Analisis efektivitas kebijakan moneter Bank Indonesia dengan metode penawaran-permintaan agregat tahun 2000-2006
DARNOTO, Drs. M. Edhie Purnawan, M.A
2008 | Tesis | S2 Magister Ekonomika PembangunanSejak tahun 2000, terjadi perubahan yang cukup penting dalam pengelolaan kebijakan moneter Indonesia yang ditandai dengan keluarnya Undang-undang Nomor 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia menggantikan Undang-undang Nomor 13 Tahun 1968 tentang Bank Sentral. Perubahan tersebut adalah pemberian independensi dan penetapan tujuan tunggal bagi Bank Indonesia. Maka sejak itu Indonesia dapat dikatakan telah menganut rezim inflation targeting karena berdasarkan undang-undang, Bank Indonesia memiliki kewajiban untuk menstabilkan nilai rupiah. Penelitian ini mencoba menganalisis efeftivitas penerapan inflation targeting di Indonesia. Dengan metode vector autoregressive, penelitian ini mengestimasi parameter struktural yang ada di Indonesia untuk kemudian dianalisis dengan metode permintaan-penawaran agregat Krause (2004). Dalam menerapkan metode tersebut, beberapa variabel digunakan yaitu variabilitas suku bunga real Indonesia, variabilitas inflasi eksternal, variabilitas pertumbuhan PDB real Indonesia, variabilitas inflasi Indonesia, dan beberapa variabel pengendali yaitu variabilitas inflasi dunia, variabilitas suku bunga pasar Jepang, dan variabilitas pertumbuhan PDB real Jepang. Data tersebut diperoleh dari International Financial Statistics dan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Dari analisis tersebut, diketahui bahwa Inflation targeting di Indonesia dapat dikatakan telah berhasil dalam mengendalikan shock permintaan dan meningkatkan preferensi kebijakan otoritas moneter namun dalam pelaksanaannya, inflation targeting di Indonesia ternyata juga banyak menemui hambatan sehingga kinerja perekonomian Indonesia tidak optimal. Walaupun kinerja sertifikat Bank Indonesia (SBI) semakin efisien dalam mengendalikan shock permintaan, Bank Indonesia ternyata tidak dapat sepenuhnya mengendalikan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK). Terdapat beberapa kendala internal yang perlu mendapat perhatian BI agar penerapan inflation targeting di Indonesia dapat lebih efektif.
Since 2000, there was a significant change in the management of Indonesia monetary policy with the release of Bank Indonesia Act (UU No. 23 Tahun 1999) in exchange for Central Bank Act (UU No. 13 Tahun 1968). The changes were giving independence and single goal to Bank Indonesia. Therefore, Indonesia was said to be in inflation targeting because based on the Bank Indonesia Act, Bank Indonesia had the obligation to stabilize rupiah value. This research strives to estimate the implementation of inflation targeting in Indonesia. Using vector autoregressive methode, this research estimates Indonesia structural parameter to be analized with aggregat supply-demand methode by Krause (2004). In implementing this methode, several variables used are Indonesia real interest rate variability, external inflation variability, Indonesia real GDP growth variability, Indonesia inflation variability, and several control variables like world inflation variability, Japan market interest rate variability, and Japan real GDP growth variability. This data was taken from Internasional Financial Statistics from International Monetary Fund and Indonesia Economic and Financial Statistics from Bank Indonesia. Based on the analisys, inflation targeting in Indonesia was proved success to control demand shock and to increase monetary authority preferences but in practice, inflation targeting in Indonesia met several barriers so that economic performance in Indonesia was not in optimal condition. Although the performance of Bank Indonesia certificate was more efficient in controlling demand shock, Bank Indonesia was in fact not able to control Consumer Price Index (CPI) inflation. There were several internal problems that BI had to handle seriously in order to implement inflation targeting effectively.
Kata Kunci : Inflation targeting,Kurva Taylor,Efficiency frontier