Laporkan Masalah

Determinan pengeluaran kesehatan katastrofik di Indonesia

HARIYADI, Ki, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, MSc., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar belakang: Kemiskinan dan keadilan merupakan dua masalah utama yang dihadapi setiap negara dewasa ini. Millenium Development Goals bertujuan menghapus kemiskinan dan menciptakan keadilan pelayanan kesehatan, salah satunya adalah keadilan pembiayaan. Pengeluaran kesehatan terutama bersumber out of pocket dapat menyebabkan pengeluaran katastrofik, melemahkan ekonomi dan menjadikan miskin. WHO menghitung tahun 2005 terdapat 44 juta rumah tangga katastrofik dan 25 juta diantaranya menjadi miskin. Program pembiayaan keluarga miskin diharapkan sebagai solusi. Penelitian ini bertujuan mengetahui proporsi rumah tangga katastrofik, determinannya dan memberi gambaran keadilan pembiayaan kesehatan di Indonesia. Metode: Pengolahan data Susenas dengan rancangan penelitian crosssectional. Pendekatan analisis univariat, bivariat dan multivariat. Lokasi penelitian di seluruh propinsi di Indonesia dengan unit analisis rumah tangga. Regresi logistik untuk menentukan determinan katastrofik dan indeks Gini mengukur ketimpangan pengeluaran kesehatan. Hasil: Rumah tangga yang mengalami pengeluaran kesehatan katastrofik sebesar 5,46% (2001) dan 5,70% (2004). Status ekonomi rendah, rawat inap, tidak memiliki asuransi, memiliki anggota berusia lanjut dan balita berisiko besar mengalami katastrofik. Pendidikan dan jumlah anggota rumah tangga bukan determinan katastrofik. Hubungan positif rasio dokter spesialis dengan katastrofik rumah tangga. Kelompok miskin secara proporsi membayar lebih besar untuk pengeluaran kesehatan dibandingkan kelompok kaya, dengan indeks Gini sebesar 0,407 (2001) dan 0,154 (2004). Kesimpulan:. Determinan pengeluaran kesehatan katastrofik adalah status ekonomi, rawat inap, status asuransi, anggota berusia lanjut, dan anggota balita. Pemerintah harus memberi prioritas utama terhadap faktor-faktor.tersebut. Pengeluaran langsung kesehatan belum proporsional dengan kemampuan ekonomi masyarakat, keadilan pembiayaan masih belum terwujud.

Background: Poverty and equity are two current major poverty reduction global issues. The Millenniums Development Goals have stated as one of its goals. Catastrophic health expenditure may lead vulnerable households to fall into poverty. This study aimed to examine determinants of catastrophic health expenditure study. Method: Susenas data were obtained by cross-sectional study. The study location was in the provinces of Indonesia with household analysis units. This study used univariate, bivariate and multivariate analytic approaches. Logistic Regression was used for determinant factors and Gini index was used measuring health expenditure imbalance. Result: Percentages of household catastrophic health expenditures increase from 5.46% (2001) to 5.70% (2004). Low economic status, inpatient care, no having health insurance, older members and under-5- years have higher risk catastrophic; whereas, variables of education and total household members did not affect. There is positive correlation between ratio specialist doctors and household catastrophic. The poorest level to pay more to health care with Gini index is 0.407 (2001) and 0.154 (2004). Conclusion: The determinants for catastrophic health expenditure include inpatient care, older member, under-5-years babies, low economic status, and insurance status. The Government should place higher priority by to these factors. Out of pocket payments for health had not been proportional to economic ability, has not been realized equity yet.

Kata Kunci : Pengeluaran langsung kesehatan,Kemampuan membayar masyarakat,Pengeluaran katastrofik,Keadilan pembiayaan kesehatan,out of pocket payments,ability to pay for society,catastrophic expenditure,equity in health financing


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.