Laporkan Masalah

Analisis penerapan SLPHT kopi rakyat di Kabupaten Pasuruan

RULIANTI, Ebi, Prof. Dr. Ir. Irham, M.Sc

2009 | Tesis | S2 Magister Manajemen Agribisnis

SLPHT merupakan suatu proses pendidikan sehingga untuk mengevaluasi hasil SLPHT tidak dapat hanya dilihat dari fisik produksi tanaman atau kondisi tanaman tetapi pada seberapa jauh perubahan perilaku yang terjadi pada para peserta SLPHT setelah mereka menyelesaikan SLPHT dan menerapkannya di lahannya masing-masing. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat pengetahuan, keterampilan dan sikap petani SL-PHT dan non SL-PHT dalam hal pelaksanaan prinsip-prinsip PHT; mengetahui kondisi lingkungan dan kesehatan petani SLPHT dan non-SLPHT serta mengetahui produktivitas, hasil, dan keuntungan petani SLPHT dan non- SLPHT komoditi kopi. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Tutur- Kabupaten Pasuruan, provinsi Jawa Timur. Pengambilan sampel petani dilakukan dengan metode simple random sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 40 petani SLPHT dari 8 kelompok tani dan 40 petani non SLPHT yang letaknya berdekatan dengan masing-masing kelompok tani SL-PHT. Data dianalisis dengan menggunakan Frekuensi, persentase, rata-rata dan interval; uji beda Mann-Whitney dan uji korelasi Spearman’s. Hasil penelitian ini memberikan hasil sebagai berikut: (1). terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan, keterampilan serta sikap petani SLPHT dan non SLPHT, dimana pengetahuan, keterampilan dan sikap petani SLPHT lebih tinggi dibandingkan dengan petani non SLPHT; (2) tidak ada perbedaan yang nyata pada kondisi lingkungan dan kesehatan petani SLPHT dan non SLPHT; (3) terdapat perbedaan yang nyata antara produktivitas hasil dan keuntungan petani SLPHT dan non SLPHT, dimana produktivitas, hasil dan keuntungan petani SLPHT lebih tinggi daripada petani non SLPHT. Prinsi-prinsip PHT sampai saat ini masih tetap diterapkan oleh para petani alumni SLPHT di kebun kopinya, bahkan sebanyak 62,5% petani non SLPHT sudah mulai menerapkan PHT di kebunnya.

Farmer field school (FFS) is an educational process. Therefore, evaluation of its outcome should not be based only on the physical crop production or crop condition, but should be based on farmers behavioral change after completing FFS and on how they practice their knowledge on their own farm. This study was aimed to compare the knowledge, skills, behavior, environmental and health conditions, productivity, yield , and profit margin between FFS alumni and non FFS farmers. This study was conducted in Tutur Sub District, Pasuruan, East Java. Sampling was done using simple random sampling. 40 FFS alumni from 8 farmer groups and 40 non FFS farmers nearby were used as samples. Data was then analyzed using frequency, percentage, average and intervals. Further analysis were done using Mann-Whitney difference test and Spearman’s correlation test. The results of this study indicate that: (1) FFS alumni create significantly higher level of knowledge, skill and behavioral change, (2) there was no significant different environmental and health conditions between FFS alumni and non FFS farmer, (3) FFS alumni earn significantly higher productivity, yield and profit margin. At present, FFS alumni are still practicing IPM principles on their coffee farm, furthermore, 62.5% on non FFS farmers are starting to practice IPM principles on their farm.

Kata Kunci : Kopi,Perilaku,Skill,Knowledge, FFS, coffee, knowledge, skill, behavior.


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.