Penggunaan limbah pabrik spritus (blotong) sebagai bahan perekat pada proses pembuatan briket arang dari sampah organik
SUNGKANA, Ir. Moh. Fahrurrozi, M.Sc., Ph.D
2009 | Tesis | S2 Magister Sistem TeknikPermasalahan sampah perkotaan saat ini mendapat perhatian yang serius. Di Kabupaten Sleman, jumlah sampah yang ditangani oleh pemda mencapai 6.776,91 m3/bulan, dimana sebagian besar merupakan sampah organik yang berasal dari pasar, sapuan jalan dan taman. Sampah tersebut dapat diolah menjadi sumber energi berupa briket arang dengan menggunakan bahan perekat yang tepat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh penggunaan limbah pabrik Spiritus (blotong Spiritus ) sebagai bahan perekat terhadap kualitas briket arang dari sampah organik. PT Madu Baru (industri etanol) merupakan perusahaan yang menghasilkan limbah padat berbentuk sludge bernama blotong. Blotong, bahan yang lengket, merupakan bahan perekat potential berharga murah untuk produksi briket. Dalam penelitian ini, bahan baku berupa daun kering tanaman angsana, mahoni dan mangga dipotong-potong dengan ukuran maksimal 10 cm untuk dipirolisis. Kemudian arang hasil pirolisis dihancurkan dan dicampur dengan bahan perekat dengan komposisi campuran blotong dan kanji 0% sampai 100%, lalu dikempa dalam alat press hidraulik. Briket kemudian dikeringkan dan dianalisa karakteristiknya, yaitu nilai kalor, kadar air, abu, zat mudah menguap, karbon terikat dan laju pembakaran. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pati kanji memiliki nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan blotong. Oleh karena itu, semakin besar konsentrasi blotong sebagai bahan perekat, semakin rendah kualitas briket arang yang dihasilkan. Briket arang dengan kualitas terbaik dihasilkan dari bahan perekat blotong 0% (kanji 100%), dimana nilai kalornya 3718,74 kal/g, kadar karbon terikat 45,17%, kadar air 14,14%, kadar abu 30,33% dan kadar zat mudah menguap 10,34%. Akan tetapi, penggunaan blotong sebagai bahan perekat akan menambah daya tahan briket saat pembakaran sehingga lebih awet. Untuk menghasilkan briket arang dengan kapasitas 600 kg/bulan, dibutuhkan modal tetap Rp. 15.250.000 dan modal kerja Rp. 1.711.250, dengan total penjualan Rp. 2.100.000 dan keuntungan bersih Rp. 388.250 per bulan. Sedangkan nilai BEP sebesar 489 kg/bulan; B/C Ratio 1,23; ROI 2,54%; dan PBP 3,27 tahun.
The urban waste has been a serious problem this time. In Sleman Regency, total amount of waste that has to be handled by the local government is 6.776,91 m3/month, most of which are organic waste from market, road and park sweeping. These organic material can be utilized to energy source like char briquette by using adhesive material. The objective of this research is to study the influence of spiritus waste (blotong) as adhesive material to char briquette quality from organic waste. PT Madu Baru (ethanol industry) produces solid waste in form of sludge called blotong. Blotong, sticky material, is a potential low cost adhesive material for briquette production. In this research, raw material like dry leafs of angsana, mahogany and manggo plants were crushed with maximum 10 cm length to be pyrolized. The char were crushed and mixed by adhesive material with various composition of blotong and tapiocca ranging from 0% until 100%. Then, it was pressed with hydraulic press, dried and analized the characterization, includes caloric value, water content, ash content, fixed carbon content, volatile matter content and also burning characteristic. The result of this research showed that tapiocca had higher caloric value than blotong. So, the increase on concentration of blotong as adhesive material, decreasing caloric value of briquette. The best quality was char briquette that produced with 0% blotong (100% tapiocca) as adhesive material, with caloric value of 3718,74 cal/g, fixed carbon content of 45,17%, water content of 14,14%, ash content of 30,33% and volatile matter content of 10,34%. But, using of blotong as adhesive material increased the burning time of briquette. For the production capacity of 600 kg of briquette/month, it was needed Rp. 15.250.000 of fixed capital investment and Rp. 1.711.250 of working capital investment. This is expected to give total sale of Rp. 2.100.000 and net profit of Rp. 388.250 per month. The BEP value is estimated 489 kg/month, and the B/C Ratio is 1,23, while ROI and POT are estimated 2,54% and 3,27 years respectively.
Kata Kunci : Sampah organik,Briket arang,Bahan perekat,Blotong Spiritus,Kanji, Organic waste, Char briquette, Adhesive material, Spiritus blotong, Tapiocca