Biaya pelayanan rawat inap bedah dan non bedah pasien pengguna kartu Askeskin dan SKTM di RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh
ZULFAKAR, drg. Julita Hendrartini, M.Kes
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar belakang : Kebijakan penyelenggaraan jaminan kesehatan masyarakat melalui program askeskin/jamkesmas, berakibat meningkatnya angka kunjungan rawat inap di RSUD. Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh mencapai 70 % dari tahun 2006 ke 2007, dan sampai Juni 2008 jumlah kunjungan pasien askeskin dan SKTM sudah mencapai 5.127 orang. Pemanfaatan penggunaan rawat inap oleh pengguna SKTM tidak hanya digunakan oleh masyarakat yang betul-betul miskin, tetapi juga oleh masyarakat yang setengah miskin atau bahkan tidak miskin sama sekali yang berakibat dapat menambah beban pembiayaan kesehatan oleh pemerintah. Tujuan penelitian : mengidentifikasi rerata biaya pelayanan rawat inap pada pasien pengguna Askeskin dan SKTM yang dirawat di unit rawat inap bedah dan non bedah. Metode Penelitian: penelitian analitik dengan rancangan cross sectional menggunakan data sekunder rekam medik dan billing system secara retrospektif. Analisis deskriptif untuk mendapat gambaran rerata biaya akomodasi, pemeriksaan penunjang, tindakan dan obat. Uji t-test melihat perbedaan rerata biaya rawat inap Hasil dan Pembahasan : Hasil penelitian diperoleh bahwa rerata biaya rawat inap pasien askeskin dan SKTM terdapat variasi biaya. Rerata biaya akomodasi terdapat perbedaan signifikan (p=0,011) pada pasien gagal ginjal kronis tanpa komplikasi, penyebab LOS pengguna SKTM mencapai 2 kali pasien askeskin. Rerata biaya pemeriksaan penunjang untuk semua diagnosa tidak ada perbedaan yang signifikan. Rerata biaya tindakan terdapat perbedaan yang signifikan (p=0,003) pada pasien fraktur dengan tindakan operatif katagori II, penyebab karena LOS pasien pengguna SKTM lebih lama dari askeskin mengakibatkan peningkatan biaya pada perawatan pasca tindakan operatif. Rerata biaya obat terdapat perbedaan yang signifikan pada urolithiasis tindakan operatif III (p=0,034) dan gagal ginjal kronis dengan nilai (p=0,023), perbedaan ini karena tidak sama tingkat keparahan penyakit pasien sehingga ada perbedaan peresepan obat. Rerata total biaya terdapat perbedaan yang signifikan pada pasien dengan gagal ginjal kronik tanpa komplikasi. Kesimpulan: Rerata biaya pasien bedah lebih tinggi pada pasien SKTM dibandingkan pasien Askeskin. Pada pasien Non bedah tidak ada perbedaan yang bermakna.
Background: The policy of community health insurance through program of health insurance for poor communities (Askeskin), and community health insurance (SKTM) increases the utilization of inpatient service at dr. Zainoel Abidin Hospital up to 70% (2006 - 2007). From January – June 2008 patients of Askeskin and SKTM reached 5,127 people. The utilization of inpatient service by SKTM card holders is not only for poor community, but also for non poor community resulting in increasing health cost that has to be covered by the government. Objective: To identify the amount of average inpatient cost of accommodation, supporting examination, intervention and cost of drugs of Askseskin and SKTM card holders hospitalized at surgery and non surgery inpatient units. Method: This was an analytical study with cross sectional design that used secondary data of medical records and billing system retrospectively. Descriptive analysis was made to get an overview of average cost of accommodation, supporting examination, intervention and drugs. T-test comparative analysis was made to find out average difference of cost of inpatient service. Result and Discussion: Average cost of inpatient for Askeskin and SKTM holders varied. Average cost of accommodation differed significantly (p=0.011) in patients of chronic kidney failure without complications. The cause was that length of stay of patients of SKTM card holders was twice greater than patients of Askeskin. Average cost of supporting examination for all diagnoses showed no significant difference. Average cost of medical intervention showed significant difference (p=0.003) in patients with fractures having operation of category II. The difference occurred because length of stay of patients with SKTM was longer than Askeskin patients. This led to increasing cost of treatment after operation. Average cost of drugs showed significant difference in urolithiasis with operation of category III (p=0.034) and chronic kidney failure (p=0.023). The difference occurred because of different degree of seriousness of disease leading to different drug prescription. Average of total cost showed significance in patients with chronic kidney failure without complication. Conclusion: Average total cost of patients having operation was higher in SKTM patients than in Askeskin patients; whereas in patients without operation there was no significant difference in cost.
Kata Kunci : Askeskin,SKTM,Biaya perawatan,Pasien bedah,Pasien non bedah, Askeskin, SKTM, cost of hospitalization, surgery patients, non surgery patients