Luaran jangka pendek tindakan penjahitan dan tanpa penjahitan peritoneum pada seksio sesarea
USHAN, Eri Perdana, Prof. dr. H.Moh. Hakimi, Ph.D., SpOG(K)
2009 | Tesis | S2 PPDS 1-Obstetri dan GinekologiLatar belakang: Seksio sesarea merupakan tindakan bedah yang paling umum dikerjakan diseluruh dunia. Penjahitan peritoneum pada seksio sesarea telah lama dikerjakan pada tindakan bedah “tradisonalâ€. Alasan tindakan ini yaitu untuk mengembalikan anatomi normal, mencegah pembentukan perlekatan antara usus dan fascia atau uterus dan vesika urinaria, menurunkan risiko infeksi dan menurunkan risiko herniasi atau dehisensi sehingga dibutuhkan suatu evaluasi apakah tindakan ini perlu dilakukan atau tidak. Tujuan: Untuk mengetahui luaran jangka pendek pasca operasi pada tindakan tanpa penjahitan peritoneum yaitu demam, infeksi luka, nyeri abdominal, mobilisasi dan lama rawat inap. Rancangan penelitian: Randomized Controlled Trial (RCT) Bahan dan cara: Subyek penelitian adalah pasien dengan indikasi obstetrik untuk dilakukan seksio sesarea di RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta dan beberapa rumah sakit afiliasi lainnya yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pada kelompok kontrol (pembanding) dilakukan tindakan penjahitan peritoneum dan kelompok perlakuan dilakukan tindakan tanpa penjahitan peritoneum. Hasil: Total subyek penelitian adalah 270 subyek penelitian terdiri atas 135 pasien pada kelompok reperitonisasi (kontrol) dan 135 pasien dalam kelompok tanpa reperitonisasi (tindakan) dengan distribusi yang sama pada kedua kelompok berdasarkan umur pasien (28.5 vs. 28.35, p> 0.05), umur kehamilan (38.73 vs. 38.65, p> 0.05), proporsi paritas terbesar pada primigravida (55.6% vs. 56.3%, p> 0.05), indikasi seksio sesarea adalah indikasi janin (63% vs. 74.8% p> 0.05) dengan anesthesi regional (87.4% vs. 92.6%, p> 0.05). Pemberian antibiotik (ampicillin vs. cephalosporin) dijumpai perbedaan yang bermakna pada kedua kelompok (p< 0.05). Kejadian demam tidak ditemukan perbedaan pada kedua kelompok baik pada hari pertama (RR= 0.87, CL= 0.50-1.51), kedua (RR= 0.97, CL= 0.65-1.45), ketiga (RR= 1.53, CL= 0.87-2.69), keempat (RR= 2, CL= 0.37-10.74) atau pada evaluasi secara keseluruhan (RR= 1.13, CL= 0.78-1.63). Pada evaluasi nyeri pasca operasi dengan PAS tidak didapatkan perbedaan pada hari pertama (3.79 vs. 3.90, p>0.05), kedua (2.76 vs. 2.83, p>0.05), ketiga (1.97 vs. 2.03, p>0.05) atau keempat (1.21 vs. 1.29, p>0.05). Luaran mobilisasi bermakna pada mobilisasi hari pertama (tidur – duduk, p< 0.05) dan kedua (duduk – berdiri, p< 0.05). Lama rawat inap tidak didapatkan perbedaan (p> 0.74, 95%CL -0.19-0.16). Simpulan: Tindakan reperitonisasi pada seksio sesarea tidak perlu dilakukan karena: tidak meningkatkan luaran demam pasca operasi, nyeri pasca operasi yang sama, pengembalian mobilisasi pasien yang lebih cepat dan lama rawat inap yang sama.
Background: Caesarean section is a very common surgical procedure worldwide. Closure of the parietal peritoneum at lower abdominal surgery has long been advocated in traditional surgical training. The reason for this is to establish normal anatomical relations, to prevent adhesion formation between the intestines and fascia or between uterus and fascia, to reduce the risk of infection and to reduce the risk of herniation or dehiscence, hence the need to evaluate whether this step should be omitted or not. Objective: To evaluate short-term post operative outcome of non-closure of peritoneal such fever, wound infection, abdominal pain, mobilization and hospitalization. Study design: Randomized Controlled Trial (RCT) Material and methods: Research subject is patient with obstetrics indication for cesarean section in RSUP Dr. Sardjito Jogjakarta and other affiliate hospitals fulfilling criterion inclusion and exclusion. Subjects were randomized into control group conducted peritoneal closure and treatment group conducted non-closure of peritoneal. Result: There were 270 research subjects consisted of 135 patients at group of peritoneal closure and 135 patients group of non-closure peritoneal with the equal distribution at both groups based on patient age (28.5 vs. 28.35, p> 005), pregnancy age (38.73 vs. 38.65, p> 005), proportion of the biggest parity is primigravida (55.6% vs. 56.3%, p> 005), indication cesarean section is indication of fetal (63% vs. 74.8%, p> 005) with regional anesthesia (87.4% vs. 92.6%, p> 005). Antibiotic giving is met difference (ampicillin vs. cephalosporin) having a meaning (of) at both groups ( p< 005).Case of fever is not found difference at both groups at first day (RR= 0.87, CL= 0.50-1.51), second ( RR= 0.97, CL= 0.65-1.45), third (RR= 1.53, CL= 0.87-2.69), fourth (RR= 2, CL= 0.37-10.74) or at entire evaluation ( RR= 1.13, CL= 0.78-1.63). At evaluation of post operative pain with PAS is no difference at first day (3.79 vs. 3.90, p>005), second (2.76 vs. 2.83, p>005), third (1.97 vs. 2.03, p>005) or fourth (1.21 vs. 1.29, p>005). Mobilization outcome haves a meaning at mobilization on the first day (sleep - sits, p< 005) and second (sits - stands up, p< 005). Length of stay in hospital is no difference in both groups (p> 074, 95%CL - 019 - 016). Conclusion: Peritoneal closure at cesarean section is not necessarily be done by: equal post operation fever, reduces wound infection, reduces wound infection, equal post operative abdominal pain outcome, quicker return of mobilization and equal length hospitalization.
Kata Kunci : Seksio sesarea,Tanpa penutupan peritoneum,Penutupan peritoneum,Uji acak terkontrol,Luaran morbiditas,Morbiditas pasca operasi,cesarean section,non-closure peritoneal,peritoneal closure,randomized controlled trial,outcome measures,post-operative morbidity