Kami adalah Mujahidin Berpedang Pena :: Suatu gerakan dakwah Forum Lingkar Pena Yogyakarta
KAILANI, Najib, Dr. Aris Arif Mundayat
2009 | Tesis | S2 AntropologiTesis ini menguak fenomena kontemporer remaja muslim Indonesia yang mengembangkan gerakan budaya pop Islam melalui organisasi Forum Lingkar Pena (FLP). FLP didirikan oleh beberapa aktivis gerakan Tarbiyah pada tahun 1997 di Universitas Indonesia. Tujuan utama berdirinya organisasi ini adalah untuk menyiapkan para penulis muda yang konsen dengan isu-isu dakwah di era global kini. Pada mulanya para anggotanya hanya berjumlah kurang lebih 30 orang. Dalam perkembangan selanjutnya, FLP hadir di hampir semua provinsi di Indonesia dan juga manca negara. Mereka mengklaim anggotanya berjumlah 5000 orang yang tersebar di Indonesia dan luar negeri. FLP menebarkan nilai-nilai budaya pop Islam “baru†di ruang publik Indonesia dengan menerbitkan berbagai macam karya seperti cerita pendek, komik dan esai. Sebagian besar tulisan menggunakan terma seperti “ikhwan†untuk menyebut laki-laki dan “akhwat†untuk menyebut perempuan. FLP juga mengembangkan kursus-kursus kepenulisan yang ditujukan sebagai metode dakwah. Bentuk Islam yang mereka usung secara umum dipengaruhi oleh ideide gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir yang lebih dikenal dengan sebutan gerakan Tarbiyah. FLP adalah implementasi gagasan Tarbiyah untuk menebarkan pentingnya dakwah dalam konteks Indonesia modern. Para aktivis FLP beranggapan bahwa dakwah harus dikerjakan tidak hanya melalui cara verbal melainkan juga melalui tulisan. Selain itu, para aktivis FLP ini juga adalah generasi terpelajar yang tumbuh besar saat developmentalisme dan kapitalisme berada dalam puncaknya di akhir era Orde Baru. Karena itu, mereka sangat familiar dengan budaya pop yang telah beredar baik di media cetak maupun elektronik. Kelahiran FLP sebenarnya merupakan hasil dari inisiatif beberapa orang yang di tahun 1991 mendirikan majalah Annida, di mana selanjutnya mereka menjadi pendiri FLP sendiri. Annida adalah sebuah majalah remaja yang menarget pembaca remaja Muslim. Kehadiran Annida merupakan suatu alternatif terhadap majalah-majalah “sekuler†seperti Hai dan Aneka yang telah popular di kalangan remaja Indonesia. Bahkan, Annida juga merupakan alternatif di tengah majalah-majalah Muslim yang diterbitkan oleh sebagian aktivis Islam lainnya seperti Sabili dan Suara Hidayatullah. Sebagai gerakan dakwah dengan tulisan, para anggota FLP juga biasanya mengenakan pakaian yang tipikal seperti jilbab besar untuk para “akhwatnyaâ€, dan memelihara jenggot untuk para “ikhwannya.†Mereka juga mempunyai kesamaan dalam menyukai nasyid. Untuk melebarkan keanggotaan, FLP merambah sekolah-sekolah menengah atas melalui institusi Kerohanian Islam (Rohis). Perluasan keanggotaan di kalangan siswa-siswi SMA ini tampak berhasil karena hampir semua anggota FLP sebelumnya pernah terlibat di kegiatan-kegiatan Rohis.
This thesis explores the phenomenon of contemporary Indonesian Muslim youth who have developed an Islamic (popular) cultural movement in Indonesia through an organization called ‘Forum Lingkar Pena’ (Lingkar Pena Forum). This organization was founded by some Tarbiyah campus activists in 1997 at the University of Indonesia, Jakarta. The primary purpose of the organization is to prepare young writers who are concerned with da’wa issues in this global era. In the beginning, FLP consisted of approximately 30 activists. Over time, FLP grew to include activists from the province of Indonesia as well as abroad. They claim that there are now a total of 5000 members both within and outside Indonesia. Almost 75 per cent of them are women. FLP disseminates “new†Islamic popular values in Indonesia’s public sphere by publishing various works including short stories, comics and essays. Such writings use special terms like ‘ikhwan’ to refer to men and ‘akhwat’ for women. FLP has also developed writing courses that are purposed for da’wa ways. This form of Islam is generally influenced by Ikhwanul Muslimin (Islamic Brotherhood) movement ideas in Egypt that is well known by Tarbiyah movement. The FLP is an implementation of Tarbiyah idea to extend da’wa significance in the modern Indonesian context. The FLP activists assume that da’wa should be conducted not only through speaking but also writing efforts. Moreover, these activists belong to the well-educated generation growing up when developmentalism and capitalism achieved its heyday in the late New Order era. Therefore, they are quite familiar with a popular culture disseminated in both print and electronic media. The birth of FLP was actually the result of an initiative in 1991 when some people, who became the founders of the FLP itself, established Annida magazine, targeting the Muslim youth as its readers. It was the time when some “secular†magazines like Aneka, Anita and Hai had been already popular among Indonesian teenegers. Annida appeared to be an alternative not only to the secular magazines, but also to the Islamic magazines published by Muslim hardliners like Sabili and Suara Hidayatullah. As a da’wa movement by means of writing, the members of the FLP usually wear a typical dress considered ‘Islamic’, such as “jilbab.†The male members also maintain their beard to grow long. They also show their profound interest in Nasyid (songs associated with Islam). To develop its membership, the FLP infiltrates the school-based Islamic religious institution called ‘Rohis’ (Kerohanian Islam) found in almost all senior high schools in Indonesia. This infiltration has apparently been successful because almost all members of the FLP are previously involved in Rohis activities.
Kata Kunci : Gerakan dakwah,Remaaj muslim,Budaya pop Islam,Muslim yang saleh dan trendi, Da’wa movements, Muslim youth, Islamic pop culture, Pious and Trendy Muslim