Analisis manajemen obat di instalasi farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Wirosaban Yogyakarta
SAILIRROHMAH, Nurlaila, Prof. Dr. Marchaban, DESS., Apt
2009 | Tesis | S2 Magister Manajemen FarmasiTugas utama Instalasi Farmasi Rumah Sakit adalah manajemen obat, yang terdiri dari tahap seleksi, perencanaan, pengadaan, penyimpanan, distribusi dan penggunaan. Dari observasi pendahuluan ditemukan beberapa masalah dalam manajemen obat di Intalasi Farmasi RSUD Wirosaban Yogyakarta, antara lain perencanaan obat kurang akurat, terbatasnya dana anggaran obat, waktu pembayaran obat melewati jatuh tempo, obat kadaluarsa dan rusak dan waktu tunggu resep. Untuk itu perlu perlu diungkap dan dianalisis gambaran keseluruhan tahap-tahap manajemen obat di Instalasi Farmasi. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dengan pengambilan data secara retrospektif dan prospektif. Data yang berhubungan dengan proses manajemen obat dianalisis menggunakan indikator manajemen obat, kemudian hasilnya dibandingkan dengan standar yang ada dan penelitian yang pernah dilakukan di rumah sakit lain. Hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pada tahap seleksi kesesuaian dengan DOEN masih rendah (51,58%). Tahap perencanaan obat, cakupan dana yang tersedia 75% dan perbandingan item dalam perencanaan dengan kenyataan mencapai 1:2,2. tahap pengadaan, frekuensi pengadaan yaitu 1-71 kali, waktu pembayaran tidak selalu sesuai dengan tanggal jatuh tempo. Tahap penyimpanan, kesesuaian kartu stok obat dengan kenyataan 93,23%, stok obat yang kadaluarsa dan rusak sebesar 1,19%, dan nilai TOR yang rendah yaitu 7 kali. Tahap distribusi, rata-rata waktu tunggu rawat jalan non racikan 18,72 menit, rawat jalan racikan 36,16 menit, rawat inap 17,95 menit. Persentase obat yang terlayani sebesar 93,81%. Tahap penggunaan, jumlah item obat per lembar resep adalah 2,67 (rawat jalan) dan 4,475 (rawat inap), persentase obat generik dalam resep sebesar 32,52% (rawat jalan) dan 48,74% (rawat inap), persentase resep dengan antibiotika sebesar 34,81% (rawat jalan) dan 56,88% (rawat inap), persentase resep dengan injeksi sebesar 2,60% (rawat jalan) dan 68,13% (rawat inap), persentase obat formularium dalam resep sebesar 75,33% (rawat jalan) dan 76,82% (rawat inap), persentase obat DOEN dalam resep sebesar 60,49% (rawat jalan) dan 63,41% (rawat inap).
The main role of pharmacy department is drug management, which consists of selection, planning, procurement, storage, distribution and usage. Previous observation in pharmacy department of Wirosaban Hospital found some problems, such as: inaccurate drugs planning, limited drugs budget, late for payment, expired and damage drugs, and long waiting time. Therefore, it needs an attempt to reveal and analyze the stages of drug management in that pharmacy department. The research was done by using descriptive analysis and by taking prospective and retrospective data. Data which was related to drug management analysed using indicators of drug management, then the result compared to existing standart research which had been done in other hospital. The result shows that: selection, selected drugs by DOEN is low (51,58%). Planning, covered fund availability is 75% to real needed, comparation of planned item and real needed is 1:2,2. Procurement, frequency of drug procurement is about 1-71 times, and the payment is not always on time from the days should be. Storage, stock chart matched is 93,23%, the expired and damage drugs are 1,19%, and TOR was 7 times in a year. Distribution, the waiting time for out patient: uncompounding prescription is 18,72 minutes and compounding prescription is 36,16 minutes; the waiting time for in patient is 17,95 minutes. The served prescription is 93,81%. Usage, the average number of drugs per encounter is 2,67 (out patient) and 4,475 (in patient), percentage of drugs prescribed by generic name is 32,52% (out patient) and 48,74% (in patient), percentage of encounter with an antibiotic prescribed is 34,81% (out patient) and 56,88% (in patient), percentage of encounter with an injection prescribed is 2,60% (out patient) and 68,13% (in patient), percentage of drugs prescribed from formulary is 75,33% (out patient) and 76,82% (in patient), perscentage of drugs prescribed from national essential drugs list is 60,49% (out patient) and 63,41% (in patient).
Kata Kunci : Manajemen obat,Indikator,Instalasi farmasi RSUD Wirosaban Yogyakarta,drug management, indicator, pharmacy department of Wirosaban Hospital in Yogyakarta