Konflik individual dan sosial dalam teks Ar-Rajulul-Ladzi Amana, Chamamah Salam, dan Lailatun Ghaba Anhal-Qamar karya Najib Al-Kilani :: Analisis resepsi
FARHAH, Eva, Dr. Sangidu, M.Hum
2008 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaPenelitian ini menyajikan tanggapan (resepsi) pembaca dalam kaitannya dengan penyebab konflik individual dan sosial, kompleksitas konflik, dan bagaimana model penyelesaian konfliknya yang terdapat di dalam teks Ar-Rajulul-LadzÄ« Ä€mana, ChamÄmah SalÄm, dan Lailatun GhÄba ‘anhal-Qamar karya NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ«. Konflik-konflik yang terdapat di dalam tiga karya dan model penyelesaian konfliknya di atas sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut sehingga hasil laporan penelitian yang berupa tesis ini diharapkan dapat dijadikan suatu model penyelesaian konflik, baik yang terdapat di dalam karya-karya sastra Arab lainnya, karya-karya sastra selain karya sastra Arab maupun konflik-konflik yang terjadi di dalam realitas sosial empirik di mana saja. Hal tersebut dapat dimaklumi karena sastra merupakan wadah dan cermin dari apa yang dirasakan, dipikirkan, dan yang dilakukan oleh orang per orang (fakta individual) ataupun oleh suatu kelompok masyarakat (fakta sosial). Oleh karena itu, penelitian ini memanfaatkan teori resepsi dan metode kritis. Teori resepsi merupakan suatu disiplin yang memandang penting peran pembaca dalam memberikan makna teks sastra. Berbicara tentang resepsi atau cara seorang pembaca menerima dan memahami teks sastra dapat merujuk teori Iser. Ia mengatakan bahwa sebuah teks sastra dapat didefinisikan sebagai wilayah indeterminasi atau wilayah ketidakpastian (indeterminacy areas). Wilayah ketidakpastian merupakan “bagian-bagian kosong†atau “tempat-tempat terbuka†(leerstellen, open plek) yang “mengharuskan†pembaca untuk mengisinya. Hal ini disebabkan oleh sifat karya sastra yang mempunyai banyak tafsir (polyinterpretability). Dengan demikian, penyebab konflik individual dan sosial, kompleksitas konflik, dan bagaimana model penyelesaian konfliknya yang terdapat di dalam ketiga karya NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« di atas merupakan “bagian-bagian kosong†atau “tempat-tempat terbuka†sehingga pembaca perlu mengisinya dengan mendeskripsikan (asy-syarah), menganalisis (at-tachlÄ«l), dan menginterpretasikannya (at-tafsÄ«r) sehingga ketiga karya di atas menjadi teks terbaca (teks tersaji) dengan memanfaatkan metode kritik teks. Metode tersebut dapat dilakukan secara teknis lewat perunutan perkembangan tanggapan pembaca, baik lewat ulasan, kritik berdasarkan répertoire yang telah dimiliki oleh pembaca, komentar, terjemahan, analisis maupun penelitian-penelitian yang berupa skripsi, tesis, atau disertasi. Kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan ini adalah bahwa di dalam teks Ar-Rajulul-LadzÄ« Ä€mana, konflik individual antara Iryan (penganut Nasrani yang kemudian masuk Islam) dan Syamsi (biduwanita muslimah) terjadi karena adanya perbedaan dalam pegangan dan pandangan hidup masing-masing. Iryan lebih mementingkan kaya hati untuk mendekatkan diri pada Allah SWT, sedangkan Syamsi lebih mementingkan kaya harta yang dapat ia nikmati sepuas-puasnya. NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« menawarkan model penyelesaian konflik dengan pendekatan agamis, yaitu dengan memaafkan, memberikan dorongan dan kesempatan untuk merubah sikap hingga menjadi baik, dan terakhir, memperingatkan segala konsekuensi atas segala hal yang telah menjadi pilihannya. Sementara itu, di dalam ChamÄmah SalÄm dikemukakan bahwa konflik sosial antara pemilik perkebunan kapas (Haji ‘Abdul Wadud) dan para petani penggarap ladang kapasnya. Problematika yang sangat menonjol adalah ‘Abdul Wadud bertindak tidak adil, sewenang-wenang, dan membuat para petani menjadi miskin sehingga konflik semakin berkepanjangan. Sebagai penyelesaian akhir dari persoalan sosial ini tidak dapat diredam begitu saja, tetapi perlu dicari pendekatan yang tidak merugikan semua fihak. Karena itu, NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« menghadirkan pihak yang penuh kesadaran dan kerelaan menjadi penasihat dan mediator di antara dua pihak yang berkonflik. Cara dialogis dan cinta yang diberikan Sakinah sebagai isteri ke-2 Haji ‘Abdul Wadud sangat membantu proses penyelesaian konflik sosial yang tak kunjung reda. Adapun konflik sosial yang terdapat di dalam teks Lailatun GhÄba ‘anhal- Qamar disebabkan oleh adanya kematian dua warga desa tetangga dengan seorang majikan sebagai pembunuhnya yang berasal dari desa sebelah. Konflik merembet antara warga desa yang satu dengan warga desa yang lainnya (desa sebelah). Karena itu, NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« memposisikan tokoh utama yang tepat untuk menyelesaikan konflik yang terjadi dan konflik diselesaikan secara Islami. Tokoh utama yang dihadirkan oleh NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« adalah seorang dokter. Sosok dokter dalam teks Lailatun GhÄba ‘anhal-Qamar merupakan penggerak jalannya cerita dan sekaligus sebagai penyelesai secara Islami konflik sosial yang dihadapi oleh warga yang tinggal di dua desa yang bersebelahan. Penyelesaian secara Islami yang dimaksudkan adalah pada waktu menjelang fajar suara adzan telah dikumandangkan, semua warga yang berasal dari dua desa yang berkonflik bersama-sama melakukan shalat shubuh. Pada waktu setelah shalat shubuh inilah, dokter menyadarkan semua warga untuk introspeksi dan evaluasi diri, serta untuk menyejukkan hati sehingga semua warga yang sedang mengalami konflik sosial dapat diselesaikan.
