Laporkan Masalah

Pengembangan sistem peringatan dini sebagai upaya pencegahan konflik di dalam pelaksanaan kesepakatan damai RI dan GAM di Helsinki 15 Agustus 2005

RONNIE, Delsy, Dr. Nanang Pamuji Mugasejati

2008 | Tesis | S2 Ketahanan Nasional

Penelitian ini mengambil fokus pada kasus Aceh paska perjanjian damai Helsinki dengan pendekatan pencegahan konflik melalui sistem peringatan dini. Peneliti menyajikan data-data kuantitatif untuk mengukur beberapa indikator yang berulang sehingga dapat dijakdikan dasar bagi pemantauan trend konflik.Beberapa indikator dijadikan dasar bagi prediksi konflik di masa depan dan beberapa data diambil dari berbagai sumber dan riset lapangan. Dengan beragam tinjauan dan analisa yang digunakan penelitian ini telah menjawab pertanyaan utama yaitu: “Bagaimana membangun sebuah peringatan dini di Aceh sebagai sebuah sistem di dalam pencegahan konflik kekerasan pasca kesepakatan damai di Helsinki?”. Dasar analisa dikembangkan melalui teori Ted Gur, Why Man Rebel? Untuk menjelaskan konteks konflik di Aceh; pendekatan peacebuilding yang konsep awalnya diutarakan oleh Boutros Ghali dalam Agenda for Peace, pendekatan Peace Building sebagai landasan utama di dalam menentukan indikator-indikator konflik paska penandatanganan kesepakatan damai. Jika kesepakatan damai merupakan poin di mana konflik diakhiri secara formal, proses penyelesaian terhadap akar penyebab merupakan hal penting dalam fase paska penyelesaian di Aceh; dan teori mediasi yang diambil dari kembangkan oleh K.J Holsti di dalam bukunya International Politics. untuk menentukan indikator-indikator yang dapat menghancurkan kesepakatan damai. Dari pendekatan teoritik tersebut dapat dibangun matrix indikator untuk melihat trend konflik yang ada di Aceh. Penyeleksian indikator-indikator sangatlah penting karena monitoring terhadap dinamika konflik akan berpusat pada indikator-indikator yang ada. Peringatan-peringatan yang akan muncul sangatlah didasarkan pada indikator-indikator yang telah ditetapkan. Di dalam daftar indikator akan ditentukan faktor-faktor struktural, akselerator, dan trigger.

The current research focused on peace in Aceh following the peace accord signed in Helsinki, on 15 August 2005, -- through early warning approach. The researcher used quantitative data to measure various indicators toward conflict prevention basis. Some indicators were used as the basis for future conflict prognosis and data were collected form various sources, including field research. Based on analysis from various approaches and methods summarized in this study, the current research aimed at answering the following main question: ” How to develop an early warning system in Aceh as a conflict prevention approach after peace accord signed in Helsinki?” Ted Gur’s theory, ”Why Man Rebel?” was examined in the local context to explain the conflict in Aceh, in addition to the peacebuilding approach developed by Boutros Ghali in Agenda for Peace. The above peacebuilding approach was utilized to identify indicators of conflict following the peace accord signed in Helsinki. This approach involves solving the roots of the problem as the main task in a post-conflict period. The third theory that was employed in the current research was the mediation theory by K.J. Holsti in International Politics. From the above three theoritical approaches, the researcher developed a matrix of indicators to identify the trend of conflict in Aceh. Selected indicators were used as a guideline to observe and monitor the conflict. The early warning signal will be reflected from these selected indicators. Inside indicators included structural, accelerator and trigger factors.

Kata Kunci : Early warning system,Peacebuilding,Indikator konflik,Faktor,faktor struktural,Akselerator dan pemicu (trigger),indicators of conflict, structural, accelerator and trigger factors


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.