Kajian awal kelayakan pembangkitan energi listrik tenaga mikrohidro di Desa Tumbang Kelamei Kecamatan Katingan Tengah Kabupaten Katingan Kalimantan Tengah
TERUNA, Juli Chandra, Ir. Soedjatmiko, M.Sc
2009 | Tesis | S2 Teknik ElektroKebutuhan energi listrik dewasa ini tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Pembangunan pusat pembangkit energi listrik diupayakan untuk memenuhi kebutuhan energi listrik yang semakin meningkat. Seiring dengan kemajuan teknologi, pemanfaatan energi terbarukan dan pengembangan desain pembangkitan energi listrik dengan memanfaatkan energi air, angin matahari dan air laut terus dilakukan sehingga daerah-daerah terpencil dan terisolasi yang memiliki potensi alam yang memadai dapat membangun pusat pembangkit energi listrik sendiri untuk memenuhi kebutuhan energi listrik di daerahnya. Desa Tumbang Kelamei yang terletak ± 130 km dari Kota Kasongan ibukota Kabupaten Katingan di Propinsi Kalimantan Tengah sampai saat ini belum tersentuh pelayan energi listrik dari PT. PLN. Berdasarkan hasil penelitian di lapangan, kondisi geografis dengan perbedaan ketinggian berupa dataran rendah dan tinggi yang berbukit dengan jatuh air efektif terukur (Hnet) 5 meter dan potensi aliran sungai dengan debit air terhitung (Q) 1,3 m3/detik, memungkinkan desa ini secara teknis untuk merencanakan pembangunan pembangkitan listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas pembangkitan daya listrik mencapai 45,14 kW. Perencanaan pembangunan PLTMH di Desa Tumbang Kelamei ini juga memperhatikan jumlah kepala keluarga dan kebutuhan minimum daya listrik yang akan digunakan setiap keluarga sehingga perlu didesain kebutuhan beban dan waktu pemakaian beban untuk setiap keluarga dengan menyesuaikan rencana daya listrik yang akan dibangkitkan. Estimasi biaya rencana pembangunan PLTMH ini cukup besar sekitar Rp. 18.544.954 per 1 kW terbangkit, hal ini disebabkan karena jumlah kepala keluarga dan kebutuhan daya listrik yang cukup besar serta rencana lokasi pembangunan PLTMH cukup jauh dari pusat beban.
At present the need for electrical energy is inevitable in human life. The building of power plants should be sought to meet the increasingly high needs for electrical energy. As technology progresses, the utilization of renewable energy and the development of power plant design by exploiting energies based on water, wind, sunshine, and sea water should be continuously done, so much more remote isolated regions can build the power plants themselves to meet the need for power in their own regions. Tumbang Kelamei Village located in distance of +130 km from Kasongan City, Katingan Regency, Central Kalimantan Province, is one of the regions with no electrical power service from PT. PLN. Based on result of this study, it can be known that geographical conditions with different elevation, such as lowlands and hilly uplands with the measured height (HNet) of effectively falling water of 5 m, and with the potentials of river flow with the calculated water discharge (Q) of 1.3 m3/s, allow the village to technically plan the building of micro hydro power plant with capacity of 45.14 kW. Result of the study indicates that the planning of building the power plant in Tumbang Kelamei considered number of family heads and the minimum of the need for power that will be used by each family. Therefore, it was necessary to design the need for load and time of load usage for each family adapted to the plan of power plant that will be built. The estimated costs for building the power plant were large enough of approximately IDR 18,544,954 per 1 kW of generated power because the number of family heads and the needs for power was sufficiently large and the location planned for building the power plant was very long in distance from center of the load.
Kata Kunci : Ketinggian jatuh air efektif (Hnet),Debit air (Q),Daya terbangkit,Desain kebutuhan beban,Jumlah kepala keluarga, Head netto (Hnet), water discharge (Q), generated power, load requirement, number of the family heads