Laporkan Masalah

Evaluative study on pharmaceutical situation Timor-Leste 2008

FERREIRA, Delfim da Costa Xavier, Dr. Dra. Sri Suryawati, Apt

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang. Pengamatan atau monitoring terhadap kemajuan upaya peningkatan situasi obat-obatan global merupakan bagian yang sangat penting dari sebuah strategi. WHO telah mengembangkan sebuah strategi monitoring tingkat tiga untuk menilai kemajuan, perbandingan situasi di antara negara-negara, dan menilai kembali serta memprioritaskan upaya yang berdasarkan pada hasil. Timor-Leste telah diteliti oleh organisasi internasional dan Bank Dunia dengan tujuan untuk mengukur ketersediaan, aksesibilitas, dan kualitas obat-obatan. Ditemukan bahwa 70 sampai 90% dari 10 tracer obat tersedia di fasilitas kesehatan, sedangkan SAMES melaporkan bahwa 86% obat yang penting tersedia dan sekitar 30% sampai 40% telah habis seperti yang dilaporkan pada akhir tahun 2007 oleh SAMES dan lainnya. Tujuan. Untuk menilai akses, kualitas, dan rasional obat-obatan di fasilitas kesehatan milik pemerintah dan swasta di Timor-Leste. Metode. Survei deskriptif dan evaluatif dilaksanakan dari bulan Oktober sampai Desember 2008 di 24 fasilitas kesehatan pemerintah, 1 gudang farmasi nasional (SAMES), dan 20 apotek swasta (kios obat). Pengumpulan data selama survei dilakukan terhadap ketersediaan 15 obat-obatan penting dan wawancara dengan pasien untuk aksesibilitas terhadap fasilitas kesehatan. Formulir survei sepenuhnya diadopsi dari evaluasi situasi farmasi WHO pada negara-negara yang menggunakan indikator-indikator. Hasil. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Timor-Leste hanya mencapai beberapa indikator dari komponen kebijakan farmasi di mana rata-rata dari komponen kebijakan farmasi adalah 4,31 poin, 7,27 poin untuk komponen National Medicines Policy (NMP), dan 7,85 poin untuk komponen Medicine Regulatory Authority (MRA) dan selebihnya untuk performa komponen lainnya. Sementara itu, tingkat rata-rata dari obat kadaluarsa di 24 fasilitas kesehatan pemerintah adalah 1,8 sampai 4,7 persen dan rata-rata obat yang kadaluarsa di 6 distrik adalah 1,2 sampai 7,8 persen dengan total rata-ratanya dari 6 distrik adalah 3,4. Ratarata habisnya persediaan obat di 24 fasilitas kesehatan umum adalah 40,8 sampai 72,9 hari dan kehabisan persediaan berdasarkan distrik adalah 40,0 sampai 82,5 hari dari rata-rata total 53,4 hari. Rata-rata persediaan 15 obat-obatan penting adalah 89,7 persen dan persediaan tersebut di 24 fasilitas kesehatan berkisar antara 79,0 sampai 98,5 persen. Ketersediaan 15 obat-obatan penting per distrik adalah 84,5 sampai 95,4 persen dari total rata-rata 89,7 persen. Persentasi rata-rata dari kondisi penyimpanan obat di fasilitas kesehatan adalah 55 persen sampai 88 persen dari total rata-rata 71 persen. Kondisi penyimpanan per distrik adalah 58 persen (Ainaro) sampai 88 persen (Dili district) dari total rata-rata 71 persen. Pasien yang berjalan <30 menit ke fasilitas kesehatan swasta adalah 55 % dan ke fasilitas kesehatan milik pemerintah adalah 58,40%, sedangkan pasien yang berjalan dengan menempuh waktu 30 menit sampai 1 jam ke fasilitas kesehatan swasta adalah 31% dan ke fasilitas kesehatan milik pemerintah adalah 27,64%. Pasien yang berjalan lebih dari 1 jam ke fasilitas kesehatan swasta adalah 14% dan ke fasilitas milik pemerintah adalah 11,25%. Persentasi rata-rata dari pemberian obat tanpa resep dokter di fasilitas swasta adalah 77,50 sampai 6,67 persen dari total rata-rata 20 fasilitas (33,75) sedangkan persentasi rata-rata dari pemberian obat tanpa resep dokter di 6 distrik adalah 100,00 sampai 5,00 persen. Kesimpulan. Performa yang lebih baik diperoleh dari komponen Medicine Regulatory Authority (MRA) dan National Medicine Policy (NMP) daripada Marketing, Inspeksi, Quality control, Combating counterfeit, praktek pemberian resep, Promosi, Pembiayaan Obat, Harga obat, Petunjuk/guidline, Trade, dan penggunaan obatobatan secara rasional. Posyandu dan Puskesmas keadaan yang kurang baik daripada rumah sakit yang disebabkan oleh kondisi penyimpanan dan pemberian obat yang kurang dan juga tidak tersedianya asisten apoteker secara permanen. Sedangkan rata-rata performances berdasarkan distrik adalah bahwa distrik Dili lebih baik daripada 5 distrik lainnya (yaitu, Ainaro,Baucau,Bobonaro,Covalima and Oecusse) dan berdasarkan tipe fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa outlet obat dan klinik swasta lebih buruk daripada apotek swasta.

