PILKADES
AWALUDDIN, Muhammad Yusuf, Dr. Pujo Demedi Hargo Yuwono, M.A
2009 | Tesis | S2 AntropologiPemilihan kepala desa (disingkat pilkades) merupakan salah satu sarana untuk memahami kebudayaan masyarakat pedesaan, khususnya di dalam ranah pencirian kekuasaan politisnya. Sebagaimana Clifford Geertz menceritakan tentang kebudayaan Bali melaui peristiwa sabung ayam. Peristiwa pilkades menjadi wahana mengatakan sesuatu dari sesuatu (saying something of something). Kemudian seseorang berkelindan dengan persoalan semantika sosial yang terisi dari konteks-konteksnya. Setelah peristiwa pilkades ditranformasikan dalam rentetan semantika sosial atau konteks-konteksnya, maka yang terbentuk adalah makna-makna yang menyelinap dalam peristiwa tersebut. Posisi kepala desa, sekalipun desa tengah mengalami berbagai perubahan di dalamnya, namun masih begitu menarik birahi politik setiap orang untuk mencalonkan diri dalam setiap ajang pilkades di gelar. Tidak jarang dari mereka yang dulunya kalah masih ikut kembali dalam pelaksanaan pilkades yang akan datang. Hal ini karena jabatan kepala desa menduduki posisi yang sangat strategis dalam konteks sosio-kultural di aras desa. Penelitian ini dilakukan di desa Umbulmartani, kecamatan Ngemplak Sleman Yogyakarta. Fokus penelitian ini adalah untuk mengetahui dorongan-dorongan sosialbudaya macam apa yang menekan seseorang untuk mencalonlan diri sebagai cakades. Data penelitian ini dilakukan pengamatan langsung terhadap proses pilkades selama tiga bulan. Setelah melihat beberapa ciri-ciri khusus atas perkembangan demokrasi yang masuk dalam desa Umbulmartani. Di mana demokrasi telah masuk di desa ini, setidak-tidaknya dalam tiga tahap, yakni pra kemerdekaan, Orde Lama, Orde Baru, dan era Reformasi. Demokrasi mempunyai ciri-ciri tersendiri pada setiap tahapan tersebut. Demokrasi telah memberikan peluang kepada semua orang secara bebas dan sama. Sehingga setiap orang merasa berhak untuk rebutan kekuasan di aras desa ini. Sekalipun demokrasi memberikan peluang yang sama namun bukan berarti peluang para cakades sama. Justru sebaliknya, demokrasi juga menyediakan nilai-nilai ketidak-pastian. Semakin kecil peluang seseorang untuk menang dalam memperebutkan posisi puncak tersebut, namun dia tetap njago dengan mengeluarkan begitu banyak dana, maka disitulah permainan mendalamnya. Karena pada hakekatnya ketika seseorang mendaftar sebagai cakades, mereka telah meletakkan kedirian mereka dihadapan publik sebagai manifestasi pengaktualisasian diri (status). Sedangkan puncak dari pengaktualisasian diri itu ada dalam politik-kekuasaan. Karena politik merupakan wahana berkumpulnya dari sekian unsur-unsur yang membentuk kehidupan. Dalam penelitian ini kemudian ditemukan bahawa kekuasaan telah menjadi pendorong dari sekian proses pilkades yang terjadi di aras desa untuk njago lurah.
The head village election (pilkades) is one of possible means to understand rural culture, specifically for political power of characteristic at rural attitude. It is asserted by Clifford Geertz in Balinese culture through sabung-ayam event. The event become the way “ to say something of somethingâ€. Here, people have to face the social semantic problem (Geertz, 2000: 245). Having transformed the head village election into the social semantic context, the manifest turn into the meaning behind the event. The position of kades, even at countryside experience of various changed it, but still so draw political lechery each and everyone to nominate self in each rural election. Not rarely, from them which before was now fail still follow at rural election again. Because, the head village occupies very strategic position in rural sosiocultural context. The research is conducted in Umbulmartani, Ngemplak, Sleman. The Research focuses on social-culture urge at has been which depress of someone tobe candidated as cakades (calon kepala desa, head village candidate). For collecting data, researcher conducts participation-observation methode as long as the process of election. After seeing of some special marking of the democracy growth which enter in Umbulmartani, I can conclude several conclusion. Democratization enters in Umbulmartani at three phase, namely independence pre, Old Order, New Order, and Reform era. Democracy has separate marking in the step each. Democracy have been given opportunity to everybody so same and freely. So that each everybody was feel entitled to fighting over of power in this countryside level. Although the democratize is to give the same opportunity but not meaning opportunity all the same. Exactly on the contrary, because democracy also reproduction of clearless value. the smaller of opportunity for everybody to win in fighting over at the top position, but he is remain to njago by so much fund, hence it is deep play. Because the substansially when someone enlist as cakades, they have put down their self at public as actualisations of manifestasi their self (status). While is the top from actualisation that self there in there power-politics. Because at politics the represent of means gather so much elements which forming life. So In this research was found the power have to be culture-urge of so much process in the head election rural.
Kata Kunci : rebutan, status, kekuasaan, fighting over, status, power