Laporkan Masalah

Siasat otonomi orang Naga di Desa Neglasari Tasikmalaya, Jawa Barat

BUJANG, Agus Salim, Dr. P.M. Laksono, M.A

2008 | Tesis | S2 Antropologi

Penetrasi negara/pasar/modal, teknologi modern dan agama Islam ke dalam kehidupan orang Naga di Tasikmalaya telah berlangsung lama sebelum lahirnya Indonesia. Tentu saja dapat mengakibatkan perubahan pada kehidupan sosial budaya mereka. Dengan demikian, mereka tidak lagi terisolir ataupun otonom. Namun, orang Naga dapat mengidentifikasi diri dalam proses perubahan itu dan bersiasat mengatur diri sendiri (otonomi) menghadapi penetrasi semua kekuatan eksternal tersebut. Penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan; bagaimana siasat otonomi orang Naga menghadapi penetrasi kekuatan eksternal tersebut dan bagaimana mereka mengkonstruksi identitas mereka dalam konteks negara bangsa Indonesia? Untuk menjawab pertanyaan ini data dikumpulkan dengan teknik wawancara mendalam dan pengamatan mengenai peristiwa atau kegiatan yang mereka lakukan berkaitan dengan masalah penelitian. Selain itu, penulis menelusuri dokumen untuk menemukan latar sejarah, peristiwa maupun publikasi penelitian sebelumnya mengenai orang Naga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penetrasi kekuatan negara, pariwisata, teknologi dan agama Islam tidak sampai melumpuhkan kesanggupan orang Naga untuk bertahan dan melawan. Siasat otonomi yang berakar pada adat istiadat memungkinkan mereka menjinakkan berbagai kekuatan eksternal tersebut. Adat istiadat, pola pemukiman, mitos asal usul dan makam leluhur tersedia sebagai bahan dasar konstruksi identitas mereka sebagai sebuah ‘masyarakat adat’. Identitas ini adalah wujud kesadaran dan sekaligus menjadi batas untuk membedakan diri dengan pihak di luar mereka, sambil mengidentifikasikan diri dengan komunitas tempatan lainnya yang identik. Identitas dan tuntutan pengakuan terhadapnya, tentu saja, masih dalam proses negosiasi dengan negara. Namun siasat otonomi yang dipraktikkan orang Naga kurang lebih menguatkan posisi mereka berhadapan dengan berbagai kekuatan eksternal di atas.

The penetrations of state/market/capital, modern technology and Islamic teachings into the life of Orang Naga in Tasikmalaya date back to the time even before the birth of Indonesia itself. This, of course, brings change to their sociocultural life and to some extent pulls it out of isolation and autonomy. However, Orang Naga are still able to identify themselves amongst the waves of change and contrive the politics of autonomy of their own to face the penetration of the external forces. The study seeks to answer the questions of ; how the politics of autonomy by Orang Naga to cope with the penetration of external forces is, and how the contruct their identity in the context of Indonesian state-nation. To answer these questions, I cololected research data through in-depth interview and observation of researchrelated events and activities of Orang Naga. In addition, I searched for documents to find historical background of events and previous publications about Orang Naga. The study concludes that the penetration of the forces of state, tourism, technology and Islamic teachings did not manage to prevent Orang Naga from defending and fighting back. The politics of autonomy rooted in their customs enabled them to overcome the external forces. Custom, pattern of settlement, myth of lineage and cemetry of forefathers are available and serve as the raw material for their identity construct as an masyarakat adat (indigenous people). The identity is the embodiment of their consciousness, becomes a line thet makes them distinct from outside world, and at same time, thet makes them identifiable with other identical communities. Their identity and demanded recognition are, of course, still in the negotiation process with the state. Still, the politics of autonomy employed by Orang Naga have to some extent strenghened their position before the multitude of external forces.

Kata Kunci : Negara,Siasat otonomi,Identitas,Masyarakat adat,Politics, Autonomy,Identity,Masyarakat Adat


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.