Laporkan Masalah

Peran daya saing dalam strategi pengembangan wisata MICE :: Kasus Jakarta dan Bali

ABDULLAH, Iqbal Alan, Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.,Ph.D

2008 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Dalam perkembangannya dewasa ini, sektor MICE sedang menjadi prioritas bagi banyak negara di dunia karena kemampuannya dalam menyumbang pendapatan nasional. Meningkatnya permintaan pada segmen MICE ini pada akhirnya akan menimbulkan suatu iklim kompetisi antar destinasi, termasuk Indonesia. Namun demikian, melihat pada kondisi yang ada saat ini, MICE Indonesia masih tertinggal jauh dibandingkan dengan pesaing. Terkait dengan upaya menemukenali daya saing MICE, penelitian ini merupakan upaya melihat komponen atau indikator apa saja yang dapat mendukung peningkatan daya saing MICE di Indonesia. Kasus yang diambil adalah Bali dan Jakarta, dengan dasar pertimbangan bahwa, adalah kondisi kedua destinasi tersebut yang sudah sangat mapan sebagai tujuan MICE. Ada 10 (sepuluh) indikator yang digunakan sebagai parameter pengukuran efektifitas daya saing dengan bobot skor masing-masing yaitu : 1) peran pemerintah dan swasta (0,126); 2) jasa PCO dan SDM (0,124); 3)aksesibilitas (0.121); 4) transportasi (0.117); 5) teknologi informasi (0.099); 6) sarana dan prasarana (0.091); 7)daya tarik wisata dan citra destinasi (0.088); 8)kedekatan lokasi dengan pusat kota (urban) (0.082), 9) reputasi dalam penyelenggaraan MICE (0.079); dan 10) biaya keseluruhan (0.073). Dari kesepuluh indikator tersebut, dinilai oleh para pelaku industri bahwa indikator peran pemerintah dan swasta (yang didominasi oleh fungsi peran pemerintah sebagai regulator) merupakan indikator yang paling dominan pengaruhnya. Daya saing telah menjadi kebutuhan mutlak bagi destinasi di mana salah satu diantaranya adalah faktor kompetisi. Dalam kaitannya dengan pengembangan daya saing Bali dan Jakarta keduanya membutuhkan dukungan pemerintah, pengembangan kualitas pelayanan dalam aksesibilitas, Jasa PCO dan SDM yang handal, pelayanan transportasi lokal, penguatan citra sebagai destiniasi MICE, serta penciptaan kegiatan pada lokasi-lokasi yang dekat dengan pusat kota dan pusat-pusat bisnis. Secara spesifik, Bali belum memerlukan pengembangan dalam jangka pendek untuk indikator teknologi dan informasi, sementara Jakarta dalam jangka pendek belum memerlukan penguatan indikator citra destinasi sebagai tujuan MICE. Sementara itu, selain dua indikator tersebut, indikator-indikator lain sangat dibutuhkan baik oleh Jakarta maupun Bali.

In latest development, the MICE sector is becoming a top priority in numerous countries due to its significant contribution to the national income. The increase of demands on this particular segment would consequently bring about a good competition among destinations, including Indonesia. Nonetheless, reflecting on the current situation, the MICE Indonesia was still considered left behind by its competitors. In relation to find out the competitiveness in Indonesia. The studied cases were Bali and Jakarta, by considering that both destinations had been well established as MICE destinations. There were 10 (ten) indicators utilized as the parameters to measure the competitiveness effectivity, with the following allotment : 1) government and private sector roles (0.126; 2) PCO serivce and human resources (0.124); 3) accesibility (0.121); 4) transportation (0.117); 5) information technology (0.099); 6) facilities and infrastructure (0.091); 7)tourism attractions and destination image (0.088); 8) destination’s proximity to urban area (0.082); 9) MICE reputation (0.079); dan 10) overallcosts (0.073). Among the ten indicators, MICE industry perceived that the role of government and private sectors (dominated by the government’s role as the regulator) was the indicator with the most dominant influence. Competitiveness had become destination’s absolute necessity, where one of them was the competitive factor. In its relation to Bali’s and Jakarta’s competitiveness development, both areas required governmental supports, quality service development in term of accesibility, professional PCO service and human resources, local transportation service, image refinement as an MICE destination, and establishment at locations near to urban areas and business centers. Specifically, Bali did not require short term development related to information and technology indicator yet, while in short term, Jakarta did not yet require the refinement of destination image indicator as an MICE destination. In addition, in exclusion of the two mentioned indicators, both Bali and Jakarta truly demanded the other indicators.

Kata Kunci : Daya saing,Indikator,competitiveness, indicator


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.