Laporkan Masalah

Study pengaruh rehabilitasi hutan sub DAS Besai terhadap kelestarian operasional bendungan PLTA Besai Kabupaten Lampung Barat

PUTRA, Wirawan Adhy, Dr. Ir. Bambang Agus Kironoto

2009 | Tesis | S2 Magister Pengelolaan Sumber Daya Air

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji laju perubahan erosi dan sedimentasi akibat aktifitas pengelolaan hutan yang telah dilakukan oleh masyarakat di Daerah Tangkapan Air dan mengkaji pengaruh rehabilitasi hutan di Sub DAS Besai terhadap kelestarian operasional bendungan PLTA Besai. Program Arc View versi 3.3 dan penghitungan erosi dengan metode USLE digunakan untuk membantu analisa penyelesaian masalah dalam penelitian. Estimasi produksi listrik yang dihasilkan, flushing dan pengerukan sedimen di analisa menggunakan kriteria ekonomi dan setelah itu menghitung NPV operasi PLTA Besai jika ada kegiatan Hutan Kemasyarakatan (HKm) dan jika tidak ada kegiatan HKm. Dengan aktifitas rehabilitasi hutan telah diperoleh hasil kajian tentang karakteristik nilai laju erosi. Besarnya penurunan erosi jika ada kegiatan HKm dengan teras bangku kualitas sedang sebesar 1.16 mm/tahun dan konstan di tingkat erosi 3.4 mm/tahun pada tahun 2017 hingga tahun 2031, jika ada kegiatan HKm dengan teras tradisional sebesar 0.56 mm/tahun dan konstan di tingkat erosi 9.74 mm/tahun pada tahun 2017 hingga tahun 2031. Jumlah sedimen kumulatif untuk tiga kondisi: 1) jika tidak ada kegiatan HKm sebanyak 10.8 juta m3, 2) jika ada kegiatan HKm dengan teras tradisional sebanyak 6.2 juta m3, 3) jika ada kegiatan HKm dengan teras bangku kualitas sedang sebanyak 3.6 juta m3 di tahun 2031; sedangkan kapasitas tampungan efektif bendungan hanya 1.2 juta m3. Kemudian bila dilakukan pengerukan sedimen maka frekwensi pengerukan yang perlu dilakukan jika tidak ada kegiatan HKm adalah sebanyak 6 (enam) kali yaitu pada tahun 2008, 2013, 2017, 2021, 2025 dan 2028; jika ada kegiatan HKm dengan teras tradisional maka frekwensi pengerukan sedimen berkurang menjadi 3 (tiga) kali yaitu pada tahun 2008, 2014 dan 2021; dan jika ada kegiatan HKm dengan teras bangku kualitas sedang frekwensi pengerukan sedimen hanya 2 ( dua) kali yaitu pada tahun 2008 dan 2017. NPV operasi PLTA Besai jika ada kegiatan HKm dengan teras bangku kualitas sedang, jika ada kegiatan HKm dengan teras tradisional, dan jika tidak ada kegiatan HKm adalah sebanyak 135.2 milyar, Rp. 89.9 milyar dan Rp. 13.3 milyar.

This research is intended to study the change of erosion rate and sedimentation as the result of forest management activity conducted by local community within the basin and carefully study the impact of reforestation program in West Lampung Regency river basin on the Besai HEPP sustainability. In this research, Arc View software version 3.3 and USLE method are applied to calculate the rate of erosion. Then, the result of estimated electricity production, flushing frequency and dredging of sediment are analyzed using economic criteria. The final measure is calculating Besai HEPP operation NPV without aplying Community Base Forest Management (CBFM) and aplying Community Base Forest Management (CBFM). With the reforestation activities had the result about the characteristic of erosion rate value. Aplying Community Base Forest Management (CBFM) with Moderate Bench Terrace Method, erosion rate is predicted to be reduced to 1.16 mm/year and starting 2017 constantly stayed in the level 3.4 mm/years. Aplying CBFM with Traditional Terrace Method, erosion rate is predicted to be reduced to 0.56 mm/year and constantly maintained in the level of 9.74 mm/year. While the effective storage of Besai HEPP is only 1.2 million m3; the cumulative amount of sediment for three condition: 1) without applying CBFM, aplying CBFM with Traditional Terrace Method, and aplying CBFM with Moderate Bench Terrace Method are 10.8 million m3, 6.2 million m3, 3.6 million m3 respectively (at 2031). Without CBFM, dredging of sediment frequency is six times in 2008, 2013, 2017, 2021, 2025, 2028; when applying CBFM with Traditional Terrace Method it is reduced to three times conducted 2008, 2014, and 2021; and it will be greatly reduced to two times conducted in 2008 and 2017 when applying CBFM with Moderate Bench Terrace Method. The value of the Besai HEPP operation NPV after aplying CBFM with Moderate Bench Terrace, Traditional Terrace, and without aplying CBFM are IDR. 135.2 billion, IDR. 89.9 billion, and IDR. 13.3 billion respectively.

Kata Kunci : Hutan kemasyarakatan (HKm),Teras,Pengerukan sedimen,Net Present Value (NPV), community base forest management (CBFM), terrace method, dredging of sediment , Net Present Value (NPV)


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.