Pemberdayaan masyarakat kampung dalam penanggulangan malaria di wilayah Puskesmas Menawi Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen
BORAY, Yuliana Sophia, dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA
2009 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang. Pemberdayaan masyarakat dalam penanggulangan malaria merupakan segala upaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah, merencanakan dan mencari pemecahannya dengan memanfaatkan potensi setempat. Hasil dari pemberdayaan masyarakat adalah terwujudnya kemandirian masyarakat dan keluarga. Angka kesakitan malaria di Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen, berdasarkan data Surveilan Terpadu Penyakit Berbasis Puskesmas di Puskesmas Menawi di Distrik Angkaisera bulan Januari-Juni 2008 menunjukkan angka malaria klinis yang cukup tinggi yaitu (4094 jiwa). Salah bentuk penanggulangan malaria adalah dengan memberdayakan masyarakat melalui peran kader malaria desa. Tujuan Penelitian. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penanggulangan Malaria Melalui Kader Malaria Desa di Kampung Yapanani, Wawuti, Ambai I, dan Wamori, Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen. Metode Penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif dengan metode kualitatif. Subjek penelitian kader posmaldes, tenaga kesehatan, Aparat Kampung (kepala Kampung), Badan Musyawarahan Kampung (BAMUSKAM), dan TP PKK. Pengambilan data menggunakan kuesioner, observasi lapangan dan melakukan wawancara mendalam. Hasil Penelitian. Pelaksanaan kegiatan posmaldes sudah berjalan dengan baik, yaitu dengan dibukanya posmaldes setiap hari, sudah ada jadwal dan rencana kegiatan dari posmaldes, mempunyai data pencatatan dan pelaporan kegiatan posmaldes yang nantinya akan diserahkan kepada puskesmas dan kepala kampung. Peran kader dalam memberdayakan masyarakat (Kepala Kampung, BAMUSKAM, PKK dan masyarakat) sudah sangat baik, ini ditandai dengan adanya dukungan dana bantuan dari kepala kampung untuk kegiatan posmalades melalui dana pemberdayaan kampung, sedangkan BAMUSKAM banyak melakukan diskusi dan pertemuan dengan kader guna memberi masukkan bagi kepala kampung dan masyarakat setempat. Sementara itu TP-PKK lebih banyak memberikan dukungan dalam bentuk mengikuti kegiatankegiatan yang dilakukan oleh kader malaria desa. Kesimpulan. Pemberdayaan masyarakat sudah berjalan dengan baik, ini dilihat dari pelaksanaan kegiatan kader di posmaldes yang mendapat dukungan dari Kepala Kampung, BAMUSKAM, TP PKK dan masyarakat setempat.
Background. Community empowerment is the main pillar in primary health service that was stated in the conference of Alma Ata in the year of 1978 (Reinke, 1994). In the malaria control program, community empowerment has many efforts in improving community’s knowledge and ability in identifying problem, planning and look for solution in utilizing local potency. Yapen archipelago district is one of malaria endemic districts in the province of Papua with the most infectious disease was malaria with the number of people sufferred from was 62.702 in the year of 2005 and clinic malaria was 12.923 people based on primary health care based integrated surveillance data in the year of 2008. One of the forms of malaria control was by empowering community through the role of posmaldes and cadre of village malaria by involving community’s component such as Kepala Kampung, BAMUSKAM and PKK team as well as community. Indeed, the result from the community empowerment was the occurrence of community and family independency. Objective. The general aim of this research was to find out the description of village community empowerment in malaria control in the area of Menawi Distrik Angkaisera in the district of Yapen archipelago. Method. This was a descriptive research that used qualitative method. The research subject was cadre of village malaria, head of the village, Village community board (BAMUSKAM) and TP PKK. The data was collected by using questioner, field observation and interview. Result. The activity of malaria control in the form of community empowerment has been conducted. Posmaldes was formed in every village which was far from the health service cadre. Malaria cadre had a role in implementing the posmaldes activity, and they also had a role in empowering and involving community element in malaria control. Head of village, BAMUSKAM and team of family planning empowerment (TP PKK) was very much supporting and had a role in the activities of posmaldes. Conclusion. Community empowerment has been well implemented that could be observed from the implementation of cadre’s activity in posmaldes which had support from the head of village, BAMUSKAM, TP PKK and local community.
Kata Kunci : Pemberdayaan masyarakat,Penanggulangan malaria, Community empowerment and malaria control