Hidup bersama banjir :: Orang kampung dan banjir di Surabaya
DEWI, Ni Ketut Wardani Pradnya, Dr. Pudjo Semedi H.Y., M.A
2009 | Tesis | S2 AntropologiKampung Sonokwijenan yang merupakan penduduk asli Surabaya sampai saat ini belum diketahui oleh banyak kalangan. Penduduk Sonokwijenan pada tahun 1974 mengalami relokasi ke tiga kampung yang berdekatan yaitu Sono rejo, Sono indah, dan Kupang jaya. Relokasi tersebut disebabkan tanah yang dimiliki penduduk Sonokwijenan akan dijadikan perumahan. Sejak pindah ke tempat yang baru tersebut, penduduk Sonokwijenan mulai terkena banjir setiap tahunnya. Banjir yang terjadi disebabkan tanah petak yang disediakan terdapat didaerah banjir. Perubahan kondisi lingkungan seperti ini membutuhkan kemampuan adaptasi untuk bertahan dilingkungan yang baru. Agar dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut maka diperlukan perubahan pola prilaku dan teknologi yang sesuai. Perubahan yang dilakukan dapat berupa tindakan individual dan komunal. Pendekatan etnoekologi digunakan untuk analisis terhadap proses adaptasi terhadap banjir. Pendekatan yang dilakukan dengan cara pemahaman pola pikir masyarakat dan pola prilaku terhadap banjir. Berdasarkan analisis didapati hasil akhir yang mengungkapkan beberapa hal antara lain : 1.Masyarakat memiliki pandangan terhadap banjir yang terjadi dari yang tidak merugikan sampai merugikan. 2.Tindakan adaptif yang dilakukan secara material dan organisasi sosial. 3.Adaptasi secara material yang dilakukan bersifat individual dan komunal 4.Strategi adaptasi yang dilakukan lebih berupa penyesuai terhadap banjir daripada menghilangkan banjir. Pemahaman masyarakat terhadap banjir yang akan banjir telah terbentuk melalui pengalaman. Adapatasi yang dilakukan penduduk kampung Sonokwijenan terhadap banjir merupakan tindakan yang dilakukan hanya spontan dan menunggu. Tindakan yang yang terencana pastinya lebih mampu meminimalkan dampak banjir dengan lebih efektik dan efisien.
Kampong Sonokwijenan, the origin of Surabaya descendents, have been recently not known by many people. Sonokwijenan people’s in the year 1974 experiencing of relocation of three nearby kampong that is Sono Rejo, Sono Indah, and Kupang Jaya. The Relocation caused Sonokwijenan people’s land will be made new housing. Since moving to new place, Sonokwijenan people’s start to be hit floods every year. Floods that happened caused the new land in floods area. Such condition of new environmental ecology need adaptation level capability and resistance for their survival.behavioral pattern and appropriate technology needed to adapt the new condition. The adaptation can be in communal and individual action The analysis approach to the process of adaptation to the way of technological and behavioural pattern is an etnoecological approach. Based on the data analysis the results are shown as the following: 1. Peoples had their own view to effect of the floods that happened 2. Adaptive behaviour done with materially and social organization. 3. Material adaptation which have individual and communal character. 4. Adaptation to floods is more important than to solve floods problem Through to the flood experience in many times, many Sonokwijenan people only wait and need spontaneous act to adapt the flood, even though adaptation which have been planned more comfortable to avoid negative flood effect.
Kata Kunci : Adaptasi,Banjir,Kampung Sonokwijenan,Surabaya, Adaptation, Floods, Kampong of Sonokwijenan, Surabaya