncul dalam berbagai aspek kehidupan misalnya di bidang jender, politik, social, dan keagamaan. Masyarakat patriarki sesungguhnya merupakan masyarakat hegemonistik yang bias jender dimana nilai tersebut dibuat demi keuntungan kaum pria tetapi merugikan kaum wanita. Di dalam masyarakat yang patriakal, Lasiyah dan Hester Prynne mengalami dan menjalani nilainilai yang hegemonistik tersebut, yang sebagian diantaranya menindas mereka. Hukuman yang dijatuhkan kepada Hester Prynne merupakan bukti atas hegemoni yang diterapkan oleh masyarakat Puritan terkait dengan nilai-nilai jender, sosial, politik, dan keagamaan. Kehidupan Lasiyah yang mengalami pengasingan atau penyingkiran, perendahan derajat, dan penindasan membuktikan adanya dominasi dan supremasi kaum pria terhadap kaum wanita di dalam masyarakat Jawa yang patriakal. Karena nilai-nilai yang hegemonistik inilah kedua tokoh tersebut menjalani kehidupan yang sengsara. Hegemony mengakibatkan dua macam reaksi yaitu kepatuhan dan perlawanan. Kedua tokoh utama dalam novel The Scarlet Letter, Bekisar Merah, dan Belantik berusaha melawan nilai-nilai yang hegemonistik tersebut. Mengingat bahwa perlawanan mereka adalah perlawanan yang berdasarkan perasaan dan perkembangan psikologi, tanpa melibatkan secara aktif pihak-pihak lain, dan berkembang semakin kuat seiring dengan kematangan mereka, maka mereka dianggap sedang melakukan silent resistance ‘perlawanan diam.’ Hegemony, penindasan, dan penderitaan hidup yang menimpa kedua tokoh utama cerita ini telah mendorong mereka mengadakan perlawanan diam yang membawa mereka ke dalam perubahan jati diri, yaitu menjadi manusia-manusia baru dengan kepribadian dan identitas yang baru pula. Mereka dilahirkan kembali. Ada kemiripan berkaitan dengan faktor-faktor yang mendorong kedua tokoh wanita ini melakukan perlawan diam yaitu harga diri, martabat, dan cinta. Melalui analisa terhadap hegemoni yang melahirkan perlawanan diam ini, terlihat dengan jelas bahwa wanita yang dianggap sebagai kaum lemah, pada dasarnya merupakan mahkluk yang kuat dan berpengaruh. Di dalam kelemahan wanita terdapat kekuatan yang dahsyat. Selanjutnya, studi komparatif ini mengungkapkan nilai kesemestaan yang meliputi perlawanan diam, identitas diri yang baru, faktor-faktor batiniah yang mendorong perlawanan, dan perendahan derajat wanita serta hegemoni pria.
Literature is both local and universal. The former refers to the setting of the story since it depicts the social phenomena occurring in the society, as it is said that literary works are the products of society. The latter aims at the universal values or universality of literary works considering that they bring forward the values of supranationality. The three novels, The Scarlet Letter, Bekisar Merah, and Belantik present both local and universal values. Hegemony is one of the supranationality values overwhelming people’s life. It appears in many aspects of life such as gender, political, social, and religious aspects. Social patriarchy is a gender-biased hegemonic value that is structured for the benefit of men but unfortunately disadvantages women. Lasiyah and Hester Prynne experienced hegemonic values, that some of them were oppressive, from their patriarchal society. The punishments that Hester Prynne had to bear were the signs of Puritans hegemonic society related to gender, politics, social, and religious aspects. Lasiyah’s experiencing alienation, subordination, and suppression also proves the domination and supremacy of men over women in Javanese patriarchal society. Under these hegemonic values, they suffered an agonizing life. Hegemony leads to two kinds of responses: obedience and resistance. The two protagonists of the novels The Scarlet Letter, Bekisar Merah, and Belantik resisted the hegemonic values they were dealing with. Since their struggles were based on their individual actions without provoking others to join and grew tougher in relation to the growth of their psychological development, they are considered conducting silent resistance. The hegemony, oppression, and misery that the characters had to suffer drove them to commit silent resistance that brought them to become new persons with new personality and identity. They were reborn. Both women had comparable factors driving them to conduct silent resistance: pride, dignity, and love. Through analyzing the hegemonic values resulting in silent resistance, it is then obviously seen that woman, who is in general considered weak and powerless, is in fact strong and powerful. There is powerfulness within women powerlessness. Furthermore, the comparative study reveals the universal values of the novels covering up the silent resistance, new born identity, inner factors driving the resistance, and woman subordination and man hegemony.
Kata Kunci : Hegemony,Silent resistence,Patriachy, hegemony, silent resistance, patriarchy