Laporkan Masalah

Kultur damai berbasis tradisi pela dalam perspektif psikologi sosial

RALAHALLO, Roubreda Natalia, Prof. Drs. Koentjoro, MBSc., Ph.D

2009 | Tesis | S2 Magister Psikologi

Konflik dan kekerasan merupakan realita destruktif yang menunjukkan humanitas terreduksi dan teralienasi eksistensinya. Esensi kemanusiaan tercabikcabik karena dominasi egoisme para pelaku tanpa mempedulikan nilai komunitas korban. Kelunturan dan keterhisaban ke-diri-an sebagai manusia dalam putaran peradaban yang carut marut, mengafirmasikan kebutuhan dasar penciptaan kultur damai sebagai realita konstruktif jalinan relasi antar manusia. Respek, trust, peduli, mutual, harmoni, non-kekerasan, non-diskriminasi, keadilan sosial, solidaritas, toleransi, equalitas gender sebagai nilai-nilai yang mengkonstruksikan kultur damai. Pada level individu dan kelompok, penerimaan ‘diri yang lain’ sebagai apa adanya telah meruntuhkan tembok perbedaan nilai yang menjadi pemicu konflik dan kekerasan. Peleburan identitas “kami” (ingroup) dan “mereka” (outgroup) dalam proses rekategorisasi membentuk common ingroup identity sebagai “kita” berkontribusi mereduksi aspek negativitas seperti prasangka, diskriminasi, dan stereotipe. Studi kualitatif dengan pendekatan etno-fenomenologi bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses pembentukan dan pemahaman tentang kultur damai berbasis tradisi pela dan juga upaya-upaya untuk mempertahankannya. Tradisi pela di Maluku merupakan perjanjian antara dua kelompok yang berbeda suku, lokasi geografis, dan keyakinan agama dan telah menjadi kearifan lokal yang berkontribusi menciptakan kultur damai. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa kultur damai dapat ditemukan dalam kearifan lokal seperti tradisi pela. Gagasan dasar dalam tradisi ini adalah identitas bersama “saudara/orang basudara” yang disebut sebagai “ela”. Dinamika psikologi terjadi pada perspektif ini karena kata “ela” mengandung makna konstruktif dan positif yang mengatur hubungan antara kelompok Rohomoni-Tuhaha. Implementasi nilai kultur damai nampak dalam perilaku “saudara pela” yang konstruktif mutual, percaya, respek. Fakta ini dapat ditemukan dalam konflik Maluku 1999-2004, tradisi pela dapat menjadi media rekonsiliasi antara dua kelompok Islam dan Kristen.

Conflict and violence is the destructive reality that showed reduction and alienated of existence humanity. The essence of human being has destruction because dominance of egoism the people’s without caring the value of victim community. Because of that condition, the basic need to create a culture of peace as constructive reality that connected relationship between all of people is urgently. Respect, trust, care, mutual, harmony, non-violence, non-discrimination, social justice, solidarity, tolerance, gender equal, is the values that construct culture of peace. On the level individual and group, the acceptance of “the otherself” as him/herself has destroy the wall of differences which always be source of conflict and violence. The fusion identity “we” (ingroup) and “them” (outgroup) has establish common ingroup identity as “us” in recategorization process that contribution to reduction negative aspect seems like prejudice, discrimination and stereotype. This qualitative study with ethno-phenomenology approach intends to know how the establish process and sense about culture of peace based on pela tradition and also the ways to maintain it. Pela tradition in Molluccas has been the treaty between two groups which different in tribes, geographic location, and the religion in which it is a local wisdom that contribution to create culture of peace. The result of this research showed that culture of peace can be found in local wisdom as pela tradition. The basic idea in this tradition is a common identity “saudara/orang basudara” which has calling as “ela”. Pscychological dynamics occur in this perspective because the word of “ela” to contain a constructive and positive meaning that arranged relation between the groups Rohomoni-Tuhaha. Implementation of values the culture of peace has been seen in the behavioral “saudara pela” that mutual constructive, trust, respect. This fact could be found in Molluccas conflict at 1999-2004, pela tradition can be the media reconciliation between two groups Moslem and Christian.

Kata Kunci : Kontak antar kelompok,Rekategorisasi,Identitas bersama,Tradisi pela,Konflik,Perubahan sosial,Kultur dama, intergroup contact, recategorization, common ingroup identity, tradition of pela, conflict, social change, culture of peace


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.