Evaluasi kampanye garam beryodium melalui media televisi dan penggunaan garam beryodium di Desa Leuwiliang Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat
TATO, Adhi Dharmawan, Dra. Yayi Suryo Prabandari, M.Si, Ph.D
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Profil Kesehatan Kabupaten Bogor (2005) menunjukkan bahwa di Kecamatan Leuwiliang sebanyak 17,0% garam yang kurang beryodium beredar di Kecamatan Leuwiliang, sedangkan yang tidak beryodium sebanyak 28,3%. Garam yang beredar di pasaran sebagian besar berbentuk bata atau briket. Pada tahun 2002 di Kabupaten Bogor dilakukan pemantauan konsumsi garam beryodium dengan hasil sebesar 71,8% masyarakat Kabupaten Bogor mengkonsumsi garam beryodium dengan kategori cukup. Angka tersebut masih jauh di bawah target Universal Salt Iodization (USI), yaitu > 90% rumah tangga mengkonsumsi garam beryodium konsentrasi cukup. Upaya yang dilakukan salah satunya melalui media massa dengan membuat kampanye garam beryodium di televisi. Tujuan Penelitian. Mengetahui peranan kampanye garam beryodium melalui media televisi di Kecamatan Leuwiliang Kabupaten Bogor Jawa Barat terhadap penggunaan garam yodium. Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan cara wawancara mendalam, FGD (focus group discussion) dan tes yodisasi terhadap garam. Penelitian dilakukan terhadap 39 informan. Informan terdiri dari ibu-ibu bekerja dan tidak bekerja yang tinggal dengan orangtua dan tidak tinggal dengan orangtua, petugas kesehatan, kader, ibu PKK, pedagang sembako yang ada di pasar dan warung di wilayah Kecamatan Leuwiliang. Hasil. Informan yang tinggal dengan orangtua dan yang tinggal sendiri, baik yang bekerja maupun tidak bekerja. Berdasarkan penelitian, informan yang tinggal dengan orangtua cenderung memilih garam yang briket karena orangtua menyukai penggunaan garam tersebut, sebaliknya informan yang tinggal sendiri memilih garam beryodium tanpa dipengaruhi orangtua. Semua informan mengatakan bahwa pesan yang disampaikan sudah cukup komunikatif dan jelas. Berdasarkan pendidikan, umumnya informan dengan tingkat pendidikan SD dan SMP tidak mudah untuk mengubah perilakunya. Sementara itu, informan dengan tingkat pendidikan SMA dan D3 segera mengubah perilakunya untuk menggunakan garam beryodium setelah melihat kampanye tersebut. Ketersediaan garam dan daya beli masyarakat sudah baik. Kesimpulan. Peran kampanye garam beryodium bagi informan yang tinggal dengan orangtua cenderung memilih garam curah karena orangtua menyukai penggunaan garam tersebut, sebaliknya informan yang tinggal sendiri memilih garam beryodium tanpa dipengaruhi orangtua. Pesan dalam kampanye mudah dimengerti, sehingga sampai saat ini pesan iklan yang ditayangkan oleh televisi masih diingat oleh para informan. Informan dalam penggunaan garam beryodium tidak dipengaruhi umur dan pekerjaan, tetapi oleh pendidikan. Ketersediaan garam dan daya beli masyarakat sudah baik.
Background: Health Profile of District of Bogor 2005 indicated that at Subdistrict of Leuwiliang 17,0% of salt contained less iodine and 28.3% did not contain iodine. The majority of salt available was in the form of bricket. In 2002 at District of Bogor a monitoring on iodine salt consumption was carried out which revealed that 71.8% of community at District of Bogor consumed iodine salt at adequate category. This figure is far beyond the target of Universal Salt Iodization (USI), i.e.>90% of households consume high concentrate iodine salt. If the salt consumed fulfills the requirement it will minimize the problem of swollen goitre glands in the community. Objective: To find out the role of campaign on iodine salt through television at Subdistrict of Leuwiliang, District of Bogor Jawa Barat in increasing the consumption of iodine salt. Method: The study used qualitative method. Data were obtained through indepth interview, focus group discussion and iodine test to salt. There were 39 informen that consisted of mothers either having an occupation or not who lived or did not live with their parents, providers, cadres, family welfare and empowerment, sellers of daily living necessities in the market or stalls at Subdistrict of Leuwiliang. Result: In general there was a difference between informen living with their parents and those living separately, either in those who worked or did not work. Informen living with their parents tended to choose salt in bricket because the parents liked it. Meanwhile informen living away from parents chose iodine salt without the influence of their parents. All informen said that the message was communicative and clearly delivered. There was no difference in behavioral changes based on age and occupation. There were informen with elementary or junior high school education found it difficult to change their behavior. Whereas informen with senior high school or diploma 3 education soon changed their behavior by consuming iodine salt after watching the campaign. Availability of salt and purchasing power of the community were relatively good. There was no special socialization about iodine salt conducted by providers. Conclusion: Informen living with their parents tended to choose salt in bricket because their parents liked it; on the other hand, informen living away from their parents preferred iodine salt without the influence of their parents. The message in the short campaign was memorable so that informen still remembered it. Behavioral changes of the informen in using iodine salt were not affected by age and occupation but by education. Availability of iodine salt and purchasing power of the community were relatively good.
Kata Kunci : Kampanye,Garam beryodium,Kecamatan Leuwiliang,campaign, iodine salt, District of Leuwiliang, behavioral changes