Perbandingan nilai TNF-alpha dan IL-6 antara cairan peritoneal dan darah pada pasien endometriosis
PERWIRA, Isnaina, Prof. dr. H.M. Anwar, M.Med.Sc, SpOG(K)
2009 | Tesis | S2 PPDS 1-Obstetri dan GinekologiLatar Belakang: Prevalensi Endometriosis pada usia reproduksi berkisar 5-20%, menyebabkan dismenorhea 40-60% dan menimbulkan pasangan infertil pada 35-40% kasus. Sampai saat ini tidak ada alat non invasive atau penanda serum atau biomarker lainnya yang definitive, mampu menggantikan peran laparaskopi sebagai standar baku diagnosis endometriosis. Dengan tidak adanya biomarker yang definitive menyebabkan keterlambatandiagnosis dan terapi, biaya yang lebih mahal dan risiko pembedahan yang lebih besar. Tujuan: Untuk mengetahui perbandingan nilai pemeriksaan Interleukin 6 (IL 6) dan Tumor Necroting Factor α (TNF α) antara cairan peritoneal dan darah dalam mendeteksi Endometriosis. Rancangan Penelitian: Cross Sectional Tempat: Klinik Infertilitas Permata Hati dan Kesehatan Reproduksi RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Bahan dan cara: Sampel penelitian diambil pada bulan Agustus sampai dengan Oktober 2008. Setiap pasien dengan endometriosis dilakukan pengambilan darah sebanyak 10 cc sesaat sebelum dilakukan operasi laparaskopi dan cairan peritoneal sebanyak 10 cc segera setelah laparaskop memasuki rongga abdomen. Diagnosis endometriosis ditegakkan berdasarkan laparaskopi yang dikonfirmasikan dengan pemeriksaan patologi anatomi. Serum darah dan cairan peritoneal ditempatkan pada wadah steril dan dikirim ke laboratorium biologimolekuler FK.UGM. Hasil: Kadar TNF-α pada cairan peritoneal terdapat perbedaan secara statistik dengan nilai p: 0,001 ( p < 0,05 dan rata-rata IL-6 adalah 4.546 ± 6.742 sedang pada TNF-α sebesar 0.734 ± 0.26. Pada IL-6 mempunyai rata-rata lebih tinggi dibanding TNF-α ( p < 0.05 ) Serum darah tidak ada perbedaan yang bermakna terhadap kadar IL-6 dan TNF-α dengan p = 0.091 (p > 0.05). Kesimpulan: IL-6 dan TNF-α gagal dijadikan alat diagnosis endometriosis noninvasive.
Background : Endometriosis prevalence at reproduction age range 5-20% caused dysmenorrheal 40-60% and result infertile couple at 35-40% cases. Until today, there are no definitive non-invasive tools nor serum marker nor other biomarker, which capable of substituting the role of laparoscopy as the ….of endometriosis diagnose. The absence of the definitive biomarker result in late of diagnose and therapy, more expensive and riskier surgery. Objective: To assess the ratio on the value of the Interleukin 6 (IL 6) and Tumor Necroting Factor α (TNF α) between peritoneal luquid and blood in detecting Endometriosis. Research Method : Cross Sectional Setting : Clinic of Infertility Permata Hati and Reproduction Health RSUP Dr Sardjito Yogyakarta. Material and Method : Research samples were taken from August until October 2008. Ten cc of blood sample were taken from every endometriosis patient just before laparascopy surgery and 10 cc of peritoneal liquid also taken just after laparascope enters the abdomen cavity. Endometriosis diagnose based on laparascope confirmed with patological anatomy check. Blood serum and peritoneal liquid placed on sterile case and sent to the biologymolecular laboratory FK UGM. Results : TNF-α in the peritoneal liquid have statistical difference by tha value p= 0,001 (p<0,05) and IL-6 average is 4.546±6.72 while TNF-α average us 0.743±0.26. IL-6 have higher average value than TNF-α (p<0.05) Blood serum dont have significant difference to IL-6 and TNF- α with p = 0.091 (p<0.05). Conclusion : IL-6 and TNF- α failed to be non-inasive endometriosis diagnose tool.
Kata Kunci : Laparaskopi, IL-6, TNF-α, Laparascopy