Background. Monitoring the progress of efforts to improve the global medicines situation is a crucial part of the strategy. WHO has developed a theree-tiered monitoring strategy to assess progress, compare situation between countries, and reassess and prioritize effort based on the results. Timor-Leste has been severals studied by international organization and World Bank mission for measured availability, accessibility and quality of medicine were found that 70 to 90 % of 10 tracer drugs available in the health facilities, while SAMES reported 86% availability of all essential medicines and 30 to 40% stock-outs reported at the end of 2007 by SAMES and others. Objective. This study aims to assess the access, quality, and rational drugs use in public and private health facilities in the country. Method. A descriptive, evaluative survey was done during October to December 2008 in 24 Public health facilitie, 1 national warehouse and 20 private pharmacies (drug outlets), Data Collection during survey forms investigated availability of 15 key essential medicines and structure interview patients with survey forms for accessibilities to the health facilities. The survey forms was fully adopted from World Health Organization evaluate of pharmaceutical situations in countries using indicators. Result.. The result of study finding that Timor-Leste just achieved several matter indicators of pharmaceutical policy component were the average of pharmaceutical policy component was 4.31 point were NMP component 7.27 point and MRA component was 7.85 and the others less performances. The health facility level were average expired medicines on 24 public health facilities was 1.8 to 4.7 percent and average expired medicines on 6 districts was 1.2 to 7.8 percent of total average 6 district was 3.4. The average of number stock out days on 24 public health facilities was 40.8 to 72.9 days and stock out days according district was 40.0 days to 82.5 days of total average 53.4 days. The average 89.7 percent of 15 key medicines were in stock Availability ranged from 24 public health facilities was 79.0 to 98.5 percent. Availability of 15 key medicines per district was 84.5 to 95.4 percent of total average 89.7 percent. Average percentage of medicine storage condition on health facility was 55 percent to 88 percent out of 71 percent .the storage condition per district was 58 percent (Ainaro) to 88 percent (Dili district) out of average 71 percent. Patients who walked <30 minutes to private health facilities were 55 % and walked to public ones 58.40%, those who walked from 30 minutes to 1 hour to the former were 31% and to the latter 27.64, and those walked more than 1 hour to the former were 14% and to the latter 11.25%. The Average percentage of drug dispensing without prescription by types of private health facility was 77.50 percent to 6.67 percent out of total average 20 facilities (33.75). and average percentage of drug dispensing without prescription by districts was 100.00 percent to 5.00 percent of total averages 6 districts. Conclussion. The good performances was component of the Medicine Regulatory Authority (MRA) and National Medicine Policy (NMP) component rather than Marketing, Inspection, Quality control, Combating counterfeit, Prescribing practices, Promotion, Medicine financing, Pricing, Guideline, Trade, and Rational drug use. Health post and Community health center perform less than hospitals cause of not adequate storage and dispensing condition and also unavailable pharmacist assistant permanently. The perform average variation by districts were the Dili district better than 5 districts others (i.e.Ainaro, Baucau, Bobonaro, Covalima and Oecusse) and by types of health facilities the Drug Outlet and private clinics perform less than private pharmacies.

Kata Kunci : Pharmacytl,TL pharmaceutical,TL publics and private health facilities,


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.