Laporkan Masalah

Arahan penataan kawasan yang tanggap terhadap resapan air

RACHIM, Abd, Dr. Ir. Budi Prayitno, M.Eng

2008 | Tesis | S2 Teknik Arsitektur

Kawasan resapan adalah kawasan lindung yang mempunyai fungsi utama sebagai wilayah konservasi air dan regulator utama aliran air. Kawasan resapan biasanya merupakan wilayah konservasi hutan. Kecamatan Ngaglik di ditetapkan sebagai wilayah yang mempunyai fungsi utama sebagai kawasan resapan. Namun kebutuhan akan permukiman penduduk Yogyakarta telak mendesak hingga ke kecamatan ini, sehingga terjadi perubahan tata guna lahan. Perubahan tata guna lahan ini semakin cepat dengan adanya kampus Universitas Indonesi (UII) yang menjadi magnet utama kecamatan ini. Permukiman di sekitar kampus lebih padat dibandingkan di kawasan lain, oleh sebab itu, perkembangan pembangunan di kecamatan ini harus diperhatikan agar tidak merusak fungsi utama kawasan sebagai kawasan resapan. Penelitian ini bertujuan menemukan jalan tengah penyelesaian permasalahan antara mempertahankan fungsi kawasan sebagai kawasan resapan dan pemenuhan kebutuhan akan sarana dan fasilitas pendukung masyarakat, terutama kebutuhan akan permukiman. Metode penelitian dilakukan dengan menghitung besar selisih antara kemampuan potensial dan kondisi faktual yang ada pada lokasi penelitian. Selisih antara kondisi faktual dan potensial inilah menjadi dasar dalam pengambilan keputusan arahan desain pada wilayah penelitian. Temuan dari hasil analisis didapatkan bahwa telah terjadi penurunan kemampuan potensial infiltrasi lahan akibat adanya pemanfaatan permukiman. Dengan metode memperbesar infiltrasi pada setiap klaster ternyata dapat mengembalikan kemampuan potensial infiltrasi pada lahan yang berkurang akibat adanya pemanfaatan tersebut. Penelitian ini menyimpulkan bahwa wilayah yang berfungsi sebagai wilayah resapan, tetap dapat terus berkembang. Akan tetapi tentu dengan arahan-arahan pengembangan yang sesuai yang tetap mendukung fungsi kawasan sebagai kawasan resapan. Hasil penelitian ini berupa arahan penataan bangunan, pembuatan kolam resapan dan side-polder sungai, pembuatan sumur dan atau lubang resapan, penataan vegetasi dan penataan jaringan infrastruktur.

Background: Growth monitoring is one major program of nutrition improvement that emphasizes on efforts to maintain and improve nutrition status of underfives. Technically some errors often occur such as the use of inappropriate and non calibrated scale, errors in placing the scale and in reading the result of weighing. To improve knowledge, skills and compliance of cadres it is necessary to conduct training on growth monitoring standard of underfives in order that cadres can improve the capacity in evaluating growth and improve their effectiveness and efficiency in working at the integrated post (Posyandu). Objective: To identify the effect of training to the improvement of knowledge, skills and compliance of cadres in implementing growth monitoring standard of underfives at Bitung Municipality, Sulawesi Utara. Method: The study was a quasi experiment which used non-equivalent control group design. It was carried out at Bitung Barat and Aertembaga Health Center of Bitung Municipality, Sulawesi Utara to the two groups of cadres. The experiment group consisted of 44 cadres who got training twice, each was carried out a month before the evaluation on knowledge, skills and compliance. The control group consisted of 46 cadres that got modul of growth monitoring standard of underfives. Research instruments used were questionnaire/checklist of knowledge, skills and compliance. The result was analyzed using chi square. Result: Training improved knowledge and skills of cadres in implementing growth standard of underfives. This was indicated from average knowledge of the experiment group during pre test as much as 11.68 + 1.94, post-test 1 as much as 15.18 + 1.90, post-test 2 as much as 15.98 + 1.86. Average skills of experiment group during pre-test was 7.68 + 1.77, post-test 1 was 10.18 + 1.89, post-test 2 was 11.98 +1.55. Average compliance of the experiment group during pre-test was 11.68 + 1.94, post-test 1 was 15.18 + 1.38, post-test 2 was8.16 + 1.55. The result of statistical analysis in average difference was p=0.000 for knowledge, p=0.000 for skills and p=0.004 for compliance in post-test 2, showing that the improvement was significant (p<0.05). Conclusion: There was significant improvement in knowledge, skills and compliance of cadres who got training on the implementation of growth monitoring standard of underfives at Posyandu.

Kata Kunci : Kawasan resapan,Tata guna lahan,Permukiman, training, cadres, Posyandu, growth standard of underfives


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.