Laporkan Masalah

Evaluasi risiko runtuhan batuan di sebagian Dusun Kelir Kecamatan Girimulyo Kabupaten Kulonprogo

HASAN, Fahrul, Teuku Faisal Fathani, ST., MT., Ph.D

2008 | Tesis | S2 Teknik Sipil

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh teqadinya gempa bumi tanggal 27 Mei 2006 di daerah Yogyakarta. Akibat dari gempa bumi tersebutudalah terbentuknya rekahan-rekahan pada batuan dl puncak Gunung Sebentar dan Gunung Bambu Surat di Dusun Gunung Kelir Desa Jatimulyo Kecamatan Girimulyo yang pada perkembangannya dapat terlepas dari batuan induknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa tingkat bahaya runtuhan batuan di sebagian wilayah Dusun Gunung Kelir, menganalisa tingkat kerentanan penduduk dan penggunaan lahan yang berisike akibat bahaya runtuhan batuan, mragevaluasi tingkat risiko runtuhan batuan di sebagian wilayah Dusun Gunung Kelir dan menentukan solusi altematif dalam pengurangan risiko runtuhan batuan. Metode yang digunakan adalah survey langsung di lapangan dan analisis data dengan menggunakan software Geographic Injbrmation System (GIS). Penilaian risiko runtuhan batuan dilakukan dengan menggunakan persamaan yang riikelumkan oleh Bakmna^ di mana terdafKit kmnbinasi antera parameter bahaya seperti parameter lereng, parameter jarak dari kaki lereng, parameter kerapatan boulder dan parameter arah runtuhan batuan dengan elemen-elemen yang berisiko seperti ptuameter penggunaan ltdian dan kerapatan jiwa di suatu daerah. Hasil dari kombinasi tersebut kemudian dikaitkan dengan aspek kapasitas yang dimiliki oleh ma^arakat Dusun Gunung Kelir sebagai nilai pembagi. Klasifikasi tingkat risiko daerah ini dibagi menjadi lima yaitu: sangat tinggi, tinggi, menengah, rendah dan sangat rendah. Berdasarkan analisis streografis didapatkan arah runtuhan massa batuan pada Gunung Bambu Surat adalah N 102,5® E dan Gunung Sebentar adalah N 105° E. Pada lokasi penelitian terdapat 6% daerah yang memiliki kelas bahaya sangat tinggi, 7 % daerah memiliki kelas bahaya tinggi, 15 % memiliki kelas bahaya sedang, 13% memilUd kelas bahaya rendah dan 59% memiliki kelas btdiaya sangat rendah. Dari hasil kuesioner menunjukkan bahwa kapasitas ma^arakat dalam menghadapi bahaya runtuhan batuan adalah sangat tinggi yaitu 54%. Hasil perhitungan overlay semua parameter risiko menunjukkan b^wa terdapat 7 rumah yang ditempati oleh 22 Jiwa mempunyai risiko yang sangat tinggi, 4 rumah yang ditempati oleh 4 jiwa mempunyai risiko tinggi, 15 rumah yang ditempati oleh 54 jiwa mempunyai risiko sedang, 13 rumah yang ditempati oleh 51 jiwa memiliki risiko rendah dan tidak ada rumah yang memiliki risiko sangat rendah terhadap bahaya runtuhan batuaa Upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi risiko runtuhan batuan tersebut ada 4 hal yaitu, (1) dengan rekayasa fisik seperti membangun tanggul-tanggul pengaman di sepanjang jalur perkir^ arah runtuhan batuan, (2) dengan penanaman tumbuhan yang memiliki batang keras, (3) melakukan relokasi rumah penduduk yang ber^ pada daerah berisiko ting^ menengah ke tempat yang lebih aman (4) mengembangkan sistem peringatan dini di daerah tersebut dengan melibatkan masyarakat Kata Kunci: Risiko, Runtuhan Batuan, GIS, Massa Batuan

The 27 May 2006 Yogyakarta earthquake hitting Yogyakaita area turns out to be the background of this research. The earthquake resulted in rock cracking on the top of Mount Sebentar and Mount Bambu Surat of Gunung Kelir sub-village, Jatimulyo village, Girimulyo sub-district and during the development going on they are able to apart from their main rocks. The present research aims to analyze the hazard level of rockfall in some of Gunung Kelir sub-district, residents' susceptibility level and land use with rockfall hazard risk, to evaluate the hazard levels of rockfall in some of Gunung Kelir sub-district and to decide alternative solutions of mitigating the risk of rockfall. Field direct survey was used in this research, while data analysis was conducting through the use of Geographic Information System (GIS) software. Rock frilling risk assessment was used by using the Bakomas' equation, where combination between hazard parameters such as parameters of slopes, of distance sloop feet, of boulder density and the parameter of fall direction with risk elements such as parameters of land use and population density in the area. Results of the combination, then, are related to the capacity aspect that the Gunung Kelir sub villagers have as divider value. The risk levels of this area are classified into five: extremely high, high, moderate, low and extremely low. The stereographic analysis found that the direction of rock mass fall on the Mount Bambu Surat and Mount Sebentar were N 103,5° E and N 105° E, respectively. At the research site, it was found that 6,7,15,13,59% of the area were classified as tiie risk levels of extremely high, high, m^erate, low, extremely low, respectively. Results of questionnaires indicated that population capacity to encounter rockfall hazard was extremely high, i.e. 54%. Results of overlay on all risk parameters showed that 7 houses inhabited by 22 persons were classified in extremely high risk, 4 houses inhabited by 4 persons were classified in high risk, 15 houses inhabited by 54 persons were classified in moderate risk, 13 houses inhabited by 51 persons were classified in low risk and no house was classified in extremely low risk toward rockfall hazard. Four efforts can be conducted to mitigate rockfall risks, namely (1) physical engineering such as building safety berms along tiie predicted direction of rockfall, (2) cultivating plants with hard stems, (3) relocating resident houses of the high and moderate risk sites into safer area (4) developing early warning system at the sites through resident involvement. Keywords: Risk, Rockfall, GIS, Rock Mass XI

Kata Kunci : Risiko,Runtuhan batuan,GIS,Massa batuan

  1. S2-FTK-2008-Fahrul_Hasan-ABSTRACT.pdf  
  2. S2-FTK-2008-Fahrul_Hasan-BIBLIOGRAPHY.pdf  
  3. S2-FTK-2008-Fahrul_Hasan-TABLEOFCONTENT.pdf  
  4. S2-FTK-2008-Fahrul_Hasan-TITLE.pdf