Laporkan Masalah

Pola-pola non voters (golput) dalam pilkada langsung Kota Yogyakarta tahun 2006 :: Studi kasus pemilihan walikota dan wakil di Kecamatan Gondokusuman

HIDAYAT, Said Nurul, Drs. Bambang Purwoko, MA

2008 | Tesis | S2 Ilmu Politik

Kepala Daerah yang sebelumnya dipilih secara tidak langsung oleh anggota parlemen daerah, sejak 1 Juni 2005 dipilih secara langsung oleh rakyat melalui proses Pilkada. Rakyat yang sebelumnya menjadi penonton, berubah menjadi pelaku dan penentu. Perubahan sistem demokrasi tersebut menimbulkan segudang optimisme dan pengharapan yang besar bagi rakyat. Dibalik harapan yang begitu besar ternyata tidak sedikit pula aksi pesimisme yang gencar bermunculan, tanpa terkecuali Pilkada langsung Kota Yogyakarta. Pilkada langsung Kota Yogyakarta mengalami beberapa kali penundaaan, salah satunya disebabkan hanya ada dua pasangan calon. Padahal jika dilihat dari prosentase dan perolehan suara dan jumlah kursi di parlemen, partai parlemen maupun partai non parlemen seharusnya dapat memunculkan lebih dari dua calon. Kurangnya minat elit politik dalam mendukung calon kepala daerah menstimulan masyarakat untuk tidak menggunakan hak pilihnya. Salah satu kecamatan tergolong ekstrim angka golputnya terdapat di Kecamatan Gondokusuman, dari 44.069 (100 %) pemilih, hanya 19.040 (43,20 %) menggunakan hak pilihnya. Sedangkan 25.029 (57,65 %) adalah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya. Basis pendukung kedua calon kepala daerah berimbang dan karakter heterogenitas masyarakat menstimulan dan bahkan memunculkan masyarakat untuk tidak memberikan hak suara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada empat kategorisasi pola-pola golput di Kecamatan Gondokusuman. Adapun keempat kategori tersebut adalah ; insiden, pragmatis, politis, ideologis. Keempat kategorisasi tersebut menelurkan masing-masing varian. Untuk Kategori Golput Insiden terbagi kedalam empat faktor ; rutinitas, inkonsisten jadwal, mahasiswa non lokal, lansia. Kategori pragmatis, pelaku golput merasa dapat kerugian secara ekonomi ikut Pilkada serta visi dan misi kandidat tidak refrensentatif menjadikan alasan tidak memilih, sedangkan kategori politis, kuatnya loyalitas pemilih terhadap calon walikota incumbent, partai politik dan protes persuatif. Sedangkan golput kategori ideologis, kedua kandidat bukan yang terbaik. Selain itu faktor psikologis dan sosiologis masyarakat juga mempengaruhi pemilih menjadi tidak memilih.

Selected previous regional leader indirectly by area parliament, since 1 June 2005 selected directly by people through process electroral. Previous people becoming audience, turn into determinant and excecutor. The change of democracy system, generate as of big expectation and optimism warehouse for people. Returned by hope which so big simply not a few pessimisms actions cupulas which intensively pop out. Exception regional leader election in Yogyakarta. Regional leader election in Yogyakarta go through postponement for several time. Mostly it is caused by more less two couple candidates. When it looks on the percentage of voting and parliament positions result, both party and parliament should make regional leader candidates. Decreasing of politicant’s interest to contribute regional candidates stimuly cititzen for do not use its suffrage. One of district in Gondokusuman there are is extremely voters account that is 19.040 (43,20 %) from 44.069 (100%) voters who use its suffrage. While 25.029 (57,65 %) was non voters. The research is conducted in qualitative descriptive method, with the technique of observation, data collecting in the form of interview and documention. Research result in field the are four models of non voters of Gondokusuman district ; incident, pragmatist, politis, and ideologis. Every category makes its variety ; routine, inconsist schedule, non local student, aging. Pragmatic category, non voters have foll economic loss to follow regional leader election as well as candidats vision and mission not representative to becoming based to choose, while politicaly category caused loyality stringer to incumbent candidat, political party and persuatif protest. While ideologis non voters category, candidat not is the best. Beside that citizen psychologist and sociologist factor also influence voters as non voters.

Kata Kunci : Pilkada langsung,Non voters,Politis, Non voters, Direct Pilkada, Politicaly


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.