Laporkan Masalah

Proses pembangunan gedung sekolah dasar pasca gempa bumi di Kecamatan Jetis Kabupaten Bantul

YULIATUN, Vita, Ir. Sudaryono, M.Eng., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Gempa bumi yang terjadi di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter, menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi warga masyarakat Yogyakarta. Gempa bumi tersebut mengakibatkan korban yang besar termasuk gedung sekolah yang roboh, rusak berat maupun rusak ringan. Selain itu juga mengakibatkan rusaknya instalasi listrik dan jaringan komunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembangunan gedung sekolah pasca gempa dan bagaimana proses penyaluran bantuan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan induktif. Metode ini digunakan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana proses pembangunan gedung sekolah pasca gempa dan bagaimana proses penyaluran bantuannya. Pengumpulan data dilakukan dengan empat cara, yaitu : (1) observasi, (2) wawancara, (3) studi dokumentasi, dan (4) triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan 4 hal penting : pertama, bantuan datang secara spontanitas atau tiba-tiba karena sifatnya mendesak. Bantuan spontanitas ini menyebabkan adanya sekolah yang menerima bantuan lebih dari satu dan dari sumber yang berbeda-beda. Kedua, proses mendapatkan bantuan berbeda-beda ada yang dengan mengajukan proposal, ada yang secara kebetulan, ada yang tidak mengajukan proposal karena pihak donator langsung survey ke lokasi dan langsung memberikan bantuan. Ketiga, proses penyaluran bantuan juga bermacam-macam yaitu ada yang langsung ke pihak sekolah, ada yang lewat LSM, ada yang lewat pihak ketiga. Keempat, pengelola bantuan juga berbeda-beda, dan ini berpengaruh terhadap hasil akhir atau kualitas gedung setelah jadi. Hal ini menimbulkan tingkat kepuasan pengguna juga berbeda-beda.

The Earthquake that happened in the Special Territory of Yogyakarta on Saturday 27th May 2006 has caused significant financial losses for the Yogyakarta‟s society. That earthquake cause many victims, including schools buildings in the region. This research aims to know how the process of school building‟s reconstruction after the earthquake, and how is the process of aid distribution. The research used inductive qualitative approach. This method used to give the clear description about how the development‟s process of school‟s building after the earthquake and how the aid distribution‟s process in Bantul. Data collecting were done by four means, namely: observations, interviews, documentation‟s study, and triangulation. The research found four important findings. First, the aids come spontaneously. Such spontanity cause that some schools sometime accept more than one aids from different sources. Second, the process for getting aid is different one to another. There is a victim who submitt a proposal, just by chance and there are the victim who are not submitt a proposal because the benefactor come to the location for survey and give the aid directly. Third, the aid distribution‟s process also has a various ways namely ; the aid are given to the school directly, by means of non government organization, or by means of a third party. Fourth, the aid‟s management is also different one to another and those has an effect to the final result or the quality of the building after the building finish be developed. Such different processes caused different degree of satisfaction in the community.

Kata Kunci : Gedung sekolah,Rekonstruksi,Bencana,Bantuan, school building, reconstruction, disaster, aid


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.