Integrasi penginderaan jauh dan sistem informasi geografi untuk penyiapan lahan alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih di sebagai kawasan training area Pangkalan Udara Adisutjipto
RAHARJO, Kristian Suseno, Drs. Suharyadi, M.Sc
2009 | Tesis | S2 Penginderaan JauhPenelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Sleman yang termasuk bagian dari kawasan training area yang digunakan sebagai kawasan latihan terbang bagi siswa Sekbang TNI AU Lanud Adisutjipto. Tujuan penelitian ini adalah 1) mengidentifikasi parameter yang dapat digunakan dalam pemilihan lahan sebagai alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih, 2) mengkaji akurasi hasil interpretasi visual citra penginderaan jauh resolusi tinggi untuk memperoleh variabel lahan guna penyiapan alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih dan 3) menentukan alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih berdasarkan karakteristik lahan untuk mengurangi ataupun meminimalisir kerugian yang ditimbulkan sebagai dampak dari terjadinya kecelakaan pesawat latih tersebut. Kecelakaan pesawat latih dapat terjadi kapan saja termasuk di lingkungan Sekbang TNI AU Lanud Adisutjipto. Salah satu cara untuk mengantisipasi kerugian yang lebih besar sebagai akibat kecelakaan pesawat latih adalah dengan penyiapan lahan alternatif sebagai lokasi pendaratan darurat pesawat latih tersebut. Untuk itu dibutuhkan suatu area yang dapat difungsikan sebagai lahan alternatif lokasi pendaratan darurat. Guna mendapatkan informasi lahan tersebut, dalam penelitian ini menggunakan citra penginderaan jauh resolusi tinggi yaitu Ikonos dan Quickbird. Metode penelitian adalah interpretasi visual citra penginderaan jauh (on-screen digitizing) dari mosaik citra Ikonos dan Quickbird. Parameter lahan yang dibutuhkan sebagai syarat lahan alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih berdasarkan parameter 5 S yaitu surface, slope, size, shape dan surround. Dalam interpretasi digunakan metode filtering/penapisan untuk menyeleksi lahan berdasarkan kelima parameter diatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemilihan lahan dapat ditentukan dengan pemodelan spasial berdasar parameter 5 S. Faktor surface, size, dan shape disadap dari citra, surround disadap dari citra dan survei lapangan, sedangkan slope dari peta RBI. Citra penginderaan jauh resolusi tinggi dapat digunakan untuk memperoleh variabel lahan dengan ketelitian interpretasi 95,65% dan ketelitian pemetaan 94,04%. Di wilayah Kabupaten Sleman terdapat 22 lokasi yang dapat digunakan sebagai lahan alternatif lokasi pendaratan darurat pesawat latih yang terdiri dari 6 lokasi lahan alternatif (LA) mampu untuk digunakan sebagai tempat pendaratan darurat ketiga jenis pesawat latih (KT-1, Bravo dan Charlie), kemudian 7 lokasi mampu untuk dua jenis pesawat latih (Bravo dan Charlie), sedangkan 9 lokasi hanya mampu untuk satu jenis pesawat (Charlie). Kata kunci : Penginderaan Jauh, SIG (Sistem Informasi Geografi), Penapisan, Pesawat Latih, Pendaratan Darurat, Lahan Alternatif
The research was conducted in Sleman Regency which was part of training area used as flying practice for the students of Indonesian Air Force Flying School Adisutjipto Air Force Base. The objectives of this research are 1) to identify parameter that can be used in area selection as alternative locations for training plane emergency landing, 2) to examine the accuracy of the visual image interpretation result of high resolution-remote sensing to obtain land variables for the preparation of alternative location preparation for training planes emergency landing, 3) to determine alternative location for training planes emergency landing based on the land characteristics to reduce or minimize the loss resulted from those training plane accident. The accident of training plane can occur anytime even in the area of Indonesian Air Force Flying School Adisutjipto Air Force Base. One way to prevent bigger loss as the impact of training plane accident is by preparing alternative land as the location for training plane emergency landing. Therefore, spare areas are required to be functioned as alternative location for emergency landing. In order to gain the land information, the research applied high resolution image remote sensing, i.e. Ikonos and Quickbird. The research applied image visual interpretation remote sensing method (on-screen digitizing) from Ikonos and Quickbird image mosaic. Land parameter required as alternative land requirement for training plane emergency landing was based on 5 S parameter, i.e. surface, slope, size, shape and surround. Filtering method was employed in the interpretation process to select the land based on the five parameters aforementioned. The research concludes that land selection can be determined by spatial modeling based on 5 S parameter. The factors such as surface, size, and shape were obtained from images, whereas surround was obtained from images and field survey, whereas slope was obtained from Basic map (Indonesian Topographic map). High resolution image remote sensing can be used for obtaining land variable with interpretation meticulousness as much as 95,65% with mapping accuracy 94,04%. In the area of Sleman Regency there were 22 locations that can be used as alternative location for training plane emergency landing. It consists of 6 locations of alternative land (LA) suitable for emergency landing of the three types training plane (KT-1, Bravo and Charlie), 7 locations suitable for two types training plane (Bravo and Charlie), whereas the last 9 locations are only suitable for one type training plane (Charlie). Key word : Remote Sensing, GIS (Geographic Information System), Filtering, Training Plane, Emergency Landing, Alternative Land
Kata Kunci : Penginderaan jauh,SIG (Sistem Informasi Geografi),Penapisan,Pesawat latih,Pendaratan darurat,Lahan alternatif, : Remote Sensing, GIS (Geographic Information System), Filtering, Training Plane, Emergency Landing, Alternative Land