Laporkan Masalah

Konteks spasial, ekonomi dan kebudayaan keberadaan SMK Kelautan di Kabupaten Kulon Progo

SUTARMAN, Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Otonomi Daerah meletakkan kebijakan desentralisasi dengan penyerahan wewenang dan tanggung jawab dari institusi tingkat pusat kepada daerah. Di Kabupaten Kulon Progo misalnya, desentralisasi di bidang pendidikan dilakukan dengan pendirian SMK Kelautan, karena mempunyai potensi dan karakteristik lokal wilayah berupa laut dengan panjang pantai 24,6 kilometer. Keberadaan SMK Kelautan tersebut menarik untuk diteliti dari konteks spasial, ekonomi dan sosial budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah induktif fenomenologis. Peneliti menjadi instrumen utama yang mengumpulkan data dengan wawancara mendalam terhadap responden yang berhubungan dengan keberadaan sekolah, yaitu : kepala sekolah, guru, siswa, kepala desa/camat, tokoh masyarakat dan pengambil kebijakan. Analisis data dilakukan dengan teknik triangulasi melalui wawancara, pengamatan dan dokumen dengan metode induksi untuk mendapatkan konsep dan teori. Hasil penelitian mengungkapkan adanya tiga konteks keberadaan SMK Kelautan yaitu spasial, ekonomi dan sosial budaya. Konteks spasial terdiri dari pemberdayaan potensi laut dan lokasi keberadaan sekolah yang strategis. Sekolah mempunyai akar pada konteks spasial dengan adanya potensi pengembangan di bidang kelautan dan perikanan, dukungan infrastruktur kelautan, interaksi dengan nelayan setempat dan kemudahan aksesibilitas ke sekolah. Konteks ekonomi yang terkandung adalah sekolah menyiapkan siswa mendapatkan suatu pekerjaan guna pemberdayaan potensi lokal dan dunia kerja. Konteks sosial budaya yang terkandung adalah transformasi budaya dari pertanian ke maritim. Transformasi budaya ini terjadi melalui penyaluran budaya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi melaut, kedisiplinan, ketahanan fisik, rasional berpikir dari interaksi siswa dengan masyarakat serta keterbatasan pengembangan sektor pertanian. Selain itu penelitian ini menemukan prospek adanya kesinambungan keberadaan SMK Kelautan karena dapat menjawab harapan pekerjaan yang lebih baik, kualitas sekolah, keterjangkuan biaya dan akses menuju sekolah yang mudah. Hasil penelitian ini menemukan pentingnya pengembangan wilayah dilakukan dengan pendirian sekolah berbasis potensi lokal.

Local Autonomy Policy places decentralization policy on the delegation of authority and responsibility from central institutions to those at the local level. In Kulon Progo Regency, desentralization of educational sector was shown by the establisment The Maritime Vocational School by taking into account the local potentials and characteristics of region, particularly seas with a beach of 24.6 km in length. The Establisment of the such School is interesting to be evaluated based on spatial, economic, and socio-cultural contexts. This reseach used inductive phenomenological method. Reseacher, as the main instrument, was collecting data by adopting an in-depth interview method with respondent who related the establishment of the school such as: headmaster, teachers, students, villager/regent, community leaders and policy makers. The data analysis was conducted by using a triangulation method from interviews, observation and documentation with an inductive method for constructing concept and theory. The research shows that there are three contexts of the establishment of the Maritime Vocational School such as: spatial, economic, and socio-cultural contexts. Spatial contexts consist of sea-related potentials and strategic location of the school. The school have a source on spatial context, with existence of optimaling development areas in maritime and fishing sectors, supports of maritime infrastructure, interaction with local community and facilitation to access the school. Economic context consist of the efforts for making students more well-prepared in achieving jobs that is needed for locally potentials and career. Socio-cultural context consist of the cultural transformation from agricultural to maritime traditions. In fact, the socio-cultural transformation occured through transmissions of sailor sciences and technologies, discipline, physical resilience, rational thinking from interaction between students and community, and limited agricultural potentials development. In addition, this research found the prospects of continuity of the existence of the school are supported by expectation for better work, school quality, cost affordability, and easy access to the school. This research argues the importance of local development to continue support the school by taking into account the local potentials.

Kata Kunci : Maritim,Sekolah kejuruan,Pengembangan Wilayah,Kulon Progo, Maritim, The Vocational School, local development, Kulon Progo


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.