Laporkan Masalah

Evaluasi sistem surveilans sebagai pendukung keputusan dalam pengendalian demam berdarah dengue (DBD) di Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa

KARTIAWAN, Prof. dr. Hari Kusnanto, DrPH

2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat

Latar Belakang : Penyakit Demam Beradarah Dengue (DBD) masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Ada beberapa daerah di Indonesia yang terus mengalami peningkatan incidence rate demam berdarah dengue termasuk diantaranya propinsi Nusa Tenggara Barat. Seperti yang terjadi di Kabupaten Sumbawa sejak tahun 2003 sampai tahun 2005 telah terjadi peningkatan jumlah kasus yang cukup signifikan dan demam berdarah dengue tidak lagi hanya terjadi didaerah perkotaan tetapi kasusnya sudah banyak ditemukan di desa-desa. Kabupaten Sumbawa dengan jumlah penduduk 406.888 jiwa yang tersebar di 24 Kecamatan, dalam lima tahun dari tahun 2003 sampai tahun 2007 telah terjadi peningkatan jumlah kasus DBD. Melihat hal tersebut kedepan diperlukan sistem kewaspadaan dini (SKD) yang lebih baik lagi dengan pengamatan penyakit yang lebih intensive. Oleh karena DBD dalam penyebarannya begitu cepat dan mudah maka penatalaksanaan DBD secara operasional di lapangan dengan cara melakukan pengamatan secara terus-menerus atau dengan melakukan surveilans DBD akan sangat membantu dalam pengambilan keputusan yang tepat, cepat dan akurat. Tujuan : Melakukan evaluasi sistem surveilans sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Sumbawa. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan rancangan studi kasus, yaitu bertujuan untuk memahami lebih mendalam terhadap suatu kasus spesifik dimana peneliti ingin mengetahui bagaimana sIstem surveilans digunakan sebagai pendukung keputusan dalam penanggulangan demam berdarah dengue di Kabupaten Sumbawa. Populasi dalam penelitian ini adalah sIstem surveilans DBD di Dinas Kesahatan termasuk komponen manusianya. Cara pengambilan sampel yaitu dengan teknik Non Probability Sampling menggunakan sampling purposive. Hasil :Tidak dilakukan kegiatan analisis secara sistematis dalam pelaksanaan surveilans DBD, pengumpulan data terbatas pada laporan rutin saja, pengolahan, analisis serta interpretasi data DBD masih sangat sederhana sehingga belum menghasilkan informasi epidemiologis tentang DBD. Kesimpulan :Pelaksanaan sistem surveilans di Dinas Kesehatan Kab.Sumbawa belum berjalan secara optimal, data DBD belum diolah secara maksimal, tidak dilakukan analisis dan interpretasi sesuai dengan pola kecenderungan yang ada tentang DBD sehingga keputusan yang diambil belum mencerminkan kondisi yang sesungguhnya.

Background: Hemorrhagic dengue fever is an endemic disease in most part of tropical areas and it can lead to a serious health problem that eventually causes death in a very short term. Unfortunately, so far no scientists from various study backgrounds have found the cure for this disease while the vaccine as a preventive way toward this disease is still in the progress of development and has not showed any satisfying results. Incidence of dengue fever increases and spreads so fast due to some complex factors such as high population growth, unplanned and uncontrolled urbanization, no effective control in mosquito vector in endemic areas, increased means of transportation, and weakening of community health infrastructures. Facts show that there was a significant increase in cases of dengue fever in Sumbawa District starting in 2003 – 2005 and then again in 2006 – 2007. The spread of dengue fever occurs fast so that the management of the case in the field through continuous and regular surveillance will be very beneficial and advantageous for accurate and appropriate decision making. Objective: To study the description of the implementation of surveillance system as a supporting decision in eradication of dengue fever in Sumbawa District. Method: This was a descriptive study with case-study design, aiming at understanding a specific case in which the researcher wished to investigate how the surveillance system was used as a supporting decision in the eradication of dengue fever in Sumbawa District. The population in this study was surveillance system of dengue fever in the health office including human components. The dependent variable was decision making, and the independent variables were variable on input, process, and output starting from data gathering, processing, analyzing and interpreting. Results: The implementation of surveillance of dengue fever in health office of Sumbawa District was done by surveillance attendants. Data gathering, processing, analyzing and interpreting were done simply so that the obtained information was not optimum if it was used as a supporting decision. Conclusion: The implementation of the surveillance of dengue fever in Sumbawa District was not optimum. Data gathering is incomplete, data processing was done simply in forms of tables, data analyzing and interpreting were done in a period of the incidence of dengue fever, and the interpretation was not done based on the weekly, monthly and yearly data. There were no data which were processed, analyzed, and interpreted to become epidemiologic information that would be used as materials in decision making. In addition, there was no information dissemination on dengue fever as intended in surveillance activities.

Kata Kunci : Informasi epidemiologis,Pengambilan keputusan, epidemiologic information, supporting decision


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.