Laporkan Masalah

Analisis faktor penyebab melonjaknya anggaran obat Pemerintah Kota Batam setelah pembebasan biaya retribusi pasien puskesmas

Nurliyasman, Dr. Sri Suryawati

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Pemerintah Kota Batam terhitung mulai tanggal 2 Januari 2007 melaksanakan program pembebasan biaya retribusi pasien di seluruh puskesmas se-Kota Batam. Ketentuan ini berlaku bagi setiap penduduk Kota Batam tanpa kecuali. Akibatnya, anggaran obat melonjak sampai 4 kali anggaran tahun sebelumnya. Untuk itu, perlu diteliti faktorfaktor yang mempengaruhi kenaikan anggaran ini untuk dapat mengantisipasi hal yang sama di masa depan. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab terjadinya lonjakan anggaran belanja obat. Metode : Penelitian ini adalah penelitian observasional, retrospektif, dengan menggunakan teknik kuantitatif dan kualitatif, dengan rancangan cross sectional study. Data kuantitatif diperoleh dari LB1, LB4, resepresep di puskesmas pada tahun 2005, 2006 dan 2007. Masing-masing tahun diambil sampel resep selama 3 bulan saat terjadinya puncak jumlah kunjungan pasien puskesmas. Data yang diperoleh ditabulasi, selanjutnya dilakukan analisis kebermaknaan menggunakan uji-t berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95%. Secara kualitatif, dilakukan wawancara mendalam terhadap para stake holder yang terlibat untuk mencari penjelasan mengenai data kuantitatif. Hasil Penelitian : Setelah program pembebasan retribusi ini dicanangkan terjadi lonjakan jumlah kunjungan pasien sampai 2 kali dibandingkan dengan sebelumnya. Penelitian terhadap pola penyakit menunjukkan tidak ada perbedaan antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi. Hasil analisis terhadap pola peresepan relatif sama antara sebelum dan setelah pembebasan retribusi, baik jumlah item obat, persentase obat esensial, persentase obat generik, maupun persentase obat antibiotika (uji t berpasangan p < 0,05). Persentase nama dagang dan total harga per lembar resep tidak ada perbedaan (uji t berpasangan p > 0,05). Persentase total harga sedikit lebih tinggi setelah pembebasan retribusi daripada sebelumnya, yang disebabkan oleh karena pemakaian obat nama dagang lebih besar setelah bebas retribusi daripada sebelumnya. Kesimpulan : Faktor yang menyebabkan lonjakan anggaran obat setelah pembebasan retribusi puskesmas adalah kelebihan antisipasi belanja obat terhadap prediksi lonjakan jumlah kunjungan. Kelebihan ini dapat diantisipasi dalam merencanakan belanja obat di tahun-tahun yang akan datang.

Background : Batam municipal government has implemented the program of patient retribution cost exemption in all health centers of Batam Municipality with no exception (includes the haves and the have not) as long as they can show their population identity card when they visit health centers. Consequently health budget increases four times higher than the previous fiscal year. This is interesting to study further in order to find out the effectiveness or ineffectiveness of the program implementation. Objective : The study aimed to analyze the policy of retribution exemption and increased drug expenditure budget. Method : The study was retrospective observational using both quantitative and qualitative data, analytical survey method and cross sectional design. Quantitative data were obtained from documents of health centers such as monthly report, number of visits of the patients, prescription within three years (2005 – 2007) of samples of each year were taken three months during peak visits to health centers. Data obtained were tabulated and analyzed using paired t-test at significance level 95%. Qualitative data were obtained from indepth interview with related stakeholders. Result : Retribution exemption program led to sharp increase of visits to health centers to twice. There was no difference in disease pattern before and after retribution exemption. The result of paired t-test to prescription pattern showed difference before and after retribution exemption either in the number of drug items, essential percentage, generic percentage, or antibiotic percentage, but there was no difference in the brand and total cost of prescription per sheet. The percentage of total cost was slightly higher after retribution exemption due to higher use of branded drugs after retribution exemption. Conclusion : Retribution exemption in health centers caused sharp increase of visits to health centers to about twice greater than the previous year, and no accuracy to plan of drug expenditure budget.

Kata Kunci : Puskesmas,Pembebasan retribusi pasien,Anggaran obat, health centers, retribution exemption, drug budget


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.