Laporkan Masalah

Jenis dan kinerja pelayanan kesehatan daerah terpencil di Propinsi Papua

KRIDOSAKSONO, Juzak Totok, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Menurut Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Propinsi Papua, Pemerintah Papua bertekad untuk memberi pelayanan kesehatan yang terbaik kepada seluruh penduduk Papua. Berdasarkan kondisi lapangan diketahui bahwa di Propinsi Papua masih terdapat 14 titik wilayah terpencil dan terisolir yang secara sosial, ekonomi dan budaya belum tersentuh dan terjangkau oleh pelayanan pembangunan dan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengetahui seperti apa jenis pelayanan kesehatan daerah terpencil di Propinsi Papua dan bagaimana kinerja pelayanan kesehatan Pemerintah dalam pelayanan kesehatan masyarakat terpencil di Propinsi Papua. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif eksploratif dengan rancangan penelitian studi kasus. Lokasi penelitian dipilih pada 3 titik daerah terpencil, yaitu Terpones, Bias dan Bora-Bora. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan penelitian kualitatif. Jenis pelayanan yang telah dilaksanakan Pemerintah/Dinas Kesehatan di daerah terpencil antara lain: (1) Pelayanan Dokter Terbang, (2) Dokter Jalan Kaki, (3) Puskesmas Terapung, (4) Mobile klinik (5) Operasi Bhaskara Jaya. Kebijakan pelayanan kesehatan selama ini dilakukan melalui 3 cara, yaitu (1) pelayanan kesehatan oleh Gereja/LSM, (2) pelayanan kesehatan oleh BPMD bekerjasama dengan Gereja/LSM, dan (3) pelayanan kesehatan oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Gereja/LSM. Pemerintah/Dinas Kesehatan dalam pelayanan kesehatan di daerah terpencil memiliki multi peran, antara lain sebagai pelaksana, regulator, fasilitator dan supervisor, namun demikian peran tersebut masih sangat lemah. Faktor kendala pelayanan kesehatan antara lain: (1) keterbatasan anggaran (2) lokasi yang terisolir, (3) masalah transportasi, (4) cuaca, (5) jadwal penerbangan yang selalu berubah-ubah (6) Sulitnya mengumpulkan masyarakat, dan (7) budaya masyarakat. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kinerja pelayanan kesehatan Pemerintah/Dinas Kesehatan di daerah terpencil masih sangat kurang jika dinilai dari aspek responsivitas, responbilitas, akuntabilitas, produktivitas dan kualitas pelayanan.

According to the act Number 21, 2001 on the special autonomous of Papua Province, District Government of Papua has determined to give the best health care to all of Papua inhabitant. Based on the field condition was identified that there are 14 cloistered and isolated areas at Papua Province, either social, economy and culturally untouchable and reached by development and health care. This research aims to find out what kinds of health care given to cloistered area at Papua Province and how performance of government’s health care on giving health care to cloistered community at Papua Province. The method used is explorative descriptive research with case study research design. Location was picked at 3 cloistered areas, Terpones, Bias dan Bora-Bora. The rtesearch approach used was qualitative approach. The kinds of health care given by government/Health Department to cloistered area were (1) Flying Doctor, (2) Walking Doktor, (3) Floated Puskesmas, (4) Clinic Mobile, (5) Bhaskara Jaya Operation. The health care policy was carried out in 3 ways, (1) health care by the Church/NGO, (2) health care by BPMD in collaboration with the Church/NGO, and (3) health care by Health Department in collaboration with the Church/NGO. The Government/Health Department has multi roles at giving health care, among other as implementor, regulator, facilitator dan supervisor, but these roles most lowest. Factors being obstacle of health care were: (1) limited budget (2) cloistered and isolated location, (3) transportationi, (4) weather, (5) changeable flight schedule (6) difficulty to gather the community, and (7) community culture. This research was also idicated that the health care performance of Government/Health Department at the cloistered area was most poorly if evaluated from responsivity, responbility, accountability, productivity and service quality aspects.

Kata Kunci : Pelayanan kesehatan,Daerah terpencil,Kinerja pelayanan, Health Care, Cloistered Area, Service Performance, Church/NGO


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.