Laporkan Masalah

Spatial analysis of volcanic risk perception :: Case study in local community at Merapi volcano dangerous zones

RIANTO, Tony, Dr. M.R. Djarot Sadharto Widyatmoko, M.Sc

2009 | Tesis | S2 Geo-Information for Spatial Planning and Risk M

Persepsi masyarakat terhadap risiko merupakan dasar bertindak dan mensikapi kemungkinan adanya bahaya dalam kehidupan sehari-hari dan sebagai pertimbangan dalam menentukan kegiatan-kegiatan preventif. Untuk merencanakan strategi kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan bencana, hal yang harus diketahui adalah persepsi masyarakat terhadap risiko-risiko dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan utama dari studi ini adalah memberikan masukan untuk mewujudkan manajemen bencana berbasis masyarakat, terutama dalam upaya peringanan bahaya gunung-api Merapi di Kabupaten Sleman. Tujuan utama ini yang dibagi menjadi tiga sasaran khusus, yakni untuk mengidentifikasi persepsi masyarakat terhadap risiko gunung api pada zona bahaya yang berbeda; untuk menguraikan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi masyarakat terhadap risiko gunung api pada zona bahaya yang berbeda; dan untuk menguraikan penerimaan masyarakat lokal terhadap programprogram mitigasi bencana dari pemerintah pada zona bahaya Gunung api Merapi. Suatu pendekatan studi kasus diterapkan di dalam riset ini. Studi lapangan dilaksanakan dalam tiga zona bahaya yang berbeda dari gunung api Merapi, yang yang digunakan sebagai dasar untuk metoda sampling berlapis. Sembilan puluh responden diwawancarai untuk memperoleh data primer, tiga puluh orang untuk masing-masing zona bahaya. Riset dilaksanakan pada bulan Oktober 2008 sampai dengan Februari 2009. Wawancara dengan pemerintah lokal dan pengumpulan data sekunder dari kantor-kantor pemerintah dilaksanakan untuk mendukung analisa lebih lanjut. Hasil penelitian dipresentasikan di dalam bentuk deskriptif tabulatif dan peta, yang menunjukkan bahwa masyarakat mempunyai pandangan yang realistis terhadap risiko dengan tingkat persepsi yang berbeda; persepsi risiko masyarakat di zone yang lebih berbahaya lebih tinggi dibanding mereka yang hidup di zone yang lebih aman. Faktor-faktor personal seperti pengendalian emosi, segi pandang terhadap lingkungan, dan toleransi terhadap perbedaan informasi, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai tradisional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi risiko peristiwa vulkanik. Studi juga menunjukkan korelasi penerimaan masyarakat terhadap program-program pemerintah dan persepsi mereka terhadap risiko gunung berapi; pada zona bahaya dimana tingkat peran serta masyarakat tinggi, mempunyai tingkat persepsi yang tinggi pula. Banyak usaha telah dibuat oleh pemerintah Kabupaten Sleman untuk memperkecil dampak negatif dari bahaya gunung berapi, baik program-program fisik maupun non-fisik. Memperhatikan perbedaan-perbedaan persepsi resiko, pemerintah lokal perlu memerlukan pendekatan yang terintegrasi termasuk pendekatan sosial dan budaya pada setiap zona bahaya.

People risk perception is considered being fundamental for the behavior towards risks and for the decision to take preventive measures. In order to develop policies and management strategies for dealing with disaster, the perception of risks and the influencing factors should be known. The main objective of this study is making contribute to achieving community based disaster management particularly in volcanic hazard mitigation of Merapi volcano at Sleman Regency. This main objective is divided into three specific objectives, namely to identify the perception of volcanic risk of the local community that live in different levels of dangerous zone; to describe the factors influencing the perception of volcanic risk of the local community in different levels of dangerous zone; and to describe the local people acceptance of government programs and its influence in volcanic risk perception of local people in different level of dangerous zones of the Merapi Volcano. A case study approach was applied in this research. The field study was carried out in three different dangerous zones of Merapi volcano, which used for the base of stratified sampling method. Nineteenth respondents were interviewed in order to obtain the primary data, thirteen persons for each dangerous zone. The research took place in the period from October 2008 to February 2009. Interview with the authorities and collecting secondary data from local government agencies were done contributing to the further analysis. Presenting in descriptive tabulation and mapping techniques, result indicated that people have a realistic view of the risk with different level of risk perception; people living in more dangerous zone is higher than they live in safer zone. Personality factors such as fate control, point of view of nature, and their tolerance of information differences, personal experiences, and traditional rules are factors influencing their risk perception of volcanic events. The study also demonstrated the correlation between people acceptance of government programs and their risk perception; dangerous zone with high level of people involvement has high acceptance on government programs. Many efforts have been made by the local government of Sleman Regency to minimize the negative impact of volcanic hazard, both of structural or non-structural programs. Considering with risk perception differences, local authority should require an integrated approach including social and cultural character in each dangerous zone.

Kata Kunci : Volcanic risk,Risk perception,Dangerous zones,Goverment programs, Risiko gunung berapi, persepsi risiko,zona bahaya, program pemerintah


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.