Analisis keterkaitan antara iklim investasi dengan kondisi penanaman modal sekitor industri di daerah :: Studi kasus Kabupaten Cilacap dan Kota Semarang
MARUTI, Dahsih Ayu, Ir. Kawik Sugiana, M.Eng., Ph.D
2009 | Tesis | S2 Magister Perencanaan Kota dan DaerahDalam era otonomi, daerah-daerah berusaha meningkatkan daya saing dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi. Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) bekerja sama dengan The Asia Fondation dan USAID melakukan studi untuk mengkaji dan menilai tingkat iklim investasi berdasarkan persepsi dunia usaha di berbagai kabupaten/kota di Indonesia, menghasilkan bobot faktor-faktor dominan yang menentukan daya saing daerah. Namun, studi ini belum menjelaskan korelasi antara tingkat iklim investasi dengan realisasi investasi di daerah. Penelitian ini bertujuan : (1) mengetahui hubungan iklim investasi kabupaten/ kota di Jawa Tengah studi KPPOD tahun 2003, terhadap besaran investasi sektor industri, jumlah dan jenis industri serta tenaga kerja terserap; (2) mengetahui faktor-faktor lain selain faktor daya tarik investasi hasil studi KPPOD, yang menjadi pertimbangan investor menentukan lokasi industrinya; (3) mengetahui upaya-upaya pemerintah daerah untuk meningkatkan iklim investasi yang kondusif dengan contoh kasus Pemerintah Kabupaten Cilacap dan Pemerintah Kota Semarang. Penelitian dilakukan dengan pendekatan deduktif menggunakan metode deskripsi kuantitatif dan kualitatif. Variabel yang digunakan adalah nilai investasi, jumlah tenaga kerja terserap dan jumlah industri di 18 daerah di Jawa Tengah, serta kebijakan dan program pemerintah daerah tentang daya saing investasi di Kabupaten Cilacap dan Kota Semarang. Analisis data untuk metode kuantitatif dilakukan dengan menghitung korelasi peringkat dengan realisasi investasi, tenaga kerja terserap dan jumlah industri/usaha di daerah dengan pendekatan perkapita dan perluas penggunaan lahan. Metode kualitatif digunakan untuk mengkaji dampak kebijakan/program pemerintah daerah dalam meningkatkan realisasi investasinya. Temuan dari penelitian adalah : (1) pemeringkatan oleh KPPOD tahun 2003 pada 18 kabupaten/ kota di Jawa Tengah mempunyai korelasi yang rendah dengan realisasi investasi sektor industri, jumlah tenaga kerja terserap dan jumlah industri pada kurun waktu 2002-2006; (2) terdapat faktor lain yang belum dicantumkan oleh KPPOD dalam variabel studinya, namun menjadi dasar investor menentukan lokasi investasi, seperti : ketersediaan bahan baku, tenaga kerja, aglomerasi dan klaster industri, faktor historis, dan kebijakan pemerintah daerah tentang investasi; (3) program dan kegiatan pemerintah daerah yang terindikasi berpengaruh terhadap realisasi investasi adalah pembentukan lembaga khusus yang menangani investasi, pembentukan sistem pelayanan terpadu, pembentukan unit pelayanan pengaduan masyarakat, pemberian insentif, kerja sama antar wilayah, ketersediaan sarana dan prasarana wilayah untuk kegiatan investasi, promosi, temu bisnis. Pada intinya, penelitian ini menunjukkan bahwa investor cenderung berinvestasi di daerah yang secara historis sudah berkembang menjadi klaster. Hal ini sesuai dengan teori lokasi bahwa industri akan mendapatkan keuntungan aglomerasi jika berlokasi saling berdekatan. Kebijakan dan program pemerintah daerah yang mendukung iklim investasi penting untuk percepatan realisasi investasi. KPPOD belum memasukan faktor-faktor ini dalam variabel kajiannya.
In autonomy era, regions try to develop competitiveness to attract investor for encouraging its economic development. The Regional Autonomy Watch (KPPOD) in cooperation with The Asia Foundation and USAID have accomplished study to examine the level of investment climate based on business people’s perception in some regions in Indonesia. The evaluation produced value of dominant factors which determine regional competitiveness. However the study has not explained yet the correlation between investment climate and investment realization in the region. The study aims: (1) to know correlation between regional investment climate in Central Java studied by KPPOD in 2003, and the magnitude of investment on industrial sector, quantity and type of industry and work force absorbed; 2). To know other factors beside of power attraction factor studied by KPPOD considered by investor in determining location of their industry; 3). To know local government’s effort to increase conducive investment climate with case example of Cilacap Regency and Semarang Municipal. The study used deductive approach with quantitative and qualitative description method. Variable to be studied were investment value, amount of work force absorbed, and amount of industry in eighteen regions of Central Java, and local government policy and program concerning competitiveness in Cilacap Regency and Semarang Municipal. Data analysis for quantitative method is done by calculating correlation between rank and investment realization, work force absorbed and amount of industry or business in region with per capita approach and extension of land use. A qualitative method is applied to examine impact of local government policy or program performed to increase investment realization. Three important findings. First, ranking accomplished by KPPOD in 2003 for eighteen regions in Central Java has low correlation with investment realization of industrial sector, quantity of work force absorbed and amount of industry during period of 2002-2006. Second, there are other factors have not been attached yet by KPPOD on their study variable but become a base for investors in determining location of industry such as raw material availability, work force, agglomeration and cluster of industry, historical factor, and local government policy concerning investment. Third, local government program and activity indicated correlate to investment realization were establishment of special board in managing investment, establishing integrated service system, establishing unit of Service community complaint, providing incentive, inter regional cooperation, availability of regional facility for investment activity, promotion, and business meeting. The study showed that investor tends to invest in region that is historically developed as cluster. This is in accordance with theory of location in which industries will get agglomeration advance if located closely each other. Local government policy and program supporting investment climate is important to accelerate investment realization. KPPOD has not included these factors yet in their study.
Kata Kunci : Daya saing daerah, Investasi industri, Program pemerintah.