Analisis kemampuan keuangan daerah dan kebijakan Kabupaten Bangka Barat tahun 2004-2007
ABIMANYU, Dr. Samsubar Saleh, M.Soc.Sc
2009 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanPenelitian kemampuan keuangan daerah dan kebijakan dilakukan di Kabupaten Bangka Barat Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis derajat kemampuan, daya pajak, kinerja keuangan, kontribusi timah dan sumber PAD lainnya serta pertumbuhan dan proyeksinya, elastisitas dan perumusan kebijakan yang harus diambil. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yaitu hasil wawancara dan kuisioner serta data sekunder yaitu data PDRB, penduduk dan realisasi APBD Kabupaten Bangka Barat, 2004-2007. Alat analisis yang digunakan adalah DOFD, daya pajak, IKKPD, kontribusi, pertumbuhan, proyeksi, elastisitas dan analisis kebijakan publik. Hasil analisis menunjukkan bahwa Kabupaten Bangka Barat pada periode 2004-2007, DOFD-nya tergolong rendah, 7,13 persen, IKKPD, kecenderungannya naik setelah pemekaran. Begitu juga dengan daya pajak tanpa pertambangan walaupun masih rendah, namun selalu meningkat hingga 0,0062 pada tahun 2007 sedangkan daya pajak dengan pertambangan pada tahun 2007 sebesar 0,0052. Timah belum memberikan kontribusi langsung terhadap PAD. PAD lebih banyak disumbang dari jasa giro, 2,38 persen dari TPD akibat SiLPA yang besar. Timah memberikan kontribusi besar untuk DBH SDA yaitu 7,30 persen dan dengan pertumbuhan sebesar 63,43 persen. Kabupaten Bangka Barat masih memiliki modal besar untuk peningkatan PAD di mana elastisitas pajak terhadap PDRB sebesar 2,39 pada tahun 2007 dan elastisitas PAD terhadap PDRB sebesar 1,75 pada tahun 2007 serta ditunjukkan dengan perbandingan PDRB per kapita yang mencapai Rp23.606.020,00 sedangkan pajak per kapita hanya Rp47.309,00 atau pajak perkapita hanya 0,20 persen dari PDRB perkapita. Dari analisis kebijakan publik, alternatif kebijakan optimalisasi hasil intensifikasi mempunyai prospek yang baik untuk diterapkan yang ditunjukkan skor yang tinggi mencapai 18 (delapan belas) dibanding alternatif kebijakan yang lain. Dari hasil forecasting, alternatif kebijakan optimalisasi hasil intensifikasi menghasilkan tambahan PAD terbanyak pada tahun 2011 yaitu sebesar Rp28.981.665.864,74 dibanding alternatif kebijakan yang lain, namun Kabupaten Bangka Barat dapat menjalankan alternatif kebijakan yang ditawarkan secara bersama-sama bila memungkinkan. Dari analisis yang dilakukan, walaupun Kabupaten Bangka Barat memiliki DOFD, daya pajak dan IKKPD yang rendah, tetapi memiliki modal yang besar untuk meningkatkan PAD yang ditunjukkan oleh elastisitas, PDRB per kapita, pertumbuhan serta daya pajak dan IKKPD yang meningkat. Diharapkan Kabupaten Bangka Barat segera mengimplementasikan alternatif kebijakan yang direkomendasikan untuk dapat meningkatkan PAD-nya.
This study on local financial capacity and policy was conducted in West Bangka Regency, the Province of Bangka Belitung Islands. It was to analyze the degree of financial capacity, financial performance, tax effort, tin contribution, and other sources of Local Revenue, and their growth and projection, elasticity, and policy formulation. Data used in the study were primary data, obtained from interviews and questionnaires, and secondary data, those on the Gross Regional Domestic Product (PDRB), population and the realization of the 2004-2007 Local Budget in West Bangka Regency. Analytical instruments were the DOFD, tax efforts, IKKPD, contribution, growth, projection, elasticity, and analysis on public policy. Result of the analysis indicates that the DOFD of West Bangka Regency at a period of 2004-2007 was in a low category of 7.13 percent, while the trend of IKKPD rise after the splitting of region, meaning that the program was successful. While the tax efforts without mining were still low, but a trend always increase up to 0.0061 on 2007 and tax efforts with mining increase up to 0,0052 on 2007. The tin did not yet directly contribute to the Local Revenue. Contribution to the Local Revenue was more from saving’s interest (2.38 percent) of the Total Local Revenue due to large SiLPA. The tin has given a larger contribution to the Transfer Fund of Natural Resources (7.30 percent) and to growth (63.43percent). West Bangka Regency has still large capital to increase the Local Revenue and the elasticity of tax to the PDRB was 2.39 while that of the Local Revenue to the PDRB 1.75 on 2007. It was indicated also by the ratio of the PDRB per capita, i.e. Rp23,606.020,00, while the tax per capita was just Rp47,309.00 or tax per capita only 0,20 percent from PDRB per capita. From the analysis on public policy, alternative policy on the optimization of intensification outcome has a good prospect to apply, indicated by a high score of 18 compared with the other alternative policies. From a result of forecasting, the alternative policy on the optimization of intensification outcome has generated the most additional Local Income of Rp28,981,665,864.74 on 2011 compared with the other alternative policies. However, West Bangka Regency can implement all the proposed alternative policies simultaneously, as appropriate. Based on the analyses, it can be concluded that although the regency has the low levels of DOFD, tax efforts and IKKPD, it has large capital to increase the Local Revenue, indicated by the increased level of elasticity, the PDRB per capita, growth, tax efforts, and IKKPD. Therefore, it can be expected that West Bangka Regency can immediately implement the recommended alternative policy in terms of increasing the Local Revenue.
Kata Kunci : Kemampuan Keuangan, Kinerja Keuangan, Otonomi fiskal dan Alternatif Kebijakan, Local Financial Capacity, Financial Performance, Fiscal Autonomy, Alternative Policy