The research presents the readers’ reception in relation with the causes of individual and social conflict, the complexity of the conflict, and the models of conflict settlement found in the texts entitled Ar-Rajulul-LadzÄ« Ä€mana, ChamÄmah SalÄm, and Lailatun GhÄba ‘anhal-Qamar written by NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ«. The conflicts found in the three works and the models of conflict settlement are very interesting to be analyzed further. Therefore, the results of the research, which is in the form of thesis, can be expected to be a model of conflict settlement, either that found in other Arabic works, other literary works outside Arabic literature, or the conflicts occurred in the reality of empiric social wherever it is. It can be understood because literature is a coordinating institution and the reflection of what is felt, thought, and done by individuals (individual facts) or by a certain group of society (social facts). Thus, the research applies reception theory and critical method. Reception theory is a discipline which takes a great importance on the role of the readers in defining the literary texts. Dealing with reception or the way someone accepts and understands literary text is referring to Iser’s theory. He stated that a literary text can be defined as indeterminacy areas. The indeterminacy areas are empty parts or open spaces (leerstellen, open plek) which require the readers to fill. This is due to the nature of literature which is poly interpretable. Therefore, the causes of individual and social conflict, the complexity of the conflict, and the models of conflict settlement found in the three works of NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« aforementioned are the empty parts or open spaces so that the readers need to fill them by describe (asy-syarah), analyze (at-tachlil), and interpret (at-tafsir) which will transform the three works aforementioned into readable text (served text) by using text criticism method. The method is conducted technically by tracing the development of readers’ reception, either through review, criticism based on the repertoire owned by the readers, comments, translations, analysis, or researches in the forms of graduating paper, thesis, or dissertation. The research concludes that in Ar-Rajulul-LadzÄ« Ä€mana text, individual conflict between Iryan (a Nasranian who became a Muslim) and Syamsi (a Muslim vocalist) occurred because of the differences in principles and their own visions. Iryan emphasizes on the richness of the heart to close himself to the God, whereas Syamsi emphasizes on the wealth which he can enjoy. NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« offers the model of conflict settlement in religious approach, which is by forgiveness, giving motivations and chances to change the bad attitudes into a good one, as well as notifying the consequences for all the choices he has taken. Meanwhile, in ChamÄmah SalÄm it is stated that the social conflict between the owner of the cotton plantation (Haji ‘Abdul Wadud) and the farmers who work on his plantation. The most dominant problem is the injustice and the arrogance performed by Haji ‘Abdul Wadud, which makes the farmers become poor and lengthen the conflict. As the final solution of the conflict, there must be an approach which does not harm anyone. Therefore, NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« presents a group full of consciousness and willingness to be advisor and mediators among the two parties xiii involved in the conflict. The dialogue and love offered by Sakinah, the second wife of Haji ‘Abdul Wadud help the settlement process of endless social conflict. Whereas, social conflict found in Lailatun GhÄba ‘anhal-Qamar is caused by the murder of two people in neighboring village by their employer lived in the other village. The conflict spreads among the people of the two villages. Therefore, NajÄ«b al-KÄ«lÄnÄ« places a proper main character to end the conflict in Islamic way. The main character presented by the author is a doctor. The profile of a doctor in Lailatun GhÄba ‘anhal-Qamar is a plot motivator as well as a mediator who ends the social conflict faced by the two neighboring villages in Islamic way. The Islamic settlement here refers to a moment in the dawn, when all the people from the two villages do their Shubuh prayers together after the azan was performed. At this particular moment, the doctor reminds them to do introspection and self-evaluation, as well as calm their hearts, so that the social conflict can be solved.
Kata Kunci : Konflik individual, Konflik sosial, Kompleksitas konflik, Model penyelesaian konflik, Teori resepsi, Metode kritis, Teknik deskripsi, individual conflict, social conflict, the complexity of the conflicts, models of conflict settlement, reception theory, c