Arena kekuasaan simbolik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) pasca Orde Baru
ZULKARNAIN, Iskandar, Prof. Dr. Sunyoto Usman
2009 | Tesis | S2 SosiologiPenelitian ini membahas tentang arena kekuasaan simbolik Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) yang berupaya memperjuangkan arena-arena strategis sebagai alat politik untuk mencapai kekuasaan substantif pasca Orde Baru. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi dengan Yogyakarta sebagai objek penelitian. Sebagai organisasi Islam ideologis yang memperjuangkan formalisasi syariat Islam dalam tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara, HTI dan MMI dapat dianalisis dengan menggunakan kerangka konseptual Pierre Bourdieu yang terdiri dari tiga konsep kunci, yakni habitus, arena perjuangan (champ), dan kekuasaan simbolik. Habitus diformulasikan dalam bentuk dakwah politik dan jihad yang bersifat mengajak individu atau antar individu untuk mengubah paradigma lama ke paradigma baru yang serba syariat yang bertujuan membentuk keseragaman dan reproduksi habitus. Arena perjuangan diarahkan kepada penguasaan arena-arena dominasi (politik) berbasis institusi, komunitas, dan lembaga pemerintahan melalui penguasaan modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik. Modal ekonomi berupa kepemilikan atas alat-alat produksi, materi, dan pertukaran uang sebagai investasi yang dapat diwariskan terus-menerus dalam jangka panjang. Modal budaya terakumulasi pada kekuatan intelektual, wacana, dan argumentasi yang bertujuan mereproduksi kedudukan-kedudukan sosial. Modal sosial mengarah kepada kepemilikan jaringan sosial (kerja sama) dalam relasinya dengan pihak lain yang mempunyai kuasa guna mendapatkan otoritas. Modal simbolik merupakan akumulasi dari modal ekonomi, budaya, dan sosial yang bermuara pada terciptanya prestise, status, otoritas, dan legitimasi dari pihak lain. Penguasaan modal simbolik merupakan sentral dari perjuangan arena-arena dominasi dan prasyarat mencapai kekuasaan simbolik. Kekuasaan simbolik diperoleh dari pertarungan simbolik yang bersifat dominatif yang mampu memaksa pihak lain untuk menerima sistem-sistem dan perangkat ideologinya, meskipun diwarnai dengan benturan kepentingan antar kelompok atau organisasi. Kekuasaan simbolik tercapai jika terdapat arena-arena dominasi seperti arena berbasis institusi, komunitas, dan lembaga pemerintahan (birokrasi) yang ditempuh melalui strategi investasi simbolik dan efektivitas kerja investasi simbolik di lapangan.
The researcher discusses the symbolical power field of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) and Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) which fight the strategic arena as the political tools to achieve the substantive power after the order regime. The researcher incorporates a qualitative method with a descriptive approach. Data collecting is conducted by observations, interviews, and documents analysis specifically Yogyakarta is to be the object of the research. HTI and MMI as ideological Islam organizations which struggle Islamic Syariah formalization in state and nation order can be analyzed using Pierre Bordieu conceptual framework. It consists of three key concepts as follow: habitus, champ And symbolic power. Those key concepts are formulated in political dakwah and jihad which invite personnels or among members to change an old paradigm to a new paradigm (fully syariah) to create a uniformity and habitus reproductions. Field of struggles are directed to dominate political fields which institutional based, community based, and governmental institutions through an economic capital hegemony, a culture, a social and symbolic powers. The economic capital can be means of production possession, materials, and money changes as inherited investment in a long period. Culture capitals are accumulated into intellectual hegemony, discources, and argumentations to get social positions. The culture capitals are directed to social networks (cooperations) ownership and authorities in relation to an other stakeholder or power holders. Symbolic capitals is the accumulation of economic, culture and social capitals which deal with a prestige, status, authority and legitimacy from other stakeholders. A symbolic capital hegemony is the centre of field of struggles domination and requirements to get symbolic powers. The symbolic power achieved is dominantly from symbolic struggles which presses other communities to accept systems and ideological apparatus although communities clash, organizations, and groups happened. It also can be achieved through symbolic investment strategy and its effectivity in the fields if there are fields domination such as institutional based, community and government beurocracy
Kata Kunci : Syariat Islam,Arena perjuangan,Kekuasaan,Dominasi, Islam Syariah, fields, power and domination