Hutan rakyat Karangrejo :: Proses sosial perubahan agroekosistem di pedesaan Jawa
AMAH, Iis, Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A
2009 | Tesis | S2 AntropologiTesis ini membahas tentang perubahan agroekosistem yang diterapkan oleh petani Karangrejo dan diikuti perubahan ekonomi, sosial, dan budaya baru. Petani yang dulu menjadi produsen padi berubah menjadi produsen kayu. Tujuan tesis ini adalah untuk mengetahui rasionalitas petani ketika mereka berani mengubah lahan pertanian menjadi hutan, motivasi petani dalam mengikuti perkumpulan dan proses sosial masyarakat Karangrejo ketika mereka mengubah agroekosistem lahan pertanian menjadi agroekosistem hutan. Penelitian ini dilakukan di Desa Karangrejo, Kecamatn Loano, Kabupaten Purworejo yang telah mengembangkan hutan rakyat sejak tahun 1960 M. Penelitian dilakukan pada bulan Desember 2008 sampai April 2009. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif etnografi dengan pendekatan partisipasi observasi. Data primer didapatkan dari obsevasi, partisipasi dan wawancara dengan informan dalam kegiatan sehari-hari. Data sekunder diperoleh dari Kantor Desa Karangrejo, Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Purworejo, skripsi mahasiswa kehutanan S1, dan hasil dari penelitian Pusat Kajian Hutan Rakyat (PKHR) UGM. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa rasionalitas petani dalam mengembangkan hutan rakyat didasarkan pada aspek ekonomi lingkungan berupa air. Petani merelakan banyak waktu untuk berkumpul karena perkumpulan telah berubah fungsi sebagai sarana diskusi, membuat strategi dan meningkatkan status sosial. Proses perubahan sosial masyarakat Karangrejo diawali oleh budaya boro. Hal ini menyebabkan tanah pertanian di desa lebih longgar, dan terjadi kekurangan tenaga kerja. Petani membuat efisiensi penggunaan lahan melalui penanaman kayu di lahan non sawah sebagai berdasarkan pada pertimbangan aspek ekonomi lingkungan berupa air, produk kayu dan non kayu. Keberhasilan pembangunan hutan di lahan milik mendapat banyak penghargaan dari pemerintah, sehingga menimbulkan rasa kebanggan pada diri petani. Perubahan proses sosial selanjutnya adalah terciptanya lembaga sosial yang mengatur dan menfasilitasi penjagaan dan reproduksi hutan rakyat. Masyarakat akhirnya memilih bentuk ekowisata untuk memperoleh keuntungan ekonomi tanpa menebang kayu. Berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa keberhasilan pembangunan hutan rakyat hanya dapat terjadi apabila tekanan populasi terhadap lahan berkurang dan adanya lembaga sosial masyarakat.
This thesis explains about transformed agroecosystem which it is applied by Karangrejo’s peasant and it is followed transformation of economic, social, and new culture. Formerly, the peasant became to produce rice plant, but nowadays they became resulted woods. The aim of the thesis is to know peasant rationalities, peasant motivation and transformation of social community process in Karangrejo, when the people changed from rice field to forest. Location of the research is in Karangrejo Village, Loano Subdistrict, Purworejo Regency that it developed community forestry since 1960. The research was done from December 2008 to April 2009, and it was used qualitative method with observation participatory technique. Primary data was obtained from observation, participation, and interview in daily activity of informants. Secondary data was gotten from Karangrejo Village Office, Forestry and Environment Department of Purworejo Regency, thesis S1 of student forestry, and Center for Community Forestry Studies (PKHR). Base on result of the research is known that peasant rationalities to developt community forestry based on environment economic as water. The peasant invest any time to associate because it have changed function, include discussion, make strategy and developed social status. Social process in Karangrejo’s community is begun by boro culture. It caused land-farming in the village ineffective, and it occurred in inadequate labor. Finally, the community in the village made land-use efficiency throughout planned environment economic , wood product, and non-wood products. Success of community forestry in own land-farming obtained a lot of appreciations from government, moreover the farmers felt proudness to continue it. The last process was formed social institution that it was organizing and facilitating community forestry protection and production. In short, success of community forestry occurred when population density was decreasing and social institution was controlling.
Kata Kunci : Hutan rakyat,Proses sosial,Lembaga sosial, community forestry, social process, social institution