Laporkan Masalah

Strategi mencapai identitas sosial positif pada orang Tionghoa muslim di Yogyakarta

AFIF, Afthonul, Prof. Dr. Faturochman

2009 | Tesis | S2 Magister Psikologi

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap strategi yang ditempuh oleh orangorang Tionghoa Muslim di Yogyakarta dalam mencapai identitas sosial yang mereka persepsi positif. Tema-tema penting yang terkait dengan strategi tersebut juga diungkap, meliputi: motif memeluk Islam, dampak memeluk Islam, interaksi dengan budaya dan lingkungan pribumi, interaksi dengan budaya dan lingkungan Tionghoa, pola pembentukan identitas sosial, strategi mencapai identitas sosial positif, dan pemaknaan terhadap identitas sosial positif. Teori Identitas Sosial dipilih sebagai perangkat teoritik untuk memahami permasalahan penelitian ini. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik. Pendekatan ini memfokuskan pada aspek-aspek yang bersifat personal dan intim dari subjek penelitian, sehingga strategi yang mereka tempuh untuk mencapai identitas sosial positif merupakan strategi subjektif. Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta dengan melibatkan 6 subjek penelitian utama, 4 orang diantaranya adalah Tionghoa Totok dan 2 orang adalah Tionghoa Peranakan. Data penelitian dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi dan wawancara secara mendalam. Hasil temuan dari penelitian ini adalah: (1) keputusan memeluk Islam pada subjek Tionghoa Totok lebih disebabkan oleh motif personal, sementara pada subjek Tionghoa Peranakan lebih dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungan sosial; (2) keputusan memeluk Islam keduanya merasa lebih dapat diterima oleh masyarakat pribumi; (3) hubungan dengan budaya dan masyarakat pribumi pada subjek Tionghoa lebih bersifat transaksional, sementara pada subjek Tionghoa Peranakan lebih bersifat alamiah; (4) subjek Tionghoa Totok tetap memraktekkan dan menjalin interaksi dengan budaya dan masyarakat Tionghoa meskipun intensitasnya menurun, sedangkan pada subjek Tionghoa Peranakan hubungan tersebut telah terputus karena faktor keluarga dan lingkungan sosial; (5) pola pembentukan ident itas sosial pada subjek Tionghoa Totok lebih bersifat hibrid yang dicapai melalui strategi persilangan kategori, sedangkan pada subjek Tionghoa Peranakan identitas sosialnya cenderungan bersifat tunggal, karena strategi yang ditempuh adalah kategorisasi diri; (6) subjek Tionghoa Totok lebih memilih strategi mobilitas individual dan strategi optimalisasi keunikan untuk mencapai identitas sosial positif, sementara pada subjek Tionghoa Peranakan strategi yang dipilih adalah menolak melakukan mobilitas individual dan strategi kreativitas sosial.

The objectives of this research is to disclose the strategies of Muslim Tionghoa (Chinese Indonesians) settling down in Yogyakarta for establishing the positive social identity. The range of discussion covers some significant points such as; motives of embracing Islam, consequence of converting to Islam, interaction with the sociocultural matters of the indigenous people, interaction with the socio-cultural matters of the Tionghoa, patterns of social identity building, efforts to establish the positive social identity, and interpretation on the positive social identity. The Social Identity Theory was used as the theoretical framework of the research. The research is a qualitative research employing the Symbolic Interactionism approach concerned with the personal aspects of the research informants. Hence, the informants’ efforts tend to be subjective rather than objective. The research involves six informants, four of them are Tionghoa Totok and the remaining two are Tionghoa Peranakan. In addition, all the information herein was gained through observation and in-depth interview. The research findings demonstrate that: (1) the Tionghoa Totok’s choice of embracing Islam is based on the personal motive, while the Tionghoa Peranakan’s is based on the influence coming from fa mily and society; (2) both of the Tionghoa Totok and the Tionghoa Peranakan shared the same thoughts that being Muslim means being accepted by society; (3) the Tionghoa Totok’s socio-cultural interaction tends to be transactional, and the Tinghua Peranakan’s is natural; (4) the Tionghoa Totok keeps practicing and building socio-cultural interaction but Tionghoa Peranakan cuts off the relation with other Tionghoa, as a consequence of its society and family; (5) pattern of the positive social identity amongst the Tionghoa Totok is formed through a process called cross-category that tends to be hybrid than the Tionghoa Peranakan’s, which tends to be permanent as created through a process of self-categorization; (6) the Tionghoa Totok prefers individual mobility and uniqueness optimization strategies in term of establishing the positive social identity, but the Tionghoa Peranakan does conduct social creativity and not accomplish individual mobility.

Kata Kunci : Tionghoa Muslim,Tionghoa Totok,Tionghoa peranakan,Strategi,Identitas sosial,Muslim Tionghoa, Tionghoa Totok, Tionghoa Peranakan, Strategy, Social Identity


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.